Oleh: husnun | Maret 24, 2008

Backpack Generation

ABAD 21 merupakan masa sulit bagi industri koran. Banyak yang meramalkan akan banyak koran berguguran karena ditinggal pembacanya. Gejala itu setidaknya sudah mulai dirasakan di Amerika, negara tempat industri koran paling maju di dunia. Ada yang mengatakan umur koran tinggal 50 tahun lagi, setelah itu akan menjadi cagar budaya atau benda peninggalan purbakala. Tak kurang dari bos media nomor satu di dunia, Rupert Murdock mengungkapkan pesimismenya tentang masa depan koran.

Banyak penyebabnya, salah satu diantaranya munculnya koran digital. Harus diakui, internet telah mengubah peradaban dunia yang mendobrak sekat-sekat pembatas teritorial, politik, budaya, sosial dan ekonomi. Internet berkembang sangat pesat sampai ke pelosok dunia. Banyak hal yang bisa diperoleh dari internet, salah satunya sumber informasi dan koran digital. Di Indonesia sudah banyak portal yang menyajikan berita-berita terkini, baik dari dalam negeri maupun dari segala penjuru dunia.

Anak-anak muda mulai keranjingan internet, terutama untuk mengakses informasi untuk kebutuhan mereka. Ada yang untuk kebutuhan pendidikan, bisnis, sharing informasi atau sekedar chatting. Di kota-kota besar, anak muda bisa mengakses internet di mana saja mereka mau. Ke mana-mana mereka membawa tas punggung (backpack) yang berisi notebook yang bisa dipakai mengakses internet melalui USB modem atau hotspot. Bebarapa kawasan publicsphere kini sudah dilengkapi hotspot yang memungkinkan mengakses informasi dengan cepat.

Anak-anak muda itu sambil duduk bersila di taman kota, di lorong kampus, di plaza, di lobi hotel, di bandara atau di ruang publik yang lain, bebas berselancar menembus dunia maya. Tak usah jauh-jauh ke Jakarta, kita bisa mengakses internet dengan bebas di gedung DPRD Kabupaten Malang di Kepanjen. Di gedung wakil rakyat itu kualitas hotspotnya sangat bagus dan cepat. Konon kabarnya karena jarang dipakai.

Melalui internet mereka bisa mendapat banyak informasi yang mereka butuhkan. Berita politik, sosial, budaya dan olahraga, tersaji secara realtime. Mereka bisa melihat hasil lomba Formula 1 di sirkuit Sepang Malaysia, begitu balapan usai. Bahkan sebelumnya bisa tahu siapa yang memenangi babak kualifikasi yang kemudian berhak menempati pole position. Ketika Kemas Yahya Rahman dicopot dari jabatan Jampidsus, beritanya sudah nongol di internet dalam waktu yang bersamaan. Informasi bursa saham atau pergerakan nilai dolar bisa dilihat secara cepat.

Backpack generation yang kini melanda dunia benar-benar menjadi ancaman serius bagi industri koran. Mereka tidak perlu lagi membaca koran secara fisik, tapi cukup melihatnya dalam format digital. Koran-koran digital melengkapi reporternya di lapangan dengan perangkat komunikasi seperti notebook, USB modem, kamera digital dan perangkat video streaming. Mereka tidak perlu lagi datang ke kantor untuk menyetor berita tulisa maupun gambar.

Kalau di lokasinya tidak ada hotspot, dia bisa mengirim berita melalui USB modem. Tapi ke depan, kawasan hotspot akan semakin banyak. Rasanya sudah kuno kalau hotel, mal, bandara, kampus atau kawasan publik lainnya tak memiliki hotspot. Di ruang tunggu Lanud Abd Saleh yang pengap saja sudah dilengkapi hotspot, apalagi lobi hotel yang mewah.

Kalau para industriawan koran di Amerika saat ini begitu risau dengan kehadiran backpack generation, pelaku bisnis koran di Indonesia masih bisa sedikit bernafas lega. Meskipun sudah banyak yang punya komputer, untuk tidak banyak yang punya internet. Meskipun sudah banyak yang berinternet, untung tidak banyak yang mengakses informasi berita. Kebanyakan para netter itu menghabiskan waktunya berjam-jam untuk ngobrol digital, bukan mencari tahu berita terbaru dari penjuru dunia.

Dengan wajah kuyu, seorang mahasiswa terheran-heran saat membaca berita koran pada pagi hari – dia baru pulang setelah semalaman di Warnet – ada jaksa yang tertangkap basah menerima suap. Itu menunjukkan kesadaran mengakses berita melalui membaca – baik di internet, apalagi di koran, masih rendah. Internet yang kaya informasi itu hanya dimanfaatkan sepersekian persen untuk ngobrol digital. Mungkin, backpack generation belum akan menjadi ancaman serius bagi industri koran di Indonesia, setidaknya dalam beberapa dasa warsa ke depan. Industriawan koran di Indonesia belum sangat khawatir, karena para netter itu menghabiskan waktunya berjam-jam hanya untuk menggosip.

 

 

 

 

 


Responses

  1. aduh cak ngomongin internet.. arek-arek iko nek ngenek sik digoleki bokep, donlod lagu… trus maen gem… liyane.. minim cak… cobaen nang warnet mesti sing akeh file ngono-2.. alhamdulillah saiki aku gak perlu nang internet.. ndek kantor wes onok🙂


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: