Oleh: husnun | Februari 4, 2008

Kambinghitamkan Alam

 KASIHAN sekali alam. Mentang-mentang dia tidak bisa bicara, banyak pihak yang menjadikannya kambing hitam. Setiap kali ada bencana, alam selalu dituduh sebagai penyebab. Saat Jakarta tenggelam, semua ramai-ramai mencari penyebabnya. Dan pihak yang paling gampang jadi tertuduh adalah alam. ‘’Fenomena alam,’’ kata para pejabat tentang penyebab kenapa Jakarta direndam air. Tak kurang dari Bang Foke – Gubernur Jakarta yang nama aslinya Fauzi Bowo – menyebut alam sebagai biang kerok Jakarta jadi lautan.

 Saat mengunjungi pintu air di beberapa sungai di Jakarta, lontaran fenomena alam itu muncul dari Sang Gubernur. Dengan menyebut alam sebagai penyebab bencana, sepertinya masalahnya sudah berhenti. ‘’Ya sudah, mau bagaimana lagi, wong semuanya disebabkan oleh alam, manusia tak kuasa menahan gejolak alam.’’ Itu adalah ungkapan orang yang biasa mencari kambing hitam kalau mendapat masalah. Orang yang selalu menyalahkan orang lain.

 Mengapa mencari kambing hitam. Mengapa tidak mencari kesalahan pada diri sendiri. Dengan menyebut alam sebagai penyebab bencana, seolah-olah tidak ada lagi langkah yang harus dibuat untuk menanggulanginya. Kalau bencana itu terjadi karena fenomena alam, ya sudah diterima saja.

 Banjir di Jakarta, konon karena air laut yang pasang sehingga air dari sungai tidak bisa masuk ke laut. Maka jalan protokol Jakarta yang biasanya glamour itu, tenggelam oleh banjir. Kawasan di Utara Jakarta, sudah lama direndam air. Istana presiden yang prestesius itu tak luput dari rendaman banjir. Bukan hanya rakyat kecil, bukan hanya orang kaya, Presiden dan wakilnya pun ikut menjadi korban banjir. Jalan tol dan bandara tak luput dari genangan air.

 Kalau bencana sudah turun, tidak akan melihat siapa yang akan terkena. Kalau banjir melanda, tidak akan melihat rumah siapa yang akan dimasuki dan rumah siapa yang akan dihindari. Orang yang tidak ikut merusak alam, orang yang tidak tahu menahu tentang kerusakan lingkungan, semuanya dimasuki banjir. Tuhan sudah mengingatkan, ketika bencana itu datang, tidak akan pandang bulu siapa yang akan jadi korban. Orang yang taat kepada Tuhan dan orang yang ingkar, sama-sama jadi korban.

 Berhentilah mencari kambing hitam penyebab bencana. Mulailah introspeksi, apa yang sudah kita lakukan untuk menyelamatkan lingkungan ini. Air laut memang pasang, tapi kalau daerah-daerah di sekitar aliran sungai bisa menyerap air, tidak perlu sungai membuangnya sampai ke laut. Kalau manusia tidak boros energi pencemar, suhu dunia tidak akan naik. Suhu dunia naik  karena lubang ozon semakin lebar yang kemudian mencairkan gunung es. Luberan gunung es itu kemudian membuat volume air lait meningkat sehingga daya tampungnya berkurang.

 Laut yang tadinya menjadi tempat pembuangan sampah terbesar di dunia, kini mulai melakukan penolakan. Permukaan laut ternyata lebih tinggi disbanding sungai dan pemukiman di sekitarnya. Luberan air laut itu kemudian melanda kawasan pesisir, pada musim kemarau sekalipun. Kalau kita mau jujur, siapa sebenarnya penyebab semua ini. Alam tidak akan murka kalau manusia tidak mencuranginya. Kalau manusia ramah pada alam, alam akan memberikan lebih banyak dari sekedar keramahan. Jadi, jelas kan, siapa penyebab semua ini.

 Beruntunglah Foke, punya presiden yang sabar. Saya tidak bisa bayangkan apa yang terjadi kalau yang terkena banjir itu presiden-presiden sebelumnya. Ketika Foke beralasan bahwa banjir karena fenomena alam, ya sudah diterima saja. Istana direndam banjir – dan ini sudah beberapa kali – sampai saat ini tidak ada tindakan mengatasinya. Kalau istana saja dibiarkan kena banjir, bagaiamana dengan rumah-rumah rakyat. Kalau alam sudah murkan, tak ada yang bisa membendungnya.

 

 

 

 

 

 


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: