Oleh: husnun | Juli 4, 2009

Rakus Ilmu

HARI Ahad (21/6) lalu, kawasan sekitar Alun-alun Kota Malang dipadati manusia. Mereka bukan sedang berbelanja ke kawasan pertokoan di sekitar Alun-alun, tapi mereka menghadiri sebuah acara haul almarhum Habib Abdul Qodir bin Ahmad Bil Faqih dan Habib Abdullah bin Abdul Qodir Bil Faqih. Haul kedua habib itu diadakan di Ponpes Daru Hadis di Jalan Aris Munandar, tak jauh dari Alun-alun.

Ribuan orang hadir dalam acara yang digelar tiap tahun itu, termasuk Menkominfo M. Nuh. Hadiri itu datang dari kota-kota di Jawa Timur bahkan sampai seluruh Indonesia. Mereka datang untuk mengenang dan mendoakan dua orang ulama yang hafal hadits dari Nabi Muhammad. Ribuan manusia itu larut dalam kekhusukan berdoa kepada Allah untuk kedua ulama tersebut.

Selain ilmunya yang tinggi, keduanya juga dikenang dengan kesalehannya, baik saleh kepada Sang Khaliq maupun saleh kepada sesama manusia. Orang-orang besar dengan reputasi bagus sesama hidupnya akan selalu dikenang, meskipun jasadnya sudah terbujur di dalam tanah. Masih banyak para habaib, ulama, sholikhin dan orang-orang berkemampuan linuwih yang terus dikenang kebaikannya meskipun sudah lama meninggal menghadap Tuhan Yang Maha Tinggi.

Selama hidupnya mereka rajin menuntut ilmu, sekaligus mengamalkan ilmu itu untuk kemaslahatan manusia. Mereka adalah orang-orang yang rakus ilmu, tidak pernah puas dengan ilmu yang didapatnya, seakan-akan tak pernah puas. Sama seperti manusia modern yang rakus akan dunia, seperti tak pernah puas dengan yang didapat. Meskipun hartanya sudah melimpah, masih saja merasa kurang.

Rakus pertama itulah yang selalu dicontohkan Kanjeng Nabi, para sahabat dan para pengikutnya. Para ulama warasatul ambiya itu adalah orang yang tak pernah puas dengan ilmu yang dimilikinya, bak minum air laut yang selalu menimbulkan haus. Jiwanya tak pernah tenang manakala melihat ada ilmu yang belum dikuasainya. Dengan segenap daya upaya dan semangat, ilmu itu dicari dan diburu sampai ke penjuru dunia. Imam Syafii mengibaratkan mencari ilmu agama itu seperti seorang ibu yang mencari anak satu-satunya yang hilang. Anak yang hilang itu dicari dengan penuh kecemasan, jangan-jangan hilang dan tidak bisa ditemukan.

Rakus yang kedua itu menimbulkan bencana dan kesengsaraan bagi manusia, baik pemiliknya maupun masyarakat secara umum.Sudah banyak contoh, kerakusan dunia membuat manusia menderita lahir batin, di dunia dan akhirat. Tanyakan kepada para* koruptor dan keluarganya, apakah hidup mereka bahagia, meskipun hartanya sangat melimpah ? Pasti tidak.

Bagi yang belum tertangkap, hidupnya tak pernah tenang, jantungnya terus berdegup tak keruan, sampai suatu saat berhenti berdetak. Keluarganya pun mengalami hal yang sama, termasuk menanggung aib yang tak tertahankan. Dua rakus itu menyebabkan orang tetap dikenang. Orang yang rakus dunia akan dikenang dengan kelekannya, sebaliknya orang yang rakus ilmu akan dikenang kebaikannya.

Kenangan itu bahkan bisa sampai turun temurun dari satu generasi ke generasi berikutnya. Ucapannya tetap dikenang, tingkah lakunya jadi panutan. Orang-orang saleh ahli beramal akan selalu dikenang sepanjang hidup sampai matinya. Mereka bukan hanya dikenang kebaikannya, tapi banyak yang mendoakan. Tak terhitung berapa puluh ribu umat yang datang ke acara haul di Ponpes Darul Hadis Ahad lalu yang semuanya mendoakan untuk almarhum. Bahkan banyak diantara mereka yang tidak pernah merasakan bertemu dengan almarhum semasa hidupnya.

Para generasi baru itu hanya merasakan manfaat dari kesalehan dan ilmu dari almarhum, meskipun mereka tidak pernah bertatap muka. Banyak pelajaran yang bisa dipetik dari berbagai kejadian yang terjadi di muka bumi, termasuk mengenang orang-orang saleh, ahli ilmu dan ahli amal. Mereka adalah orang-orang yang dicintai Allah baik di dunia sampai akhirat. Masyarakat menaruh hormat – tanpa harus diminta – karena ilmu yang dimiliki dan kesalehannya. Kebaikan yang ditanam dengan penuh keikhlasan akan dipetik hasilnya di kemudian hari.


Tanggapan

  1. Orang yang sukses adalah adalah orang yang selalu di kenang dan selalu ilmunya diambil dan selalu berguna dalam kehidupan .Dan menjadi contoh teladan

    *)Intinya, saat hidup jadi teladan saat mati selalu dikenang

  2. Rakus ilmu???… Harus ituuu….

    *)Rakus yang lain boleh,…tapi jangan banyak-banyak

  3. dari pada rakus harta mendingan rakus ilmu..betul kan pak Husnun?
    lama g berkunjung kesini, pakabar pak?

    [assalamu'alaikum]

    *)waalaikum salam…katanya ke Malang, kok gak mampir

  4. hampir lupa..sudah lama sekali link ini sudah saya masukan ke dCamz friends, tp namaku ga di aku….hiks..hiks…hiks..hwaaaaa.. heuheu :lol:

    *)Ok…segera dimasukkan

  5. kalo aku ga cuman rakus ilmu tp juga makanan pak’e eheheh…

    *)Kalau masih kos-kosan gak papa…untuk peningkatan gizi

  6. semoga kita juga senantiasa rakus ilmu ya pak :)

    kalo yang rakus harta, na’udzubillah..

    ^^v

    *)Harta boleh banyak tapi manfaatnya juga banyak

  7. Assalamualaikum

    Ikutan 4th IBSN award yuk..
    Informasi dan ketentuan silahkan baca di sini
    IBSN= Karena Berbagi Tak Pernah Rugi..

    Trimakasih…^_^


Beri tanggapan

Your response:

Kategori