Oleh: husnun | Februari 25, 2008

Hemat Listrik

SEKARANG kita baru sadar, bahwa kita menjadi negara yang miskin listrik. Di Jakarta, orang-orang rebut karena listrik di rumah, di kantor dan di tempatnya bekerja padam. Di Medan, sudah beberapa bulan ini masyarakatnya disiksa oleh pemadaman yang bergilir. Tidak tanggung-tanggung, pemadaman itu sampai berhari-hari. Bukan hanya di Jakarta dan Medan, di tempat-tempat lain di Kalimantan, di Sulawesi di Maluku dan Papua sudah akrab dengan listri yang byar pet itu.

Di sini di Malang, kita belum merasakan itu. Pemadaman memang ada, tapi menurut keterangan PLN itu karena kerusakan teknis. Masyarakat di sini masih bisa menikmati listrik dengan leluasa. Peralatan listri di rumah bisa dioperasikan bersama ; komputer, TV, kulkas, mesin cuci, penanak nasi, setrika, radio, pengisap debu, AC dan lainnya. Imbauan untuk menghemat pemakaian listrik tampaknya tidak berlaku di sini.

Padahal, ancaman pemadaman listrik secara bergilir – kalau tidak segera ditangani jadi pemadaman permanent – mengintai para pemakai listrik di mana saja. Suplay listrik secara nasional terancam karena banyak faktor kerusakan lingkungan dan ketersediaan energinya. Mungkin saat ini kita masih leluasa memakai listrik tanpa takut tiba-tiba padam, tapi sampai kapan. Tidak ada yang bisa menjamin – PLN sekalipun – bahwa kita bisa menggunakan listrik secara leluasa.

Imbauan untuk menghemat listrik sudah disampaikan sejak beberapa tahun lalu. Ini terkait dengan tanda-tanda akan munculnya krisis energi. Lingkungan yang rusak dan harga minyak dunia yang terus membumbung menjadi ancaman. Tapi peringatan itu dianggap angin lalu. Bahkan banyak yang tidak tahu kalau pasokan listrik itu ada batasnya, suatu saat bisa habis. Perilaku boros listrik tak terbendung. Di rumah, banyak peralatan listrik yang dipakai 24 jam nonstop. Ketergantungan terhadap listrik tak bisa dikurangi. Padahal sebenarnya banyak yang bisa dilakukan untuk menghemat listrik.

Akibat dari pemborosan listrik itu kini sudah terasa. Listrik yang tadinya melimpah di negeri ini, kini mulai menjadi barang langka. Dari negara yang memiliki listrik melimpah ruah, berubah menjadi negara miskin listrik. Kalau ditilik lebih dalam, kemiskinan itu terjadi karena perilaku manusianya sendiri. Sudah banyak contoh, mengapa seseorang menjadi miskin, karena perilakunya sendiri.

Pemborosan dan pengeluaran tak terkendali terbukti telah membuat banyak orang menjadi miskin. Bukan hanya listrik, pemborosan telah membuat banyak orang menjadi miskin. Jangan dikira rakyat Amerika itu kaya. Kini mereka dililit kesulitan ekonomi yang akut. Kredit macet di bidang properti dan pemakaian kartu kredit yang tidak terkendali oleh rakyat negara Adikuasa itu menjadi bencana yang harus ditanggung negara. Maka, kalau ekonomi Amerika sudah mulai ‘’flu’’ maka negara lain – termasuk Indonesia – harus siap menanggung akibatnya.

Kemiskinan bukan turunan, tapi disebabkan perilaku. Dampaknya kemiskinan sungguh luar biasa. Kemiskinan bisa membuat orang menjadi kafir. Antara fakir dan kafir ternyata hanya beda tipis, selain karena huruf-hurufnya sama. Negara-negara di dunia kini sudah menyatakan perang terhadap kemiskinan. Ada yang berhasil ada yang belum. Banyak negara yang berhasil keluar dari jurang kemiskinan karena mampu mengubah perilaku rakyatnya untuk bekerja keras dan tidak boros.

Tapi banyak juga yang sampai sekarang masih berkutat dalam kemiskinan, seperti kita di Indonesia. Bukan karena negara kita tak punya sumber alam yang bisa dipakai untuk menyejahterakan rakyatnya, tapi perilaku boros dan rakus. Kita sudah menjadi negara yang miskin listrik karena perilaku pemakainya yang tidak terkendali. Sebentar lagi, kita akan kekurangan sumber energi yang lain, karena perilaku serupa. Maka, hemat listrik, hemat energi dan hemat uang Anda, bukan sekedar slogan.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: