Oleh: husnun | Januari 27, 2008

SAYA KRONI DARIPADA PAK HARTO

KEMARIN, (27/1/08) bangsa Indonesia kehilangan salah satu putra terbaiknya, mantan Presiden Suharto. Itulah jalan terbaik bagi Pak Harto, setelah sebelumnya dirawat di rumah sakit cukup lama. Kita ikut berduka. Sebagai manusia, Pak Harto punya dua sisi kehidupan, yang baik dan buruk. Sudahlah, dia sudah mangkat, tidak perlu lagi diungkit kejelekannya. Tidak baik membicarakan kejelekan orang yang sudah meninggal. Alangkah baiknya kalau kita mengenang Pak Harto dari sisi baiknya saja.

 Tanyakan pada para bakul di pasar, tukang becak, kuli bangunan, sopir angkutan dan kalangan wong cilik lainnya. Pasti mereka mengatakan, jaman Pak Harto lebih baik dibanding sekarang.   ‘’Dulu,  meskipun hidup saya susah, tapi masih bisa memberi makan anak istri saya. Semua kebutuhan tersedia dan terjangkau. La, kok sekarang jadi begini. Sudah harganya mahal, barangnya tidak ada lagi. Sekarang semuanya harus antre, minyak tanah, sembako dan lainnya. Bagaimanapun, jaman Pak Harto masih lebih baik,’’ kata seorang warga. Di mata rakyat kecil, Pak Harto adalah sosok yang mereka cintai.

  Kondisinya berbalik seratus delapan puluh derajat ketika dia lengser. Orang ramai-ramai menghujatnya dengan berbagai tuduhan, korupsi dan pelanggaran HAM. Bukan hanya Pak Harto, anak-anaknya juga tak luput dari cercaan. Para kroninya juga dihujat. Siapa kroni Pak Harto itu ? Ya, orang-orang yang ikut menikmati kekuasaan dan materi  dari Pak Harto. Mereka itu para pejabat, para pengusaha, keluarga, kerabatnya dan juga masyarakat biasa.

 Salah satunya, saya. Lo, kok bisa saya jadi ‘’kroni’’ Pak. Bisa saja, karena jujur saya akui, saya ikut menikmati uang hasil pemberian dari Pak Harto. Saya adalah satu diantara jutaan mahasiswa yang menikmati bea siswa Supersemar. Supersemar adalah salah satu Yayasan yang dipimpin Pak Harto. Bea siswa itu sangat membantu kelancaran kuliah saya.

 Menjadi mahasiswa adalah barang mewah waktu itu, sekitar awal 80-an. Saya kuliah sebenarnya bukan atas dorongan orang tua, tapi keinginan saya sendiri. Saya boleh kuliah, tapi orang tua saya tidak bisa membiayai. Maklum, biaya kuliah kala itu tidak terjangkau oleh orang tua saya. Ketika memutuskan untuk tetap kuliah saya sendiri tidak tahu, dari mana uang untuk membiayainya. Saya pun nyambi kerja untuk membiayai hidup dan kuliah.

 Untung ada bea siswa Supersemar. Saya tidak pernah mengajukan untuk bisa mendapat bea siswa itu. Penerima bea siswa diseleksi berdasarkan prestasi akademik sejak semester pertama. Yang saya tahu waktu, tidak semua mahasiswa bisa mendapatkan bea siswa itu. Sungguh, uang bea siswa itu sangat membantu kehidupan saya, meskipun masih jauh dari cukup.

 Dengan uang Rp 17.500 saya bisa mencukupi biaya hidup selama satu bulan.Uang itu saya bagi untuk makan Rp 500 per hari dan selebihnya untuk kebutuhan lain penunjang kuliah. Kuliah pun saya selesaikan berkat bea siswa dari yayasan yang dipimpin Pak Harto. Ketika kali pertama tahu soal Supersemar, saya tidak tahu kalau yayasan itu dipimpin Pak Harto. Baru saat menjelang akhir masa kuliah saya tahu kalau Supersemar itu dipimpin Pak Harto.

 Saya sama sekali tidak terkejut atau gusar ketika yayasan ini mulai dibidik kejaksaan karena dianggap sebagai ajang korupsi Pak Harto dan kroninya. Mungkin sebagian uang yayasan itu diselewengkan, tapi tidak sedikit yang dipakai untuk membiayai pendidikan rakyat, termasuk saya. Ketika banyak rakyat ingin sekolah tapi tak punya biaya, yayasan milik Pak Harto datang sebagai penolong. Sugeng tindak Pak Harto. Saya selalu mengenangmu. Bersama jamaah masjid, saya salat ghaib. Allahumaghfirlahu…

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

.

 


Responses

  1. Apapun beliu tentu banyak jasanya.Itu adalah realitas.yah toh .ya kita harus objektif walau aku juga ikut ketika 98.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: