Oleh: husnun | Februari 14, 2008

makalah seminar menulis artikel di surat kabar

                                    Menulislah Sekarang

                                Oleh : Husnun N Djuraid *

                                   

 

APA yang ada di benak Anda ketika membaca sebuah artikel di koran ?

 1. Tertarik dan berdecak kagum.

 2. Biasa-biasa saja.

 3. Mencibir.

 4 Setelah membaca mengatakan, ‘’kalau cuma artikel begini saja, saya juga     

    bisa.’’

 

 Sekarang mari kita tanya kepada diri sendiri, kita masuk kelompok yang mana. Kalau kita masuk kelompok yang pertama, itu sebuah pertanda bahwa Anda tertarik pada sebuah artikel. Ini merupakan embrio untuk melangkah selanjutnya. Ada keinginan untuk membaca artikel yang lain. Setelah itu muncul keinginan untuk membuat artikel seperti yang dibacanya. Tentu saja, jangan sampai muncul reaksi seperti nomor 2 dan 3, karena sikap itu tidak menggambarkan sikap yang punya semangat menulis. Akan lebih baik lagi kalau setelah tertarik dilanjutkan dengan tindakan untuk berbuat yang sama.

 Yang terpenting sekarang adalah, bagaimana kita mulai menulis. Hilangkan berbagai keraguan dan prasangka.

‘’Ah, tulisan saya jelek.’’

‘’Malu ah, nanti diketawai.’’

‘’Jangan-jangan ditolak.’’

 Kita harus yakin dengan kemampuan kita. Tapi juga jangan overconfident, merasa tulisannya sudah bagus dan layak dimuat. Padahal, banyak faktor yang membuat sebuah tulisan dimuat atau tidak. Ini bisa menjadi bumerang. Kalau tidak dimuat akan kecewa, karena merasa tulisannya sudah bagus. Itu menurut penilaian sendiri. Padahal sebelum dimuat, seorang redaktur opini – yang menangani artikel – akan mempertimbangkan sebuah artikel dimuat karena memang layak dan memenuhi kepentingan banyak orang.  Kalau kriteria itu tidak dipenuhi, artikel tidak dimuat. Padahal, sudah muncul harapan besar bahwa artikel itu akan dimuat.

 

KKN dengan Redaktur

 Ketika artikel itu tidak dimuat, muncullah rasa kecewa.  Kita harus bisa mengelola rasa kecewa itu ke arah yang positif. Jangan sampai rasa kecewa itu membunuh semangat untuk melanjutkan upaya menulis. Harus ada introspeksi, mengapa artikel itu sampai tidak dimuat, kesalahan-kesalahan apa yang sudah dilakukan. Dari evaluasi itu kemudian dilakukan perbaikan-perbaikan dan menambah bagian-bagian yang kurang. Di atas langit masih ada langit. Jangan merasa bahwa tulisan kita sudah bagus dan harus dimuat, padahal masih banyak tulisan lain yang lebih bagus.

 Jangan segan-segan menghubungi redaktur opini untuk menanyakan mengapa tulisan Anda tidak dimuat. Tanyakan juga kekurangannya. Mungkin soal bahasa – ini yang banyak terjadi – mungkin soal konten, mungkin soal aktualitas dan sebagainya. Untuk masalah seperti ini ‘’KKN’’ dengan redaktur opini diperlukan. Unsur kedekatan dimanfaatkan agar kita tahu seleranya, tahu kebiasaannya dan topik-topik yang sedang aktual. Masing-masing media punya ciri khas sendiri-sendiri, punya misi yang berbeda. Maka penulislah yang harus menyesuaikan dengan media, bukan sebaliknya.

 

Kapan Menulis

 Keinginan menulis muncul setelah membaca. Kalau kita ingin menjadi penulis yang baik, kita harus menjadi pembaca yang baik pula. Dengan membaca kita mendapat banyak pengetahuan dan referensi untuk membuat tulisan. Banyaklah membaca. Apa saja, buku, koran, majalah, atau bahan lain yang diperoleh dari berselancar di internet. Selain pengetahuan, membaca juga bisa dijadikan pelajaran untuk menulis dengan menyontoh. Mengawali menulis bisa dimulai dengan menyontoh tulisan-tulisan yang sudah dibaca. Latihan dilanjutkan dengan menulis tulisan yang sama tapi dengan ide sendiri.

 Dengan banyak membaca – ditambah dengan keinginan kuat untuk menulis – akan muncul banyak ide yang segera ingin dituangkan dalam tulisan. Biasanya bagi penulis pemula, ketika ide muncul, tidak langsung ditulis, tapi masih dipertimbangkan dan dipikir-pikir. Muncul keraguan, pertimbangan dan prasangka. Energi yang seharusnya bisa dipakai untuk segera menulis, terkuras habis untuk memikirkan hal tersebut. Akhirnya, semangat untuk  mulai menulis kendur sampai akhirnya hilang sama sekali.

