Oleh: husnun | Maret 3, 2008

Selamat Jalan Kang Gito

 KETIKA mendengar Bangun Sugito meninggal dunia, saya tidak terlalu kaget. Ya, biasa-bisa saja, karena siapa saja bisa mati, apalagi dia sudah lama menderita sakit.  Apabila suatu saat dia dipanggil Yang Maha Kuasa, itu tidak terlalu mengagetkan. Bahkan kematian itu adalah jalan terbaik baginya, sesuatu yang dirindukannya. Impiannya untuk lebih mendekatkan diri kepada Sang Khaliq sudah tercapai. Bahkan sekarang dia sudah bertemu langsung. Entah, kebahagiaan apa yang dirasakan sekarang.

 Para sahabatnya ramai-ramai menyampaikan testimoni tentang kebaikan-kebaikan almarhum. Meskipun sebagian sisi kehidupannya berisi gambar yang kelam, tapi sisi lain akhir hayatnya justru berisi gambar yang indah. Sisa hidupnya diisi dengan aktivitas mengajak orang mendekatkan diri kepada Tuhannya.

 Banyak teman yang sudah didakwahi, termasuk para artis peran dan musik, tempat dia mengaktualisasikan dirinya. Salah seorang yang menjadi sasaran dakwah almarhum adalah sutradara Slamet Rahardjo Djarot. ‘’Dunia lu udah punya, segala the best lu udah dapat. Rugi dong kalau tidak salat.’’ Kata-kata itu sampai saat ini masih terngiang di teling sutradara yang jadi langganan Piala Citra itu. Kalau Slamet kemudian menjalankan salat, bisa jadi salah satunya pengaruh dari almarhum. Hal yang sama juga dialami Cok Simbara dan teman-teman almarhum sesama artis.

 Almarhum memberi pelajaran bagaimana dakwah yang baik. Dakwah tidak harus dengan kalimat bertensi tinggi, menghujat dan  mengafirkan sesama yang justru membuat orang lain lari. Almarhum bukan hanya mengajak dengan lisan, tapi langsung memberi contoh. Suatu saat, dia mengajak semua anggota keluarganya untuk itikaf di masjid. Ajakan itu kemudian membekas di hati anak-anaknya, karena dia tidak hanya menyuruh tapi memberi contoh.

 Kalau kita tahu sejarah masa lalunya, mungkin kematian seperti itu yang didambakan banyak orang. Ada ungkapan menggelitik : Muda foya-foya, tua kaya raya, mati masuk sorga. Tapi siapa bisa menjamin kehidupannya di masa datang. Ketika masa mudanya, penyanyi kelompok musik The Rollies itu tak pernah berpikir akhir hidupnya akan seperti itu, meninggal dunia setelah 11 hari berdakwah di Padang. Dulu, ketika dia masih akrab dengan alkohol dan  narkoba, sama sekali tidak terbayang dia akan menjadi pendakwah. Bahkan bisa jadi, hal-hal yang berbau agama itu ditabukan dalam hidupnya.

 Tapi siapa pula yang menyangka kalau akhir hidupnya berubah 180 derajat. Dia ingin mendekatkan dan semakin dekat kepada Tuhannya. Untuk ukuran awam seperti kita, apa yang dilakukan almarhum selama ini sudah lebih dari cukup. Dia mengabdikan sisa hidupnya untuk mengajak orang lain beribadah, amar makruf nahi munkar. Ibadahnya tekun, ahlaknya baik, layaknya calon penghuni sorga. Ketika hal itu ditanyakan kepadanya, dia menjawab bahwa yang dilakukan itu tidak sebanding dengan segala dosa yang pernah diperbuatnya.

 Segala kemungkaran, segala maksiat sudah dilakukannya. Bermacam narkotika sudah dihisap, segala macam khamer sudah ditenggaknya. Seakan-akan Tuhan sudah dibuang dari kehidupannya. Kalau kemudian dia bisa kembali ke jalan yang benar, itu hidayah terbesar dalam hidupnya. Dia diberi kesempatan untuk memperbaiki diri sebelum menghadapi pengadilan yang digelar oleh Hakim Yang Maha Adil. 

 Tapi ingat, tidak semua orang bisa seperti dia. Hanya sedikit yang bisa. Jangan coba berangan-angan seperti dia, karena kedatangan maut kita tak terduga. Tidak semua orang bisa berubah jadi baik saat akhir hidupnya. Tak sedikit yang saat muda ahli maksiat, saat tuanya tak berubah sampai akhir hayatnya.

 Untuk bisa menjadikan orang – insyaallah – khusnul khotimah –  itu hak prerogratif Tuhan. Almarhum memberi banyak pelajaran kepada kita. Sebelum nyawa melayang, kesempatan untuk bertobat masih sangat terbuka. Kita semua adalah pendosa, tapi kalau melihat dosa almarhum, mungkin kita masih lumayan. Tobat dengan memperbanyak ibadah adalah pilihan utama. Almarhum juga mengajarkan kepada kita bagaimana menjadi dai yang baik. Mengajak berbuat baik bukan dengan marah-marah, bukan dengan mencaci maki, menghujat, membawa pentungan dan pedang. Dengan kata yang lembut, santun ditambah dengan senyum yang tulus, justru membuat banyak orang kepincut.

 Selamat jalan Kang Gito. Dulu, saya mengagumimu saat bersama Deli, Dedi, Beny, Iwan dan kawan-kawan mengharu biru blantika musik Indonesia bersama The Rollies. Sekarang, saya mengidolakanmu dan meneladanimu.  

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Responses

  1. sungguh kita patut iri dengan akhir hidup bang gito .. semoga Allah mengampuninya dan kita termasuk orang-2 yang bisa mengambil pelajaran dari setiap kematian


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: