AYAT Tuhan yang tersirat berserakan di mana-mana, di seluruh penjuru bumi. Salah satunya ada di rumah sakit. Perhatikan dengan seksama, orang-orang yang hilir mudik di lorong, di bangsal, di ruang administrasi dan pelayanan rumah sakit, wajahnya memendam sesuatu. Apalagi kalau kita lihat di loket kasir, tampak wajah-wajah memendam beban yang sangat berat. Di satu sisi dia bahagia, karena keluarganya sudah sembuh dan pulang kembali ke rumah.
Di sisi lain, dia harus merogoh kocek yang sangat dalam untuk membayar biaya perawatan. Bahagia yang bercampur dengan kesedihan menyesakkan dada dan memancar di wajah. Mayoritas orang yang berkunjung ke rumah sakit didera kesedihan. Bahkan orang-orang yang bekerja di rumah sakit pun selalu menampakkan wajah muram. Datanglah ke rumah sakit, rasanya sulit mendapat sesungging senyum dari para pengelolanya. Seakan-akan ada doktrin bahwa mulai direktur utama sampai petugas cleaning service harus bisa menekuk wajah sesangar mungkin. Kalau bicara harus ketus, bila perlu membentak dengan penuh amarah. Mungkin ini terjadi karena kesalahan menerjemahkan kata rumah sakit yang berasal dari kata hospital.
Seharusnya, rumah sakit tidak sekedar hospital, tapi lebih pada hospitality, keramahan, kenyamanan. Karena, orang-orang yang datang ke sana ingin mendapat kesembuhan. Mereka perlu mendapat pelayanan yang baik sejak masuk sampai pulang. Kesembuhan bukan hanya karena obat yang berikan oleh dokter – yang harganya selangit itu – tapi juga oleh faktor lain. Suasana yang nyaman yang menyebabkan jiwa menjadi tenang, bisa menjadi penyembuh selain obat.
Kenapa rumah sakit tidak bisa memberikan pelayanan yang ramah dan akrab, yang hospitality, seperti di hotel, di pesawat terbang atau di kantor-kantor perusahaan swasta ? Dulu banyak yang berkata, yang memberi layanan tanpa senyum itu hanya rumah sakit pemerintah. Ah, ternyata tidak juga. Rumah sakit swasta pun tak kalah galaknya. Bahkan bukan hanya tidak ramah dan galak, tapi sampai memenjarakan pasiennya.
Sesungguhnya Tuhan menjadikan rumah sakit sebagai salah satu ‘’ayat’’ yang bisa dijadikan pelajaran. Banyak orang yang datang ke rumah sakit berjuang antara hidup dan mati. Ada yang datang dalam keadaan sakit, pulang sudah sehat. Tak sedikit yang datang dalam keadaan sakit pulang tinggal nama. Gusti Allah mengatakan, jika ajal itu datang, tidak ada yang bisa mengakhirkan atau menyegerakan.
Kita tidak bisa menunda kematian, sebaliknya kita juga tidak bisa minta segera mati, karena tak kuat menahan derita hidup. Kalau Allah berkehendak, tak ada satupun yang bisa mengalangi. Rumah sakit juga memberi pelajaran, betapa lemahnya manusia. Manusia yang disebut dalam surat Attin sebagai sebaik-baik mahluk, ternyata sesungguhnya mahluk yang lemah.
Raganya yang besar, ternyata tidak mampu melawan mahluk lain yang lebih kecil. Nyamuk aides aigipty yang besarnya hanya setitik itu kini membuat banyak orang harus tergolek lemah di bangsal perawatan. Kalau yang beruntung bisa tidur di kamar VIP seperti hotel, yang tidak harus bisa menerima perlakuan tidur di bangsal seperti ikan pindang yang dijejer.
Hari-hari terakhir ini banyak rumah sakit yang dipadati orang sakit hanya karena gigitan hewan yang kecil. Masih ada mahluk yang lebih kecil yang lebih membahayakan, yang lebih mematikan. Jangan dikiria udara yang kita hirup ini bersih. Jangan dikira makanan yang kita santap tidak mengandung penyakit. Ribuan bahkan jutaan virus yang tak terlihat mata masuk ke dalam tubuh kita melalui udara atau makanan.
Kalau tubuh kita kuat, virus yang masuk itu tak menimbulkan masalah. Tapi tak sedikit orang memiliki tubuh yang rentan, kena hujan sedikit saja sudah flu dan untuk menyembuhkan harus ke dokter dan obat. Ada virus yang sekedar membuat nggreges, tapi tak sedikit yang sangat berbahaya dan mematikan karena belum ada obat penangkalnya.