 Maka, saat ide itu muncul bersamaan dengan keinginan menulis, segeralah menulis. Di mana ? Di mana saja. Corat-coret di atas kertas berisi poin-poin yang akan ditulis. Kalau pas ada komputer – di kantor atau di rumah – langsung saja diketik.Atau, bisa langsung diketik di notebook saat kita berada di mana saja. Tulisan awal itu tentu saja belum sempurna, mungkin masih dalam bentuk poin-poin yang belum tersusun dalam kalimat yang urut.  Dari coretan-coretan itu kemudian direkonstruksi menjadi tulisan sesuai dengan topik yang muncul sejak awal. Jadi, begitu muncul ide, langsung ditulis. Kalau Anda punya blog, akan lebih bagus lagi karena tulisan Anda bisa segera terpublikasikan di media online yang bisa dibaca di mana saja di seluruh dunia.

 

Apa yang Ditulis

 Berhayal boleh, tapi berfikir realistis lebih penting. Kita boleh membayangkan diri seperti seorang kolomnis top. Itu penting untuk memotivasi diri, tapi jangan terjebak pada hayalan. Orang lain bisa menjadi penulis hebat, tapi kita harus menjadi diri kita sendiri. Topik yang dipilih tidak jauh dari kompetensi yang kita miliki. Kalau kita bergulat dalam dunia pendidikan, tak usah muluk-muluk menulis soal politik atau ekonomi. Dengan demikian, tulisan kita memiliki ‘’ruh’’, karena ditulis dengan penuh penghayatan.

 Saat ini banyak media yang memberi ruang kepada para guru untuk berekspresi. Topik mengenai pendidikan punya wilayah yang sangat luas. Tidak ada alasan kehabisan ide kalau mau menulis masalah pendidikan. Masih banyak media yang bisa dipakai ajang ekspresi diri.  Ruang sudah disediakan, kesempatan sudah diberikan. Kurang apa lagi ? Ayo menulis sekarang.

 

*) Disampaikan pada seminar Peningkatan Profesionalisme Guru

 di ruang sidang Balai kota Malang, Sabtu 16 Februari 2008


Responses

  1. postingannya menarik skali khususnya bagi kita yang berminat membuat blog berita… Salam🙂

  2. Terima kasih atas kunjungannya. Kalau saya sih merasa masih acak-acakan, asal masuk aja

  3. Bener cak Nun, aku kadang kakehan mikir, gak PD terus akhire lali pengen nulis opo, akhire cenderung kopi paste ae tekan media, hahahaha … BTW bukune sampean di dol nang endi? kok pengen moco isine, ojo larang² regane cak nun…

    Maklum LPG langka …. (ganok hubungane padahal) hahahahha

  4. Proses nulis salat utase dimulai teko moco. Lek umak wis seneng moco, iku salah utas tanda lek umak wis tertarik nulis. Opo maneh wis onok ide nang pikiran. Ide ojok kakean dipikir, langsung ditulis ae jes. Opo maneh umak wis duwe blog…tulisen opo ae. Ben dino tail latihane Arema…yo tulis ae, liyane sik akeh. Misale rego LPG kandum, yak opo carane dadi loper sing higus koyok Pak Irwan iku lo.
    Ayas beranggapan gnaro sing duwe blog iku …di atas rata-rata lah. Ayo nulis terus…..malas utas awij

  5. bos Pak Dian INdosat pengin bikin pelatihan menulis yang berkala dan berbiaya murah yang bisa diikuti siapa saja… nah… dia minta pendapat saya … untuk nyusun materinya… gimana bisa ngasih masukan..?

  6. Ok saja, kapan ketemu untuk bahas masalah ini ? seminar gitu kan tidak harus mahal, apalagi kalau pematerinya orang lokalan kayak saya…he..he

  7. jadi terbuka si pemikiran gw buat bikin tulisan. sering sekali ide2ku terbuang percuma dan malah orang lain yang “nutur” ideku.
    gemana si langkah yang mudah dan jelas biar ideku bisa tertuang menjadi karya yang apik.
    terima kasih…

  8. ane suka belajar buat lirik lagu, gimana apa lirik lagu yang belum di publikasikan juga ada kemungkinan dimuat di media masa?

  9. Pak De kulo nulis niki :

    http://sanggarpenulisan.wordpress.com/2008/09/12/ibsn-gila-membaca-dan-menulis-1/

    http://sanggarpenulisan.wordpress.com/2008/09/12/ibsn-gila-membaca-dan-menulis-2/


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: