Oleh: husnun | Maret 29, 2008

Aku Ditegur Anakku

ADA sesuatu yang hilang dalam hidup saya beberapa hari ini. Anak saya yang ketiga, curhat pada ibunya. ‘’Kok sudah dua hari ini ayah tidak maghrib di rumah. Gak enak ya punya ayah pejabat, gak pernah di rumah, gak bisa jalan-jalan,’’ kata siswi SMA 3 Malang itu. Maksudnya, dia membandingkan temannya yang anak seorang pejabat, yang kesempatan untuk ketemu ayahnya sangat minim. Kalau ayahnya sih bukan pejabat, cuma belakangan kesibukannya bertambah. Belum jadi pejabat saja seperti itu, apalagi…

Belum habis rasa masygul saya, tiba-tiba si endut melontarkan pertanyaan yang menohok. ‘’Ayah kemana se, kok dua hari ini tidak maghrib bareng-bareng,’’ katanya saat saya antar pergi ke sekolah pada pagi hari.

Ya Allah, baru beberapa hari saya jadi anggota Panwaslu Pilkada Kota Malang dan Pilgub Jatim sudah ada yang berubah dalam siklus hidup saya. Sebenarnya saya mencoba untuk menerima keadaan ini, tapi tidak bagi anak-anak saya. Di rumah, kami punya kebiasaan untuk salat maghrib bareng-bareng di masjid yang letaknya tak jauh dari rumah. Sesibuk apapun di kantor, saya tinggalkan untuk pulang sebentar untuk menemui anak-anak dan istriku untuk pergi ke masjid bersama.

Sebuah rutinitas yang sangat menikmatkan. Maka ketika kenikmatan itu dikurangi, ada yang protes. Anak-anakku merasa kehilangan waktunya berkumpul bersama ayah dan ibunya. Sepekan setelah resmi punya gawean baru, kesibukan saya bertambah. Kalau pulang sampai larut malam, mungkin biasa, tapi kalau tidak menyempatkan pulang sebentar saat maghrib, pasti banyak yang bertanya.

Biasanya, kalau tidak pulang saat maghrib, saya selalu menyempatkan telepon ke rumah. Ada tamu, ada acara atau ada kepentingan lain, dan biasanya mereka mafhum. Dua hari belakangan ini saya tidak menyempatkan diri ‘’melapor’’ ke rumah. Bagi istri saya, itu tidak masalah, dia sudah tahu kesibukan saya, tapi tidak bagi anak-anak. Mereka merasa kehilangan.

Anak-anakku, maafkan ayahmu yang sudah ‘’merampas’’ sebagian waktu dan kebahagiaanmu. Ayah akan berusaha, sesibuk apapun untuk pulang maghriban bersama-sama di masjid dekat rumah. Doakan ayahmu selalu mendapat hidayah dari Allah yang Maha Kuasa.Amin.

 


Responses

  1. aduh kok sama ya cak…

    kalo pulang menjelang magrib.. trus mau keluar pasti anak saya yang ke dua (yang gambarnya tak jadikan avatar itu) nggandoli kaki saya… kadang saya sampe mau nangis… juga,,, tak pikir-pikir saya kadang keterlaluan… nggak ngajak maen mereka😦


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: