Oleh: husnun | Januari 4, 2011

Politik Sepak Bola, Sepak Bola Politik

PELATIH Timnas Alfred Riedl mengeluhkan campur tangan banyak pihak terhadap anak asuhnya. Timnas harus menjalani kegiatan yang sebenarnya tidak ada hubungannya dengan sepak bola. Misalnya, acara makan pagi dengan ketua partai dan istighotsah pada malam hari yang seharusnya saat itu bisa digunakan pemain untuk beristirahat. Belum lagi media yang begitu mudah mendapatkan akses untuk melakukan wawancara dengan para pemain. Meskipun hal-hal tersebut bukan penyebab utama kegagalan Timnas merebut juara di tingkat Asean, tapi paling tidak memiliki andil sebagai penghambat aktivitas.

Timnas memang akhirnya gagal meraih juara, tapi di balik kegagalan itu aroma politik justru yang paling menonjol. Kini desakan agar Ketua PSSI Nurdin Halid mundur semakin kencang. Ini merupakan scenario kedua, karena selain itu ada scenario lain. Kalau Timnas juara, maka akan muncul banyak klaim dari pihak-pihak yang mengaku berjasa, bahkan peran Nurdin sebagai Ketua PSSI pun akan dihilangkan. Artinya, Timnas juara bukan karena Nurdin.

Aroma politik dalam sepak bola di Indonesia menyeruak selama tahun 2010. Di bawah kepemimpinan Nurdin, PSSI gagal meraih prestasi internasional, bahkan di tingkat Asean pun selalu menjadi pecundang. Kondisi ini tak urung membuat Presiden SBY prihatin. Beberapa kali presiden bahkan mengeluarkan pernyataan keprihatinan terhadap prestasi sepak bola nasional yang terus merosot. Kalau dalam beberapa decade lalu sempat menjadi tim yang disegani di tingkat Asean, selama satu decade ini Timnas tidak mampu berbicara.

Untuk mencari solusi, kemudian diadakan Kongres Sepak Bola Nasional (KSN) 30 – 31 Maret 2010 di Malang. Acara ini bertujuan untuk mencari solusi bagi pemecahan kebuntuan sepak bola nasional. Sebelum KSN digelar, banyak pihak yang menyebut kepemimpinan di tubuh PSSI lah yang menjadi biang kemunduran prestasi itu. Kongres pun dirancang untuk menggusur Nurdin dari tampuk pimpinan PSSI. Tapi Nurdin yang sejak awal tidak suka dengan adanya KSN itu mulai melakukan perlawanan. Dikumpulkannya semua pengurus daerah PSSI dengan permintaan bahwa tidak ada agenda pergantian pengurus PSSI dalam kongres tersebut.

Nuansa politik dalam KSN itu sangat terasa yang merupakan pertarungan dua partai besar, Partai Demokrat dan Partai Golkar. Partai Demokrat diwakili oleh Menegpora Andi Mallarangeng yang menjadi penyelenggara kongres, sedangkan Nurdin adalah representasi Golkar. Di sela-sela acara KSN, Andi sempat mengundang pengurus Partai Demokrat di Jawa Timur untuk berkampanye. Kebetulan saat itu tengah diadakan persiapan Munas Partai Demokrat untuk memilih ketua baru dan Andi merupakan salah satu kandidat kuat.

Sebagai partai yang lebih tua dengan kader yang berpengalaman dalam maneuver politik, akhirnya Partai Golkar ‘’memenangkan’’ pengaruh politik dalam KSN. Rencana untuk menggulingkan Nurdin digagalkan di tengah jalan, bahkan rencana pembentukan Dewan Sepak Bola Nasional pun tidak terwujud. Dengan kepiawaian politiknya, Nurdin yang didukung sebagian besar pengurus provinsi berhasilkan menggagalkan upaya penggulingan dirinya melalui KSN. Pemerintah yang menggagas KSN ini dengan biaya besar, akhirnya gigit jari, karena upaya untuk mengganti pemimpin PSSI gagal total.

Tapi perang pemerintah versus Nurdin belum usai. Pemerintah masih memiliki kartu truf untuk melakukan serangan balik kepada Nurdin Cs. Melalui kekuasaannya, pemerintah mulai melakukan manuver melalui keputusan Menteri Dalam Negeri yang melarang penggunaan APBD untuk kegiatan sepak bola. Padahal, hampir semua tim peserta kompetisi nasional menggunakan dana dari APBD. Keputusan ini membuat tim-tim peserta kompetisi kelimpungan, karena dana APBD merupakan sumber utama aktivitasnya. Kompetisi yang baru berjalan itu pun terseok-seok, beberapa tim sudah mulai kesulitan dana sehingga gaji pemain tak terbayar. Dari sekian banyak tim peserta kompetisi, hanya sebagian kecil saja yang bisa melakukan pembiayaan secara mandiri, selebihnya masih mengandalkan dana dari pemerintah daerah.

Kesulitan klub-klub peserta kompetisi itu tertutup oleh eforia prestasi Timnas yang masuk final Piala AFF. Padahal, dalam waktu singkat sudah tiga klub yang menyatakan mundur dari kompetisi ISL (kompetisi kasta tertinggi) yakni PSM Makassar, Persema Malang dan Persibo Bojonegoro. Tim-tim itu beralasan kesulitan dana dan sering mendapat perlakuan tidak adil dari PSSI. Persema misalnya, pasca-KSN sering mendapat perlakuan tidak adil dari PSSI saat melakoni kompetisi. Dengan menjadi tuan rumah KSN, Persema dianggap melawan kebijakan PSSI. Kalau tidak ada solusi cepat yang dibuat Nurdin dan PSSI-nya, maka akan semakin banyak tim yang mundur.

Untuk sementara, perang antara pemerintah dengan PSSI skornya masih 1 – 1. Peperangan berikutnya justru akan semakin seru. PSSI tampaknya sudah mencium gelagat bahwa pemerintah akan menggunakan keberhasilan Timnas sebagai kendaraan politik menghadapi Pemilu 2014. Banyak presiden di dunia ini yang gila olahraga, terutama sepak bola, tapi tidak seperti Presiden Republik Indonesia yang kerap nonton pertandingan Timnas. Barack Obama yang tergila-gila basket – karena dia juga jago main basket – tidak sesering Presiden RI menyaksikan tim kesayangannya.

Sejak presiden kerap datang ke Stadion Utama Gelora Bung Karno, banyak yang mempertanyakannya, adakah motif politik di balik itu. Melihat gelagat itu, Nurdin yang pandai bermanuver itu pun bertindak cepat dengan membawa Timnas yang akan bertanding final ke Malaysia itu untuk sowan kepada Ketua Partai Golkar. Kebetulan Nurdin sendiri adalah kader Partai Golkar. Baik Nurdin maupun Ketua Golkar membantah kegiatan itu sebagai manuver memanfaatkan popularitas Timnas untuk kepentingan politik.

Ketika Timnas gagal, bukan mencari solusi, tapi justru momen itu digunakan untuk menjatuhkan Nurdin dari kursi Ketua PSSI. Lawan politik Nurdin memiliki dua kartu truf. Kalau Timnas juara, akan dibuat scenario bahwa keberhasilan itu bukan karena PSSI dan Nurdin. Ini bisa dimaklumi, besarnya dukungan masyarakat kepada Timnas bukan karena PSSI dan Nurdin, tapi karena timnas itu sendiri. Berikutnya, kalau Timnas gagal maka akan dengan mudah menyebut Nurdin sebagai biang kegagalan. Dengan demikian, akan sulit bagi Nurdin untuk kembali menduduki jabatan tersebut.

Para elit politik tampaknya paham betul bahwa kecintaan masyarakat terhadap Timnas sangat tinggi. Meskipun gagal menjuarai Piala AFF bukan berarti masyarakat kecewa kepada Timnas, tapi mereka masih tetap mendukung. Ini merupakan aset politik yang luar biasa yang harus dimanfaatkan dengan maksimal. Perang kedua belah pihak akan semakin sengit menjelang pemilihan Ketua PSSI tahun 2011 dan puncaknya pada Pemilu 2014. Sebuah status di facebook mengatakan : Timnas Malaysia disiapkan untuk Piala Asia 2015 dan Piala Dunia 2018, sedangkan Timnas Indonesia disiapkan untuk Pemilu 2014.


Tanggapan

  1. apakah pssi harus dibubarkan saja, kemudian bentuk baru.
    *biayanya mahal kali ya….

  2. yah begitulah kalau tidak ada yang mau mengalah, sama-sama ngotot

  3. [...] dengan bakat-bakat khusus. Dan orang-orang itu saya anggap guru saya. Dua diantaranya Pak EWA dan Pak Husnun . Kedua orang ini mempunyai kesamaan yaitu: selalu mengompori dan menyebarkan virus menulis [...]

  4. Coba-coba menulsi bola :) http://abraruna.wordpress.com/2010/01/07/sombong-membawa-kekalahan/


Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.