Oleh: husnun | April 8, 2008

kata leo batubara, wartawan harus jadi anjing penjaga

TAMPIL dalam sebuah seminar, mungkin biasa bagi saya. Tapi, Kamis (3/4) lalu seminar yang tidak biasa bagi saya. Kala itu saya diundang sebagai pembicara bersama Leo Batubara, wakil ketua Dewan Pers, Henry Subiakto, staf ahli Menkominfo dan Iman Nugroho, Ketua AJI Jawa Timur. Kami berempat tampil bersama dalam seminar bertajuk Independensi Media Massa Menghadapai Pemilu 2009 di gedung PPI Unmer.

Dari ketiga kawan sepanel itu, Pak Leo yang paling mengesankan. Bukan soal bicaranya yang meledak-ledak, khas orang Balige Sumut, tapi karena perubahan ‘’status’’ saya. Mengikuti seminar atau acara ilmiah yang lain dengan pembicara Pak Leo, saya selalu sebagai peserta. Sudah tidak terhitung lagi dia tampil sebagai pembicara di hadapan wartawan, redaktur, pemimpin redaksi atau pemimpin perusahaan pers. Tapi pekan lalu saya bersama dia sebagai pembicara.

Pak Leo masih seperti yang dulu – ketika kali pertama saya mengikuti seminarnya sekitar tahun 1998 – selalu berbicara keras kalau menyangkut pers. Dialah pembela pers Indonesia dari segala serangan, baik penguasa maupun pengusaha. Ketika Tempo digugat di pengadilan, dia tampil sebagai saksi ahli. Begitu juga saat wartawan diseret ke pengadilan karena tuduhan menghina pemerintah, dengan lantang dia membelanya.

Dia tidak setuju wartawan diadili karena kesalahan profesionalnya. Tapi dia setuju wartawan dihukum seberat-beratnya kalau menjadi pemeras, tukang todong dan tindakan kriminal lainnya. Bukan itu saja, Pak Leo menunjukkan simpatinya dengan mengunjungi wartawan Risang Bima Wijaya yang mendekam di penjara Yogyakarta karena tuduhan pencemaran nama baik. Wartawan lain yang tersangkut hukum tak pernah luput dari perhatiannya.

Perjuangan Pak Leo tak pernah surut untuk menempatkan wartawan sebagai profesi terhormat. Kekagumannya kepada Muchtar Lubis tak pernah lekang sampai kini. Wartawan – dalam pandangannya – adalah pejuang bangsa. Sejak negeri ini berjuang merebut kemerdekaan, wartawan memegang peran yang sangat strategis. Bahkan sebagian besar tokoh pejuang kemerdekaan berlatar belakang wartawan. Sebut saja Ir Sukarno, Dr Sutomo, Tjokroaminoto dan lainnya.

Dengan semangat pejuang itulah para wartawan mengkritisi ketidakberesan pemerintah. Almarhum Muchtar Lubis beberapa kali masuk penjara karena membongkar kebobrokan pemerintah. Pada era Orde Baru Suharto menyeretnya ke penjara karena membongkar skandal korupsi di Pertamina. Tapi sejarah tidak hanya mencatat wartawan pejuang. Saat Muchtar Lubis berjuang melawan tindakan represif pemerintah, rekan-rekannya justru sowan kepada Suharto sambil mengibarkan bendera putih. Wartawan yang takluk itu kemudian menjadi orang dekat Suharto. Adam Malik diangkat sebagai menteri luar negeri kemudian wakil presiden dan Harmoko menjadi menteri penerangan tiga periode berkat ‘’atas petunjuk presiden.’’ Hal yang sama juga dialami BM Diah.

Di era sekarang ini Pak Leo masih memegang romantisme masa lalu, minta agar wartawan tetap menjadi pejuang. Wartawan harus berjuang memerangi korupsi, kemiskinan dan ketidakberesan lainnya. Dia sangat prihatin dengan korupsi yang merajalela dengan wartawan menjadi bagian di dalamnya. Para penguasa dan pengusaha, diminta untuk tidak menyogok wartawan. Biarkan wartawan bekerja dengan nuraninya, jangan digoda dengan kepentingan uang dan jabatan.

Wartawan harus menjadi watchdog, yang selalu menggonggong manakala mencium ketidakberesan. Biarkan wartawan menjadi anjing herder, bulldog yang selalu menyalak setiap kali menjumpai sesutu yang busuk. Jangan jadikan wartawan sebagai anjing pudel yang cantik yang diam saja di pangkuan tuannya. Masyarakat juga diminta untuk tidak menggoda wartawan untuk menjadi kepala daerah atau anggota dewan. Biarkan wartawan tetap berada pada ‘’maqamnya’’, ranah perjuangan.

Usai seminar, Pak Leo menyalami saya. ‘’Tetaplah jadi wartawan, saya salut kalau Anda tidak tergoda untuk menjadi pejabat,’’ katanya dengan genggaman tangan dengan sangat kuat.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: