Banyak cara dilakukan oleh artis untuk mendongkrak popularitasnya. Segala cara digunakan agar popularitasnya bisa tetap terjaga.Saat popularitasnya mulai terancam, dibuatlah bermacam sensasi agar mendapat liputan yang luas dari media. Mulai soal isu kawin cerai sampai tindakan amoral. Tujuannya, agar wajahnya tetap disorot kamera TV dan meda cetak. Para artis itu meyakini dengan liputan yang luas, namanya tetap popular. Dampaknya, job manggung terus mengalir atau kontrak suting tidak terhenti.
Masyarakat sudah memiliki persepsi tersendiri terhadap perilaku artis – yang kemudian mendapat liputan yang luas dari media. ‘’Ah, paling-paling hanya mencari popularitas saat namanya mulai hilang dari benak penggemarnya,’’ begitu gumam masyarakat menyaksikan tayangan di layer kaca tentang seorang artis yang menggugat cerai pasangannya. Ada yang berhasil tapi ada juga yang gagal. Artinya, isu kawin cerai yang dilansir media itu mampu menghasilkan kontrak sinetron baru atau tawaran manggung.
Banyak artis yang berusaha sekuat tenaga untuk mendongkrak popularitasnya, tapi tak kunjung sampai. Dibuatlah isu bahwa artis itu sedang berpacaran dengan artis lain. Isu terus berkembang sampai keduanya naik ke pelaminan. Dalam episode itu kedua artis itu sudah mendapat popularitas yang diimpikan. Tapi dasar manusia, popularitas itu dirasakan masih kurang, dia ingin mendapat yang lebih tinggi lagi. Tawaran manggung atau kontrak di TV sudah di tangan, tapi masih kurang.
Isu baru pun digagas. Keduanya berencana cerai, karena sang suami tidak tahan dengan perilaku istrinya yang liar di luar kendali sang suami. Isu itu ternyata berubah menjadi fakta, keduanya memutuskan mengakhiri rumah tangganya setelah beberapa kali sidang di pengadilan agama. Dengan status janda, sang artis bebas melakukan apa saja – dalihnya ekspresi berkesenian. Jujur saja, setelah perceraian itu popularitas artis perempuan itu semakin terkerek. Shownya selalu dipadati penonton. Beberapa stasiun TV antre menayangkan penampilannya yang mengumbar birahi.
Lagi-lagi manusia tidak puas dengan dunia yang direngkuhnya. Dia ingin lebih tinggi dan lebih tinggi lagi. Tidak cukup hanya bernyanyi sambil menggoyangkan pinggul, tapi sudah lebih dari itu. Gerakan senggama pun dipraktikkan di atas panggung. Saat diprotes banyak orang – yang dilanjutkan dengan cekal di beberapa daerah - dia berdalih bahwa itu ekspresi dari kesenian yang indah.
Tapi, tak semua artis menuai sukses dengan sensasinya. Sudah berusaha tampil maksimal di layar kaca soal rencana gugatannya kepada sang pasangan, eh popularitas yang diharapkan malah semakin menjauh. Harapan bahwa masyarakat bersimpati kepadanya tidak kunjung datang, justru antipati yang didapat. Rumah tangga terlanjur berantakan, dijauhi penggemar dan kontrak yang diimpikan terbang tak ketahuan rimbanya. Kini, kita tidak tahu ke mana artis itu.
Sebagai profesional, seorang artis seharusnya mengandalkan kemampuannya yang mumpuni dalam berkesenian. Dengan demikian, masyarakat akan mendapat sajian kesenian yang bermutu yang akan selalu diingat. Hasil karya seni yang baik akan selalu dikenang sepanjang masa. Artis-artis besar selalu dikenang sepanjang masa, meskipun yang bersangkutan sudah meninggal dunia. Kidung karya Ki Narto Sabdho, musik klasik karya Mozart atau drama karya Shakespere sampai sekarang masih menjadi sajian yang berkelas.
Di masa kini, kelompok musik Slank menjadi salah satu kelompok musik yang karyanya bisa dinikmati dalam kurun waktu lama. Itu karena Slank bermusik dengan hati. Dengan hatinya Slank membuat lirik yang berasal dari kondisi riil di sekitarnya, bukan lagu yang berasal dari awang-awang. Popularitas Slank akan lebih lama dibanding artis instan lain, karena Slank mendongkrak popularitasnya dengan kerja keras dan karya seni yang bermutu.
Saat melansir lagu Gosip Jalanan, Kaka dkk. Mendapat promosi gratis dari anggota dewan yang kebakaran jenggot dengan lirik lagu itu. Para wakil rakyat itu berniat menggugat Slank karena lagunya dianggap mencemarkan mereka. Tapi gugatan itu urung dilayangkan karena lagu Slank mendapat pembenaran karena satu anggota dewan Al Amin Nasution ketangkap basah menerima suap. Yang diterima Amin itu hanya sebagian kecil dan Amin hanya satu orang diantara sekian banyak yang melakukan praktik serupa.
Gonjang-ganjing itu membuat lagu Slank semakin banyak dicari penggemarnya. Slank tidak perlu melakukan promo tur atau membuat video klipnya. Anggota dewan, terutama Al Amin sudah menjadi model video klip yang sangat baik bagi Slank. Slank telah mendapat promosi untuk mempertahankan popularitasnya dengan cara yang elegan sekaligus murah. Tidak perlu sensasi kawin cerai, tidak perlu mengumbar birahi, popularitas itu datang sendiri.

lebih ditingkat kanke
Oleh: rickyradius on Oktober 20, 2009
at 5:59 am