Oleh: husnun | April 4, 2008

makalah seminar profesionalisme guru

Menulis Artikel di Media Massa

Oleh : Husnun N Djuraid *

Media cetak di Indonesia mengalami perkembangan yang pesat dalam beberapa tahun terakhir ini, terutama sejak pemerintah membuka kran kebebasan untuk menerbitkan media cetak. Kebijakan pemerintah pasca-reformasi yang menghapus SIUPP (Surat IJin Penerbitan Pers) menjadi pemicu kebebasan pers di Indonesia. Meskipun dalam perkembangannya, media cetak nasional masih dikuasai oleh dua kelompok besar (Grup Jawa Pos dan Kompas). Dua konglomerat pers ini mengusai bisnis media cetak di Indonenesia mulai dari hulu sampai hilir. Meskipun demikian masih ada beberapa media cetak lain yang mampu bertahan, meskipun tidak sebesar dua kelompok tersebut.

Era otonomi daerah yang dimulai sekitar tahun 2000, membuka era baru perkembangan media cetak. Sama dengan otonomi daerah – yang mulai menghilangkan ketergantungan pada pusat – maka perkembangan media cetak saat ini justru beralih ke daerah. Media cetak daerah (community newspapper) berkembang dengan pesat karena mengangkat isu kedaerahan yang tidak bisa dilakukan media nasional. Kebanggaan terhadap daerah menjadi salah satu pendorong perkembangan media cetak di daerah.

Melihat perkembangan media cetak yang begitu pesat, memberi peluang kepada masyarakat untuk ikut terlibat di dalamnya melalui penulisan artikel. Hampir semua media cetak, baik pusat maupun daerah, memberi ruang kepada masyarakat untuk menyampaikan pendapatnya melalui opini tertulis. Topik-topik aktual di daerah menjadi bahasan menarik untuk ditulis sebagai artikel. Masalah politik (lokal), pembangunan, lingkungan hidup, pemberantasan korupsi dan masalah-masalah sosial menjadi isu menarik di daerah.

Menulis Artikel

Artikel adalah sebuah karangan prosa di media massa yang membahas pokok persoalan secara lugas untuk menyampaikan gagasan dan fakta dengan tujuan meyakinkan, mengajak dan menghibur pembaca. Penulisan itu harus dilandasi pengetahuan yang memadai mengenai sebuah topic yang diangkat dengan pembahasan yang kritis. Landasan teori sesuai dengan disiplin ilmu akan membuat tulisan semakin menarik dan berbobot. Perkembangan sosial ekonomi yang cepat memberi peluang munculnya berbagai topik yang bisa ditulis menjadi artikel. Sebenarnya tidak ada alasan tidak bisa menulis artikel karena tidak ada topik.

Yang jadi masalah sebenarnya, bagi penulis pemula adalah, kapan mulai menulis. Ide sudah banyak, tapi terbentur pada masalah kapan memulainya. Ide tidak akan habis, selama masih punya keinginan untuk membaca. Karena dengan membaca kita punya banyak keuntungan, mendapat inspirasi, bisa menyontoh, menjadi motivasi untuk menulis. Seorang penulis yang baik sama dengan pembaca yang baik. Dengan membaca akan menambah wawasan untuk memperkaya bahan tulisan. Kalau ingin menjadi penulis, tahap awal adalah menjadi pembaca. Semakin banyak membaca semakin baik untuk bekal menulis. Jangan berhenti membaca agar kita bisa mendapat banyak pengetahuan. Sumbernya bisa dari buku, jurnal ilmiah, majalah, koran atau internet. Sumber pengetahuan ada di mana-mana dan akan selalu bekembang dan tak akan ada habisnya.

Di dunia pendidikan, banyak materi yang bisa ditulis sebagai artikel, karena dinamisasi perkembangannya. Sejalan dengan itu, berbagai masalah pendidikan muncul, baik yang bersifat kebijakan maupun masalah teknis kependidikan. Dengan latar belakang pendidikan tinggi dan tingkat intelektual yang lebih baik, seorang guru bisa membuat telaah kritis tentang masalah pendidikan. Mungkin bukan masalah kebijakan pendidikan secara nasional – yang tentu saja banyak masalahnya – tapi peristiwa keseharian di lingkungan kerjanya. Misalnya, fasilitas penunjang pendidikan, kondisi sosial ekonomi orang tua siswa, pengaruh lingkungan terhadap semangat belajar siswa dan banyak topik yang lain.

‘’Memaksakan’’ Ide ke Pikiran Orang Lain

1. Ide yang baik. Ide atau gagasan adalah rancangan yang tersusun dalam pikiran. Ide yang baik ditentukan oleh

- Orisinalitas : gagasan, pemikiran sendiri, bukan jiplakan orang lain

- Berdampak : Menggugah atau mempengaruhi kesadaran dan pendapat umum karena kebenaran dalam tulisan yang dipercaya

- Unik : lain daripada yang lain

- Baru : belum pernah terjadi sebelumnya

- Manfaat : hasil tulisan bisa dirasakan manfaatnya oleh pembaca

2. Tulisan yang berbobot

- Informatif

- Benar

- Akurat

- Objektif

- Istimewa

Sumber tulisan berbobot : bacaan, wawancara, liputan, penelitian

3. Piawai Menyusun Tulisan

- Motivasi : aspirasi, popular, meninggalkan warisan

- Syarat : tertarik, cinta bahasa, dapat dipercaya, kritis, gigih, bersahabat

- Tujuan : Informasi, memperluas wawasan, aspirasai, control sosial

4. Mencapai Tujuan

- Eksposisi : menjelaskan, membeberkan, menerangkan untuk memberitahu

atau memberi informasi mengenai objek tertentu. Dampaknya, pandangan

atau pengetahuan pembaca bertambah luas

- Argumentasi : meyakinkan orang lain dengan bukti atau alasan yang kuat

untuk membuktikan suatu kebenaran

- Deskripsi : menggambarkan, memaparkan, menjelaskan dengan kata-kata

secara jelas dan rinci. Tujuannya, menyajikan suatu objek atau peristiwa

sehingga pembaca seolah-olah melihat, mendengar dan merasakan sendiri

hal itu

- Narasi : menuturkan, menceritakan atau mengisahkan suatu peristiwa

Tulislah sekarang

Setiap kali membaca tulisan di media cetak, akan muncul dorongan : ‘’sebenarnya saya bisa menulis artikel seperti itu.’’ Kalau sudah muncul dorongan ini, sebenarnya kita sudah mulai berjalan menuju tahap untuk menulis. Sudah ada modal untuk mulai menulis. Hanya saja yang menjadi masalah adalah, kapan harus mulai menulis. Ide sudah ada, keinginan sudah ada, tapi begitu menghadapi keyboard computer atau notebook, ide-ide kemudian hilang begitu saja. Apa yang ada di benak, tiba-tiba melayang. Keinginan yang menggebu untuk menulis, tiba-tiba terbang entah ke mana. Semuanya jadi buntu.

Ketika menghadapi masalah seperti ini, jangan berhenti dan meninggalkan computer atau mesin ketik. Cobalah lagi dengan tenang, mengingat-ingat apa yang sebelumnya ada dalam pikiran. Ada cara sederhana yang pernah saya alami saat belajar menulis. Buatlah catatan tentang masalah yang akan kita tulis. Misalnya, topic utama ditambah dengan sub topic untuk dikembangkan. Coretan-coretan di kertas kecil atau di agenda ini bisa menjadi pemandu agar ide-ide yang sudah ada tidak menghilang.

Format Artikel

Perkembangan media cetak yang begitu cepat dan persaingan dengan media lain yang begitu pesat, membuat pengelola media cetak menyajikan berita dan artikel lebih singkat dan padat. Koran besar seperti Jawa Pos dan Kompas memberi halaman khusus artikel dalam format yang tidak terlalu panjang. Kompas yang biasanya memuat artikel yang panjang – bahkan sampai bersambung ke halaman lain – kini mulai berubah dengan bentuk yang lebih ringkas dan padat. Kondisi ini memberi kesempatan kepada para penulis pemula yang biasanya menghadapi hambatan untuk menulis panjang. Selain itu, pembaca tidak harus terlalu lama menghabiskan waktu untuk membaca. Tulisan menjadi padat dan cepat dibaca sehingga pesan yang disampaikan bisa cepat sampai ke pembaca.

Masalah aktual

Untuk menulis artikel, kita harus memperhatikan selera dan keinginan orang lain. Memang artikel merupakan hasil karya intelektual pribadi, tapi harus tetap memperhatikan perkembangan masyarakat. Masalah aktual yang terjadi di masyarakat, yang menjadi public opinion, menjadi bahan penulisan artikel yang hangat. Dengan perkembangan masyarakat yang cepat, maka bahan-bahan untuk penulisan artikel tidak akan habis.

Selain bahan dari masalah-masalah aktual di masyarakat, landasan teori dari latar belakang ilmu yang kita juga menjadi bahan tulisan. Paduan antara masalah aktual dengan kemampuan intelektual akan menjadi tulisan yang sangat menarik. Meskipun demikian, landasan teori jangan terlalu mendominasi, karena akan menjadikan tulisan kurang menarik. Teori-teori ilmu itu umumnya tidak menarik dan sulit diterima masyarakat umum, sehingga volumenya tidak terlalu banyak. Hanya sebagai landasan teori. Landasan itu dikembangkan dengan kemampuan merangkai kata-kata menjadi bahasa yang menarik.

Kirim Artikel

Begitu bahan-bahan sudah terkumpul, segera tulis. Darimana mulai menulisnya ? Cari bagian yang paling menarik dari beberapa coretan yang sudah dibuat. Setelah tulisan selesai, jangan dicetak dulu, periksa lagi dan baca ulang untuk melihat adanya kesalahan tulis atau huruf. Membaca berulang-ulang akan memunculkan inspirasi untuk melakukan perbaikan. Selain membetulkan kesalahan huruf, bisa saja muncul ide untuk menambah kalimat atau menguranginya agar enak dibaca. Bila perlu diskusikan dengan orang lain ; teman, suami, istri dan lainnya. Tapi kalau tidak, bisa langsung dikirim ke media yang dituju.

Kemana mengirimnya : Redaktur opini atau artikel melalui surat, faks atau email. Cara yang terakhir ini yang paling cepat dan praktis. Kita perlu mengenal, minimal tahu namanya, redaktur opini berbagai surat kabar. Setelah mengirim artikel, kita berkomunikasi, lewat email, telepon atau tatap muka. Kalau artikel kita tidak dimuat, bisa ditanyakan di mana letak kekurangannya. Kalau sudah diperbaiki, apakah masih bisa dikirim lagi ? Ini yang harus dikomunikasikan dengan redaktur opini. Tapi kalau melihat pergeseran permasalahan di masyarakat yang begitu cepat, mungkin sebaiknya membuat topik baru. Jangan putus asa kalau artikel kita ditolak. Coba lagi….coba lagi dan coba lagi. Selamat Menulis.

*) Husnun N Djuraid

- Pimpinan Redaksi Malang Post

- Redaktur Grup Jawa Post

- Dosen Jurnalistik Fisip dan FKIP UMM

- Dosen Media Relations Fisip Unmer

- Makalah disampaikan pada Semiloka Profesionalisme Guru di Gedung DPRD Kabupaten Malang, 15 Maret 2008


Tanggapan

  1. matur nuwun mas, pengetahuannya
    saya mau tanya mas husnun. Sebenarnya kapan sih batas pemuatan artikel setelah pengiriman? apakah benar jika ada pengertian kalau batas pemuatan artikel setelah dikirimkan tersebut hanya 2 minggu, setelah itu jika artikel tetap belum dimuat berarti artikel (kita) dapat dikatakan tidak akan dimuat. kemudian apakah setiap media akan mengembalikan artikel2 kiriman yang ditolak, ataukah hanya media-media tertentu? terus jika dari media tidak ada pemveritahuan setelah 2 minggu, bolehkah artikel kita dikirimkan pada media yang lain? Matur nuwun mas….

  2. Masing-masing media punya policy sendiri soal artikel. Harusnya artikel itu memiliki newspect, punya kaitan dengan isu yang sedang aktual saat itu. Perkembangan berita berjalan sangat cepat, silih berganti. Tapi ada isu yang berkembang sampai berminggu-minggu. Redaktur opini akan mengutamakan artikel yang ada relevansinya dengan isu yang sedang hangat. Kalau setelah dua minggu tidak dimuat, bisa saja diambil, tapi harus minta kepada redakturnya. Kalau sudah ada lampu hijau, Anda bisa kirim ke media lain. Komunikasi dengan redaktur opini sangat penting, paling tidak kita bisa tahu, kalau tidak dimuat itu alasannya apa, kekurangannya apa. Ok, jangan kapok menulis. Alamat sampean di mana ? Sukses selalu

  3. 11:33:01 AM: http://sanggarpenulisan.wordpress.com/2008/09/12/ibsn-gila-membaca-dan-menulis-1/
    11:33:10 AM: http://sanggarpenulisan.wordpress.com/2008/09/12/ibsn-gila-membaca-dan-menulis-2/


Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.