Oleh: husnun | April 15, 2008

kuliah media relations fisip unmer

Perkembangan Pers Indonesia (2)

Perkembangan pers Indonesia pasca-reformasi yang tidak terkendali menyebabkan kepercayaan masyarakat kepada pers menjadi menurun. Ini berakibat serius pada kelangsungan kehidupan pers di Indonesia, karena masyarakat mulai meninggalkannya. Ratusan penerbitan yang tumbuh subur, satu per satu mulai berguguran. Penerbitan yang tadinya begitu hebat dan berkuasa itu tiba-tiba hilang tak berbekas.

Memang pemerintah sudah menghapus kebijakan untuk membredel media, tapi bredel yang dilakukan oleh masyarakat jauh lebih mengerikan. Kalau masyarakat sudah apriori kepada media, jangan harap media itu bisa bertahan lama. Media yang tumbuh subur memanfaatkan eforia masyarakat menyambut reformasi, akhirnya tumbang tak bersisa. Yang mampu bertahan justru media yang diterbitkan sejak lama, jauh sebelum era reformasi.

Ada beberapa kelompok bisnis media yang berkembang di Indonesia

  1. Koran daerah

Umumnya Koran daerah diterbitkan sejak zaman kemerdekaan. Mereka mampu bertahan sampai saat ini karena bisa memenuhi kebutuhan pembaca di daerahnya. Meskipun peredarannya terbatas – hanya dalam wilayah provinisi – tapi mereka memiliki pembaca yang cukup banyak yang bisa menunjang keberlangsungan hidupnya.

Ciri-ciri Koran daerah :

Beritanya didominasi berita daerah

Menonjolkan unsur kedaerahan

Peredarannya terbatas di satu provinsi

Dikelola perusahaan keluarga

Kalau melihat kelahirannya, maka koran daerah itu sudah berganti pengelola kepada generasi berikutnya. Karena perusahaan keluarga, maka generasi penerus itu adalah anak keturunan pendirinya. Meskipun demikian, tidak semua generasi penerus mau menggeluti bisnis orang tuanya. Ada beberapa koran daerah yang menyerahkan pengelolaannya kepada manajemen profesional. Berkat pengelolaan manajemen profesional itulah maka koran daerah menjadi kekuatan yang sangat diperhitungkan.

Bahkan pada tahap berikutnya berganti pemilik, karena tidak mampu mengimbangi penyertaan saham oleh pengelola baru.

Koran-koran daerah yang masih mampu bertahan sampai saat ini :

1. Kedaulatan Rakyat (Jogjakarta)

2. Pikiran Rakyat (Bandung)

3. Singgalang (Padang)

4. Waspada dan Analisa (Medan)

5. Banjarmasin Post (dikelola oleh Grup Kompas)

6. Pedoman Rakyat (Makassar)

7. Bali Post (Denpasar)

8. Suara Merdeka (Semarang)

  1. Koran Ibu Kota

Perkembangan Koran yang terbit di ibu kota Negara mengalami pasang surut. Beberapa nama koran yang sudah berumur tidak bisa bertahan hidup karena sulit bersaing dengan koran baru. Nama-nama seperti Berita Buana, Berita Yudha, Merdeka, Suara Karya dan beberapa nama lain, sulit untuk bertahan hidup. Koran lama itu digantikan generasi baru seperti Media Indonesia, Republika, Indo Pos, Seputar Indonesia. Sedangkan Kompas melesat jauh ke depan sebagai salah satu konglomerat pers di Indonesia.

3. Konglomerat Pers Indonesia

Bisnis pers memiliki prospek yang sangat bagus. Tak heran bila banyak pengusaha yang ingin terjun ke bisnis ini. Beberapa nama besar dalam dunia usaha Indonesia, pernah mencoba bisnis ini, tapi banyak yang berguguran. Sampai saat ini, hanya ada dua kelompok besar yang menguasai bisnis pers di Indonesia yang Kelompok Kompas dan Jawa Pos. Kedua kelompok inilah yang menguasai bisnis Koran di Indonesia

A. Kelompok Kompas

Kelompok usaha ini dengan tulang punggung harian Kompas yang merupakan harian terbesar di Indonesia. Selain di bisnis media, kelompok ini juga bergerak dalam bidang perhotelan, penerbitan dan bisnis lain. Pernah juga terjun ke dunia televisi dengan mendirikan TV 7 tapi kemudian dijual ke kelompok Trans TV yang kemudian namanya berubah menjadi Trans 7.

Dalam bisnis Koran, kelompok kompas memiliki anak perusahaan, baik di Jakarta maupun di daerah. Di Jakarta, selain harian Kompas juga ada tabloid Bola, Nova, Otomotif, Senior, Kontan dan beberapa tabloid dan harian lainnya. Sedangkan di daerah, kelompok ini memiliki anak perusahaan Harian Surya (Surabaya), Banjarmasin Post (Banjarmasin), Sriwijaya Post (Palembang), Serambi Indonesia (Aceh) dan Pos Kupang (Kupang). Anak-anak perusahaan Kompas terus berkembang dengan terbitnya harian yang diberi nama Tribun. Diantaranya, Tribun Timur (Makassar), Tribun Kaltim (Balikpapan) dan Tribun Batam (Batam).

Kehadiran kelompok kompas dalam bisnis Koran daerah ini tampaknya untuk mengejar ketertinggalannya dengan pesaingnya, Kelompok Jawa Pos yang memiliki banyak anak perusahaan di daerah. Koran-koran daerah yang sudah ada sebelumnya dianggap kurang bisa menyaingi perkembangan Koran daerah milik Kelompok Jawa Pos. Maka diterbitkannya harian Tribun yang berhadapan langsung dengan anak perusahaan Jawa Pos. Misalnya, Tribun Timur bersaing langsung dengan Harian Fajar, salah satu anak perusahaan terbesar milik Jawa Pos di Makassar. Tribun Kaltim bersaing dengan Kaltim Post di Balikpapan. Sedangkan Tribun Batam bersaing dengan Batam Post.

B Kelompok Jawa Pos

Kalau dilihat dari jumlah perusahaannya, maka kelompok ini merupakan yang terbesar di Indonesia dengan jumlah tiras lebih dari satu juta eksemplar tiap hari. Sama seperti Kompas, maka kelompok ini menggunakan Harian Jawa Pos sebagai tulang punggungnya. Jawa Pos sebenarnya sudah terbit sejak tahun 50 an, tapi jumlah peredarannya terbatas di Surabaya saja. Tahun 1982 harian ini diambil alih oleh Majalah Tempo. Setelah itu Jawa Pos berkembang pesat sebagai koran daerah dengan tiras yang cukup besar. Ambisi Jawa Pos waktu itu adalah menjadi koran daerah yang mampu bersaing dengan dari Jakarta. Ini bisa dimaklumi, karena waktu itu masyarakat hanya menganggap koran Jakarta sebagai bahan bacaan, sementara koran daerah diabaikan.

Setelah tumbuh pesat, Jawa Pos kemudian mengembangkan diri dengan mengembangkan anak perusahaan, baik di Surabaya – sebagai basisnya – maupun di daerah lain terutama luar Jawa. Pengembangan anak perusahaan waktu itu dilakukan dengan mengambil alih koran daerah yang kurang berkembang. Tentu saja kerja sama ini dengan komposisi modal lebih dominan kelompok Jawa Pos agar bisa menguasai perusahaan.

Pengambilalihan ini dilakukan di Balikpapan, Makassar, Riau, Palembang, Ambon, Jayapura, Pontianak dan kota-kota lain. Inilah anak perusahaan generasi pertama yang lahir melalui pengambil alihan perusahaan. Sekarang, anak-anak perusahaan itu sudah berkembang pesat menjadi Koran daerah yang sukses. Sama seperti induknya, kini perusahaan itu sudah berkembang dengan beberapa anak perusahaan. Bahkan kini anak perusahaan Jawa Pos itu menjadi kekuatan besar di daerah.

Jumlah anak perusahaan Jawa Pos semakin berkembang setelah pemerintah mempermudah prosedur penerbitan Koran, sekitar tahun 1998. Sejalan dengan itu jumlah anak perusahaan Jawa Pos terus berkembang. Kalau sebelumnya hanya di ibukota provinsi, sekarang berkembang sampai ke kota dan kabupaten.

RADAR

Selain membentuk anak perusahaan dengan koran yang terbit sendiri, Jawa Pos juga membentuk anak perusahaan Radar di Jawa Timur. Ini tidak seperti anak perusahaan yang lain yang berdiri sendiri, tapi bagian dari suplemen Jawa Pos yang hanya diterbitkan di Jawa Timur dan sebagian Jawa Tengah. Yakni, Radar Malang, Radar Bromo (Probolinggo), Radar Banyuwangi, Radar Jember, Radar Kediri, Radar Tulungagung, Radar Madiun, Radar Mojokerto, Radar Bojonegoro. Sedangkan di Jawa Tengah ada Radar Semarang, Radar Jogja dan Radar Solo.

Perkembangan anak perusahaan Jawa Pos sangat pesat, sejalan dengan pelaksanaan otonomi daerah yang memungkinkan daerah mampu berkembang lebih baik.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: