Oleh: husnun | Mei 13, 2008

Kiat Bermitra dengan Pers (

Hubungan dengan Pers, Seberapa Jauh
Oleh : Atmakusumah *
Keluarga hubungan masyarakat (Humas, publick relations)” dan “keluarga pers” memang berasal dari satu rumpun, yaitu keluarga komunikasi. Akan tetapi, haruslah diakui bahwa dalam kenyataannya kedua keluarga ini hidup secara terpisah berhubungan dengan perbedaan fungsi dan tugasnya.
Benar, terdapat persamaan fungsi dan tugas pada kedua keluarga ini. Keduanya mengembangkan keterbukaan agar dapat memberikan layanan informasi kepada khalayak ramai (audience) seluas mungkin. Dengan demikian, keduanyan berpijak pada kebenaran dan penganut asas kepentingan umum.
Humas, seperti juga pers, dengan demikian, tidak selayaknya membangun “tembok pemisah” antara kebenaran dan khalayak. Karena, hasil kerja atau karya humas merupakan bagian dalam jalinan “komunikasi dua arah” antara instansi, lembaga, atau perusahaan – yang diwakili oleh humas – dan masyarakat luas.
Akan tetapi, apa boleh buat, antara “keluarga humas” dan “keluarga pers” juga terdapat perbedaan dalam fungsi dan tugasnya. Keterbukaan humas, bagaimanapun, bisa terbatas karena harus memelihara citra perusahaan, lembaga, atau instansinya.
Sebaliknya, dalam keterbukaan ini pers hampir tidak terbatas karena pers “dikodratkan”, sesuai dengan tradisi dan sejarahnya, untuk mewakili khalayak ramai dalam upaya memperoleh informasi selengkap dan semendalam mungkin. Tidaklah jarang terdapat bahwa citra narasumber, yang mungkin diwakili oleh humas, bahkan bisa dikorbankan oleh pers demi kepentingan umum yang lebih luas. Disinilah kadang-kadang terjadi ketegangan, bahkan konflik, dalam hunbungan humas dengan pers.
Akan tetapi, harap pula dimaklumi bahwa yang dimaksudkan dengan “khalayak ramai”, yang sering kali hanya dapat mengharapakan informasi lengkap dari pers semata-mata, termasuk juga kalangan narasumber sendiri,yakni kalangan perusahaan, kalangan lembaga, dan kalangan instansi, disamping kalangan umum yang lebih luas.
Jadi sesungguhnya ada kepentingan timbal-balik anatara humas dan pers. Dan oleh karena itu, diperlukan saling pengertian antara keluarga ini. Saling pengertian tentang kesamaan – dan juga perbedaan – dalam fungsi dan tugas masing-masing.
Lagi pula, pers menyalurkan informasi bukan semata-mata demi menyebarkan informasi an sich, melainkan dalam tindakan ini terkandung kepentingan yang lebih luas, yakni ikut menciptakan suatu masyarakat yang lebih syarat informasi (well informed), yang kaya akan informasi yang benar dan berimbang, yang tidak menyesatkan, yang melegakan batin, dan yang mencerahkan dalam pikiran. Informasi yang memperkaya saling pengertian antar manusia dan yang dapat membimbing khalayak untuk memahami arah kehidupan yang hendak ditempuh pada masa kini dan masa depan.
Hanya dengan berbekal Informasi yang lengkap dan benar khalayak dapat menjadikan informasi itu sebagai basis untuk berpikir, atau bahkan sebagai pedoman, agar dapat mengambil keputusan yang tepat sebagai pedoman, agar dapat mengambil putusan yang tepat bagi perbaikan nasibnya.

“Konflik Kepentingan” Humas dan Pers
Inti permasalahan yang dapat menimbulkan “konflik” antara humas dan pers adalah definisi “berita”. Organisasi atau lembaga bukan-pers menginginkan berita mereka disiarkan secara menyengkan atau menguntungkan, sehingga dapat dipromosikan tujuan-tujuan mereka dan tidak akan menyebabkan kesulitan bagi mereka. Akan tetapi, pers sebaliknya menghendaki publikasi berita yang isinya terutamasekalimenjadi kepentingan pembaca, pendengar atau penonton dari media pers cetak, siaran, dan siaran televisi.
Walaupun demikian, untuk dapat menjalankan tugasnya efektif, humas perlu memiliki keprcayan kepada pers, seperti juga mereka memberikan kepercayaan sepenuhnya kepada organisasi-organisasi atau lembaga-lembaganya sendiri tempat mereka bekerja. Dengan sikap itu humas dan pers sebenarnya dapat menjalankan peranan masing-masing dalam hubungan yang saling tergantung.
Memang, kedua pihak ini kadang-kadang “bekerja sama” sebagai “lawan”, tetapi kadang-kadang juga sebagai “mitra” atau “kolega”, sesuai dengan kepentingan masing-masing. Akan tetapi, dalam posisi apapun “kerja sama” itu, kadang-kadang pers menjadi tergantung pada humas, baik sebagai sumber berita maupun “pengontrol” berita.
Sebaliknya, pers sering kecewa dan mengeluh tentang humas karena humas terlalu sering mengirimkan siaran pers yang isinya tidak menarik dan ditulis dengan susunan dan bahasa yang buruk. Siaran pers itu ditulis panjang lebar, dengan harapan disiarkan seluruhnya, pada fakta-faktanya sedikit sekali hanya kata-katanya yang melimpah.
Humas kadang-kadang lupa bahwa pers selalu menghadapi keterbatasan. Keterbatasan mengenai ruangan halaman Koran dan majalah atau keterbatasan dalam waktu siaran. Pers juga harus berhadapan dengan desakan untuk bekerja cepat dan tuntutan agar isi berita menarik bagi pembaca, pendengar, atau penonton.
Pers juga mungkin kekurangan tenaga kerja. Atau, kekurangan tenaga ahli yang diperlukan untuk meliput atau menyunting bertita berisi permasalahan yang kian hari kian luas dan semakin kompleks.
Keterbatasan ruangan halaman dan waktu siaran menyebabkan pers harus memendekkan atau memadatkan beritanya, yang kadang-kadang menimbulkan distorsi terhadap berita yang kompleks.
Oleh karena itu, humas harus belajar untuk hidup dengan kenyataan bahwa dorongan atau tekanan terhadap pers sangat keras dan sangat cepat.

