Oleh: husnun | Juli 15, 2008

Pengorbanan Mendapatkan Sekolah

Back to School

BEGITU keluar dari ruang kepala sekolah, seorang ibu menundukkan wajahnya. Hatinya bergolak, bingung, tak tahu harus berbuat apa. Dia dihadapkan pada pilihan yang sulit, makan atau menyekolahkan anaknya. Anaknya yang baru lulus SD, ingin melanjutkan sekolah ke SMP. Lantaran nilai ujian negaranya lumayan bagus, anaknya diterima di dua SMP Negeri. Tapi niat anaknya untuk bersekolah di SMP Negeri harus dikubur dengan paksa, karena dia tidak mampu memenuhi kewajiban membayar sejumlah uang yang kalau dihitung tak kurang dari Rp 1 juta.

Selain itu, lokasi sekolah negeri itu amat jauh dengan rumahnya yang tersembunyi diantara perkampungan kumuh Kota Malang. Kalau toh dipaksakan, dalam hitungannya, dia tidak akan mampu memberi sangu kepada Si Tole setiap hari. Maka pilihannya jatuh pada SMP Ma’arif yang lokasinya tak jauh dari rumahnya, sekitar 3 Km dan bisa ditempuh dengan jalan kaki. Di sekolah itu dia langsung diberi aba-aba, harus menyediakan sekitar Rp 500 ribu.

Dibanding dengan sekolah negeri, bayaran itu relatif murah. Meskipun murah tak pelak wanita itu kebingungan, karena hari itu juga dia harus membayar ke4 sekolah. Di tangannya ada beberapa lembar puluhan ribu. Uang itu sudah ‘’dialokasikan’’ untuk makan dia dan dua anaknya, beli Elpiji dan beras. Tentu saja dia bingung, uang di tangannya hanya cukup untuk makan hari itu, sementara dalam waktu yang sama dia harus memenuhi kewajiban agar anaknya bisa sekolah. Sebuah pergulatan antara perut dan idealisme.

Meskipun miskin, dia punya tekad untuk menyekolahkan anaknya. Suaminya bekerja di luar kota sebagai penjual kerupuk yang setiap bulan mengirimnya uang tak lebih dari Rp 300 ribu. Selain mengandalkan kiriman suaminya, dia juga kerja serabutan untuk menyukupi kebutuhan rumah tangganya. Belum terpikirkan apa yang akan dilakukan esok, saat anaknya mulai sekolah di SMP. Ketika banyak orang tau menyerbut minimarket, supermarket sampai hypermarket untuk mencari kebutuhan sekolah anaknya dalam program diskon bertajuk back to school, dia masih termangu. Tidak tahu apa yang akan dilakukan nanti. Perempuan itu adalah potret nyata masyarakat kita.

Bisa jadi dia lebih beruntung dibanding orang tua yang lain, karena dia masih punya keinginan untuk menjadikan anaknya bisa sekolah lebih tinggi. Lebih banyak orang tua yang pasrah dengan nasib, tak punya uang yang tak usah neko-neko menyekolahkan anaknya, meskipun anaknya cukup pandai. Tak usah berangan-angan mendapat bea siswa atau sejenisnya.

Ternyata, masih banyak orang di sekitar kita yang kesusahan, bahkan untuk memenuhi kebutuhan hidup dengan standar yang paling rendah. Betapa bingungnya ibu itu kesulitan mendapatkan uang Rp 500 ribu untuk membayar uang pangkal sekolah anaknya. Masih banyak orang tua yang lain yang sejenis, bahkan hidupnya lebih sulit. Rp 500 ribu itu barang mewah, mahal dan sulit dijangkau. Beruntung dia dapat dispensasi untuk mencicil, entah sampai berapa kali, mungkin sampai anaknya lulus dari sekolah itu.

Bandingkan dengan orang lain yang dengan mudah mengobral uang jutaan bahkan miliaran rupiah. Berapa uang dihamburkan para politisi untuk mengejar kursi kepala daerah : gubernur, wali kota atau bupati. Angkanya bisa ratusan miliar. Uang liar itu mengalir ke mana-mana, sebagian bisa menghidupkan perekonomian rakyat melalui usaha kecil. Sebagian lagi mengalir ke kantong politisi di atasnya untuk menebus rekomendasi, sebagian lagi mengalir ke kantong tim sukses. Inilah tim paling sukses, karena yang didukung belum tentu sukses, tapi timmua sudah sukses duluan. Ada juga yang masuk ke kantong rakyat kecil dalam bentuk sangu dua puluh lima ribuan untuk bekal ikut kampanye.

Para peserta kampanye itu selalu sesumbar kalau dana pendukungnya sangat besar, uangnya tidak berseri, saking banyaknya. Itu adalah trik menarik simpati dan menyiutkan nyali lawan. Tapi kenapa uang itu tidak ada yang mengalir dalam bentuk derma membantu orang-orang miskin yang kesulitan menyekolahkan anaknya. Padahal, kalau para calon itu mau sedikit loman membantu orang-orang miskin, mereka akan mendapat simpati dari si miskin maupun orang lain. Mereka selalu berjanji : ‘’Kalau saya jadi kepala daerah, sekolah gratis, kesehatan gratis, pelaku ekonomi lemah dibantu modal, pokoknya gemah ripah loh jinawi.’’ Tapi itu nanti, kalau sudah terpilih. Kalau sesudah terpilih ingat atau tidak, wallahu a’alam bishawab.


Tanggapan

  1. Betul, sebagai anak Pensiunan AL saya juga sering merasakan itu kalau sudah kenaikan atau kelulusan sekolah, Uang untuk sekolah harus selalu ada dalam bentuk apapun.

    Mungkin kalau ada pemimpin yang tidak serakah sama uang kita akan sejahtera.


Beri tanggapan

Your response:

Kategori