Oleh: husnun | Juli 28, 2009

Perang Media dalam Ledakan Bom

Oleh : Husnun N Djuraid *

(Dimuat di Jawa Pos, 22 Juli 2009, halaman 6)

LEDAKAN bom di Hotel Ritz Carlton dan JW Marriott Jumat (17/7/09) mengagetkan banyak pihak. Setelah beberapa tahun sepi dari aksi teroris yang memakan banyak korban, Indonesia kembali diguncang oleh bom yang membuat sendi-sendi kehidupan di negeri ini terganggu. Dalam waktu singkat kejadian itu menyebar ke seluruh pelosok dunia berkat kecepatan media menyampaikan berita itu. Tak ayal, peristiwa pengeboman itu menjadi ajang perang media untuk menjadi yang terbaik dan tercepat menyampaikan kepada masyarakat.

Ketika dua ledakan itu terjadi pukul 7.45, masih banyak media yang memberitakan. Beberapa saat berikutnya, stasiun TV ANTV, TV One dan Metro TV mulai memberitakan secara live. TV seakan-akan mau mendominasi pemberitaan ledakan tersebut melalui pemberitaan langsung yang terus menerus sepanjang hari. Seharian itu TV menyuguhi pemirsanya dengan berita-berita ledakan bom, seakan tidak ada satu bagian pun yang lolos dari pemberitaan TV. Pemberitaan visual dari TV itu membuat peristiwa ledakan itu menyebar ke seluruh pelosok dalam waktu singkat.

Sifat pemberitaan TV yang terus menerus dan dalam waktu yang sama itulah yang membuat masyarakat tahu tentang peristiwa tersebut saat itu juga. Ada dua TV yang secara intens meberitakan peristiwa ledakan itu sepanjang hari sejak ledakan terjadi. Sedangkan stasiun lain juga menyiarkan peristiwa mengerikan itu – meskipun tidak terus menerus sepanjang hari – secara periodik membuat siaran langsung. Siaran live dari lokasi ledakan itu disisipkan diantara siaran-siaran lain.

Semua stasiun TV bersaing untuk menyiarkan berita itu, lebih cepat dan lebih lengkap. Tapi selain bersaing dengan sesama TV, media online internet menjadi pesaing berat TV. Sebenarnya dalam waktu yang bersamaan, internet sudah memberitakan peristiwa itu. Beberapa portal berita internet memberitakan peristiwa itu beradu cepat dengan TV. Kalau kita melihat sisi keunggulan kualitas beritanya, internet sebenarnya waktu itu mampu bersaing dengan TV, terutama dilihat dari kontens beritanya. Saat TV gencar membuat liputan live beberapa saat setelah ledakan, jumlah korban meninggal masih belum diketahui.

Tapi dalam waktu bersamaan, sebuah portal menyebut ledakan hebat di dua hotel mewah di Jakarta itu untuk sementara menelan jiwa empat orang meninggal dunia. Semua korban itu adalah ekspatriat, diantaranya adalah bos perusahaan semen PT Holcim Timothy Mackay. Beberapa menit setelah itu, TV kemudian menyebut tentang jumlah korban meninggal termasuk Timothy. Internet bisa mendapat keunggulan itu karena bisa mendapat informas dari banyak sumber. Beberapa kantor berita asing sudah mendapat informasi akurat dalam waktu beberapa menit setelah ledakan. Informasi itu kemudian dikutip portal internet dan langsung online.

Perang dua media itu berlangsung ketat, detik demi detik. Hanya saja internet masih memiliki kelemhan, terutama dari sisi jumlah audience yang bisa dijangkau. Memang dari sisi aktualitasnya internet – dalam kasus tersebut – bisa mengungguli TV, tapi keunggulan itu terasa mubazir karena tidak bisa dinikmati oleh banyak orang. Jumlah masyarakat di Indonesia yang bisa mengakses internet masih terbatas, meskipun menunjukkan tren yang meningkat dari tahun ke tahun.

Bagaimana Koran ?

Tidak bisa dihindari, dalam peristiwa besar seperti ini media cetak tidak berkutik menghadapi pesaingnya, media elektronik dan media online, terutama dilihat dari sisi aktualitas. Hampir semua koran baru memberitakan peristiwa itu sekitar 24 jam berikutnya, hanya sebagian saja – koran sore – yang memberitakan hari itu juga, meskipun tetap juga ketinggalan. Tapi sirkulasi koran sore di Indonesia saat minim sehingga dampaknya nyaris tidak terasa dalam persaingan media. Keunggulan koran sore adalah bisa memberitakan peristiwa yang terjadi pada pagi hari, pada hari itu juga, tapi karena populasinya sangat terbatas sehingga tidak banyak diketahui masyarakat. Selain itu, masyarakat kita tidak terbiasa membaca koran pada sore hari. Koran pagi sudah berhasil membentuk habit masyarakat untuk membaca koran pada pagi hari.

Meskipun sudah digelontor berita TV dan internet, tapi masih banyak masyarakat yang ingin tahu apa yang diberitakan di koran pada esok harinya. Pada Sabtu pagi (18/7/09) semua koran memberitakan ledakan itu sebagai berita utama. Halaman pertama dipenuhi berita dan gambar peristiwa ledakan tersebut. Bahkan beberapa koran menyediakan halaman khusus untuk display foto-foto peristiwa tersebut.

Menilik pemberitaan koran pada pagi pertama, nyaris tidak ada yang eksklusif dibanding dua media pesaingnya. Yang ada hanyalah running news dari berita di TV dan internet. Meskipun demikian, koran masih memiliki keunggulan tradisionalnya yakni bisa dilihat dan dibaca dalam waktu yang lama. Ini berbeda dengan media elektronik yang hanya bisa dilihat dalam waktu singkat dan tidak bisa diulang. Pembaca koran bisa memperhatikan gambar dan berita secara detil. Belum lagi, cerita behind the news soal peristiwa tersebut yang banyak disajikan melalui feature yang banyak menonjolkan human interest. Pengaruh yang ditimbulkan akibat membaca lebih besar dibanding hanya melihat gambar dan mendengar suara yang hanya selintas.

Masyarakat ingin mendapat informasi yang lebih lengkap dari koran, setelah melihat dan mendengar media elektronik. Perlombaan berita masih terus berlangsung pada hari-hari berikutnya. Tapi koran tampaknya tak mau menyerah begitu saja. Pada hari-hari berikutnya, koran berhasil revans dan unggul balik atas pesaing beratnya itu. Ketika pemberitaan sudah mengarah pada siapa pelaku pemboman itu, di sinilah koran mulai unggul. Kemampuan untuk melakukan investigative report dan model penulisan yang menarik, membuat koran berbalik unggul.

Perang media akan terus terjadi pada masa-masa yang akan datang dan sudah banyak yang meramalkan media cetak akan jadi pecundang. Bahkan usianya diperkirakan sekitar 50 tahun yang akan datang. Dalam sisa umurnya itu, sebenarnya koran masih bisa berbuat lebih baik lagi, untuk bertahan dan kalau bisa memperpanjang usianya. Masih dipertanyakan, apakah keunggulan tradisional media cetak masih bisa pertahankan di tengah gencarnya serangan internet dan TV. Keunggulan itu harus ditingkatkan dengan profesionalisme wartawan agar bisa menampilkan berita yang eksklusif. Model pemberitaan konvensional dengan straight news harus mulai dimodifikasi dengan penonjolan berita yang lebih mendalam (news indepth). Bisa jadi itu hanya sebagian dari faktor yang menyebabkan koran masih bisa bertahan untuk waktu yang lebih lama.

Harus diakui, masih banyak media cetak yang belum dikelola secara profesional, sehingga produknya pun masih jauh dari memuaskan. Belum lagi dominasi kantor berita asing yang sangat besar, bahkan terhadap berita di dalam negeri sendiri. Sungguh memprihatinkan, untuk foto dan berita peledakan bom itu banyak koran yang masih tergantung pada media asing.

*)Redaktur senior Malang Post

Dosen jurnalistik Universitas Muhammadiyah Malang


Tanggapan

  1. Mungkin dukungan logistiknya kurang terhadap para jurnalis ini. Sebenarnya masih perlu diasah kembali untuk mencari sudut pandang yang indah, bagus dan menarik bagi pembaca. Bgmn Pak Dozen ?
    salam superhangat
    ps: 1 dozen = 12 biji. :mrgreen:

    *)itu salah satunya, perangkat jurnalis asing jauh lebih bagus dari jurnalis kita. Mereka bisa meliput di kawasan terpencil dan langsung mengirimkan berita dari tempat itu, sementara wartawan kita harus mencari daerah yang ada sinyal HP atau cari warnet dulu

  2. namun terlalu semangatnya ada media yang kurang memperhatikan sumber data, hingga salah menyebutkan berita

    *)Masih banyak Mas, jurnalis kita yang belum profesional

  3. wah.. kalo koran punah…kira-kira wartawan sekarang bermetamorfosa kemana ya pakde?

    *)itu kira2 50 tahun yang akan datang. kalau nglamar ke MAN piye ?

  4. jadi yang menang siapa nich pak? uhm.. TV, koran, atau media online? ;)
    kita2 yang di LN taunya jg dari media online nih.. hihihihi

    *)kayaknya koran masih bisa bertahan dengan susah payah

  5. di amerika sendiri media cetak udah banyak yg gulung tikar pak’e..
    tapi, cikal bakal media informasi itu dari koran loh, cuman sayangnya pengelolaannya masih kurang… dan, mungkin masalah efisiensi waktu & dana & bahan2nya (kertas bla bla bla) kali ya pak’e..

    *)Di Indonesia, koran belum sempat berkembang dengan baik keburu datang kesaing yang dahsyat

  6. semangat jurnalis media cetak jauh lebih ok dari pada jurnalis media elektronik :)

  7. Media cetak pasti akan tetap bertahan, walaupun mungkin tidak menang.

    Salam revolusi romansa,
    Lex dePraxis
    Unlocked!


Beri tanggapan

Your response:

Kategori