Oleh: husnun | September 12, 2009

Siapa Mau Beli Onta ?

SUATU ketika Ali bin Abi Thalib rodhiallohu anhu pulang mendapati di rumahnya tidak ada makanan sama sekali. Istrinya, Fatimah Azzahra hanya punya uang enam dirham yang akan dipakai membeli roti untuk makan dua anak mereka, Hasan dan Husein. Kepada istrinya yang setia itu, Ali minta uang tiga dirham tersebut untuk dibelikan roti bagi anak mereka.

Tapi di tengah jalan, Ali bertemu dengan seorang lelaki yang langsung berkata padanya. ‘’Siapa yang mau mengutangi Allah yang Maha Menguasai dan memberi kecukupan.’’ Tanpa banyak pikir, uang tiga dirham – yang seharusnya untuk membeli makan dua anak kesayangannya – diberikan kepada orang miskin tersebut. Setelah itu, Ali pulang menemui istrinya. Kepada sang istri, Ali menyeritakan peristiwa yang baru saja menimpa dirinya disertai dengan permohonan maaf.

Fatimah putri Rasulullah itu pun menangis. ‘’Wahai wanita termulia, apa yang membuat kamu menangis,’’ tanya Ali. ‘’Wahai putra paman Rasulullah, mengapa kamu kembali dengan tangan kosong tanpa membawa makanan untuk anakmu.’’ Kepada istrinya Ali menjelaskan, telah mengutangkan enam dirham itu kepada Allah swt. ‘’Engkau telah mendapat petunjuk dan melakukan hal benar, suamiku,’’ ujar Fatimah. Mendapati jawaban seperti itu Ali menjadi tenang.

Dia pun pamit kepada istrinya untukmenemui Rasulullah. Belum lama dia berjalan, dia bertemu dengan seorang Baduy yang membawa onta sangat cantik. Onta itu kemudian ditawarkan kepada Ali. ‘’Belilah ontaku ini seratus dirham,’’ katanya. Dalam benak Ali, mungkin orang Baduy ini bercanda, karena dia tidak punya uang sama sekali. Jangankan onta, untuk beli makan dua anaknya saja dia tidak punya.

Tapi Sang Baduy tetap ngeyel minta Ali membeli ontanya. Kalau dia tidak punya uang, pembayarannya bisa ditunda, bisa diutang dulu, tidak usah pakai kredit, tidak perlu uang muka, tidak perlu jaminan, tidak perlu melalui leasing apalagi pakai bunga. Ali pun setuju membeli onta cantik itu dengan pembayaran di belakang dan saling percaya. Keduanya pun menyepakati akad jual beli tersebut. Setelah itu Sang Baduy pergi entah ke mana. Tak lama kemudian, muncul satu Baduy lagi yang tampak kesengsem dengan onta milik Ali.

Bukan itu saja, orang Baduy itu berniat membelinya dan menanyakan harganya. Ali menjawab sekenanya, 300 dirham. Tanpa banyak penawaran, dia mau membeli onta milik Ali seharga 300 dirham, cash. Penawaran itu tentu saja mengagetkan Ali, karena harga yang diberikan sangat menggiurkan. Akhirnya Ali setuju untuk menjual ontanya dengan harga sesuai permintaan Sang Baduy. Akad pun diucapkan, Ali menyerahkan onta, sedang pembeli itu langsung menyerahkan uang. Usai transaksi, Ali bergegas pulang menyampaikan kabar gembir kepada Fatimah, istrinya. Keduanya mengucap syukur atas nikmat yang diberikan oleh Allah.

Setelah itu Ali bersama istrinya memberitahukan kepada mertuanya, yang juga Rasulullah. Kepada mantunya itu Rasulullah bertanya. ‘’Tahukah kamu, wahai Ali, siapakah dua orang Baduy itu.’’ Dengan penuh takdzim Ali berkata, Allah dan Rasulnya yang lebih tahu. ‘’Ketahuilah, Baduy pertama itu adalah malaikat Jibril dan Baduy kedua itu adalah malaikat Isrofil.’’ Allah membalas sedakah Ali yang ‘’hanya’’ tiga dirham dengan balasan yang berlipat-lipat melalui banyak cara.

Salah satunya dengan mengutus malaikat turun ke bumi menjelama jadi manusia. Allah memberikan balasan kepada siapa yang dikehendaki tanpa perhitungan. Ya, tanpa perhitungan, sama seperti Ali meminjamkan enam dirham tanpa perhitungan sama sekali. Dia tidak berfikir tentang Hasan dan Husein yang kelaparan, yang ada di benaknya adalah meminjamkan uang itu untuk Allah. Uang enam dirham itu langsung berpindah tangan tanpa perhitungan.

Bandingkan dengan kita yang saat ini tengah sibuk menghitung berapa zakat fitrah, zakat maal, infaq dan sadakah yang harus dikeluarkan. Kalau zakat fitrah insyaallah tidak ada masalah, karena hanya 2,5 kg beras seperti yang kita makan sehari-hari, meskipun banyak yang culas dengan menggunakan beras berkutu. Untuk zakat maal, infaq dan sadakah kita sering terlalu njelimet melakukan perhitungan, bila perlu menggunakan kalkulatir atau sempoa. Begitu sibuknya menghitung harta itu sampai akhirnya lupa tidak terbayar zakatnya.

Ibadah apapun yang kita lakukan, sesungguhnya untuk kita sendiri. Zakat fitrah berfungsi untuk menyucikan jiwa kita, zakat maal untuk menyucikan harta agar bisa dinikmati dengan barokah. Tak jarang, harta yang dicari dengan susah payah itu justru menjadi malapetaka dan fitnah bagi pemiliknya. Wa’lamu annama amwalukum wa auladukum fitnah, ketahuila sesungguhnya anak-anakmu dan hartamu itu bisa menjadi fitnah. Supaya kita bisa menikmati harta yang kita kumpulkan dengan susah payah, bayarkan zakatnya, infakkan atau sadakahkan.

Jangan khawatir, Allah pasti akan membalasnya berlipat-lipat, asal kita yakin dan ikhlas. Cerita Ali bin Abi Thalib dalam tataran kekinian sudah sering dialami oleh orang-orang ahli sadakah. Sadakah adalah bagian uangkapan dari rasa syukur kita terhadap nikmat Allah. Kalau kita bersykur, nikmat itu akan dilipatgandakan, sebaliknya kalau tidak, harta itu akan menjadi bencana. Naudzubillah min dzalik


Tanggapan

  1. betul… berzakat/ bersedekah/ berbuat baik.. tidak pernah membawa kerugian apapun bagi kita.. Allah itu maha luas rizkinya.. harus banyak2 bersyukur.. ^^v

    • Terima kasih Mbak Indah kunjungannya…saling mengingatkan agar mendapat hidup yang lebih baik

  2. amin…yg penting ikhlas…:)tapi kalo ditawari beneran “siapa yg mo beli onta?” aku jawab ” aku mau yg jual onta ajah…” hihihihi…dudutz…. :)

    *) Iya..bener lo, konon menantu Rasulullah ini orangnya cakep

  3. mohon maaf lahir dan bathin, selamat idul fitri 1430 Hijriah.
    salam untuk keluarga.

    *)Sama-sama Mas, yang tua banyak luputnya

  4. sedekah memang penuh dg keajaiban.. subhanallah..

    *)subhanallah …bisa ketemu lagi sama Mas Deni

  5. berkunjung ah mumpung belum libur :)

    *)silakan…tapi gak ada suguhannya lo

  6. ga mudik cak ? :)

    *)Ya…mudik ke Surabaya dilanjutkan ke Salatiga


Beri tanggapan

Your response:

Kategori