Dari rumah sakit – dan orang sakit – kita mendapat ibrah yang luar biasa. Sebagus apapun, semewah apapun dan seramah apapun pelayanan di rumah sakit, tetap tidak enak kalau dalam keadaan sakit. Lebih baik tidur di rumah sendiri berkasur kapuk keras, tapi badan sehat. Dulu di SD, kita mendapat pelajaran, mencegah lebih baik dibanding mengobati. Kanjeng Nabi Muhammad mengingatkan, jagalah sehatmua sebelum sakitmu. Sehat itu mahal, tapi lebih mahal sakit.
Untuk sehat, kalau kita mau, tidak harus mengeluarkan uang, bangun subuh setelah itu jalan kaki mengelilingi kampung. Keringat gembrobyos, badan jadi segar, tanpa keluar uang. Kalau mau yang pakai uang ya ada, ke fitness, ke lapangan futsal atau naik sepeda. Mohon maaf, saya tidak merekomendasikan ke lapangan golf, bisa-bisa kena ‘’flu caddy.’’

saya pernah merasakan kenyamanan pelayanan rumah sakit, dan itu baru kudapati satu rumah sakit milik yayasan islam
*)Lebih nyaman lagi di rumah sendiri dalam keadaan sehat
Oleh: sunarnosahlan on Juni 18, 2009
at 4:26 am
Seenak enaknya rumah sakit mendingan rumah sehat.. hehehe.. maka jagalah kesehatan..
Salam Sayang
Kang Boed, leres kang, ternyata sehat itu mahal, tapi kita bisa mendapatkannya tanpa harus mengeluarkan banyak uang. Kalau mau
Oleh: KangBoed on Juni 18, 2009
at 4:43 am
Sekarang ini rumah sakit berjubel dan pasiennya serta pengunjungnya juga nggak kalah dengan mall. artinya orang yg mengalami penderitaan dan kesenangan hampir sebanding. Artinya lagi kapanpun kita bisa berada di mall atau di rumah sakit dengan prosentase yh hampir sama.
*) Kehidupan modern membuat orang mudah sakit, baik sakit jasmanai maupun sakit rohani. Hidup sehat adalah pilihan
Oleh: mas8nur on Juni 21, 2009
at 6:03 am
subhnallah.. banyak pelajaran yang bisa kita petik ya pak..
semoga kita diberikan kesehatan jasmani rohani, amin..
Oleh: Nisa on Juni 22, 2009
at 11:57 pm
subhanallah.. banyak pelajaran yang bisa kita petik ya pak..
semoga kita diberikan kesehatan jasmani rohani, amin..
Oleh: Nisa on Juni 22, 2009
at 11:58 pm
setuju Kang Boed., sepertinya nama Rumah Sakit diganti saja dengan RUmah Sehat ya…
*)Rumah sehat + hidup sehat
Oleh: wahyu kresna on Juni 23, 2009
at 12:59 am
leres Pakde ,,, enak di rumah sendiri meski makan pake tempe penyet
*)tempe penyet yang tidak digoreng
Oleh: hmcahyo on Juli 1, 2009
at 4:39 am
memang kebenaran selalu ada harganya, kadang sangat mahal
*)Kebenaran juga harus diperjuangkan
Oleh: rusli zainal sang visioner on Juli 1, 2009
at 11:36 pm
SALAM CINTA DAMAI DAN KASIH SAYANG SAHABATKU
*)salam juga Kang. Orang yang cinta damai, penuh kasih sayang dan banyak sahabat pasti hidupnya sehat
Oleh: KangBoed on Juli 2, 2009
at 8:09 am
Sapa jg yg mau pak, punya jaguar 3 tp divonis kanker stdm 4.. Wis disukuri wae apa yg sdh kita miliki..B-)
*)syukur itu bisa jadi obat terhadap segala sakit, terutama yang disebabkan oleh psikis
Oleh: Fou on Juli 3, 2009
at 11:37 am
Bagi aku dan keluarga rumah sakit adalah masa kelamku, gimana tdak? Aku yang berharap kesembuuhan
pada anakku tapi malah sakit yng lbih parah yang dtrima anakku. Maunya aku tuntut tapi percuma, aku ambil saja hikmahnya mungkin cara alloh memberi cobaan pada keluarga kami. Dan aku berharap pd semua rumah sakit
janganlah kamu jadikan pasienmu sebagai barang percobaan.
*)saya ikut prihatin, Mas. Ini jadi pelajaran kita bersama, ternyata sehat itu lebih baik
Oleh: dauv on September 9, 2009
at 12:08 am