Sekutu Media atau Musuh Kebenaran ?
“Hubungan antara praktisi hubungan masyarakat dan wartawan mengalami kendala karena petugas humas perlu menjual produk, sedangkan redaktur dilahirkan untuk menolak dijual kepada….Inilah problem sentral yang kita hadapi anda ingin menjual produk anda, tetapi kami tidak ingin membelinya. “Itulah masalahnya, seperti dikatakan oleh Louise Adler, redaktur seni surat kabar harian The Age di Melbourne, Victoria, Australia, ketika berbicara dalam diskusi “PR Forum ‘95” bertema “Hubungan Masyarakat Sekutu Media atau Musuh Kebenaran ?”
Akan tetapi, menurut pembicara lain pada forum yang sama, Shane Scanton, seorang konsultan perusahaan humas di Negara bagian Victoria, “Kadang kala saja humas dapat disebut sebagai musuh kebenaran, dan tentunya, menurut pandangan saya, tidak lebih sering daripada wartawan”.
Pembicara lain lagi, James McCausland, manajer keuangan sebuah perusahaan humas, berpendapat : “Berita lebih sensasional dari pada factual….Berita adalah tentang kepemilikan kebenaran, tetapi ada banyak versi tentang kebenaran. “Pada hematnya, humas tidak bertentangan dengan etika jurnalistik, melainkan merupakan pelengkap (Complement). Memang diakuinya, “Ada ketegangan antara humas dan media, tetapi pada kedua pihak terdapat kebenaran”.
Menurut Jim Macnamara, mantan wartawan yang pernah mengadakan penelitian mengenai dampak humas terhadap media, lebih dari separuh dari seluruh wartawan yang dimintai pendapatnya mempunyai pandangan yang negative tentang humas. Akan tetapi, 70% mengakui bahwa mereka pernah menggunakan bahan berita dari kalangan humas.
Macnamara mengatakan, “konsumen media (pembaca surat kabar atau majalah) tanpa sadar setiap hari membaca siaran pers, baik dimedia bermutu, maupun dimedia popular, yang tersembunyi dibalik tabir persekongkolan antara wartawan dan (kaum professional) humas”.

Hubungan Ideal Humas dengan Pers
Lalu, hubungan seperti apakah yang dapat dianggap ideal anatara kalangan humas dan para pengelola media pers. Beberapa panduan berikut ini agaknya dapat membantu menghindari konflik, setidaknya friksi, antara humas dan pers.
• Berikan kepercayaan kepda pers untuk menjalankan fungsi yang sesungguhnya, yakni bebas menyalurkan informasi seluas-luasnya dan bebas pula menyajikn pendapat, baik pendapat masyarakat maupun pendapat pers itu sendiri. Kita mengetahui bahwa kebebasan menyalurkan informasi dan menyajikan pendapat sangatlah penting bagi pendidikan masyarakat. Perlu pula diingat bahwa kebebasan pers bukanlah semata-mata untuk kepentingan pers itu sendiri, melainkan terutama sekali demi kepentingan kebebasan masyarakat pada umumnya.
• Jangan menekan pers untuk kepentingan pihak penekan karena cara seperti ini akan merugikan nama baik pihak penekan dan juga merugikan khalayak ramai (masyarakat) yang memerlukan informasi dan pandapat yang objektif dan jujur.
• Sebaliknya, adakan kerjasama professional dengan pers bagi kepentingan kedua pihak (humas dan pers) dan juga demi kemaslahatan khalayak ramai (masyarakat).
• Apabila terjadi konflik antara humas dan pers karena masalah pemberitaan, gunakan jalur-jalur yang secara universal sudah diuji manfaatnya. Urutan jalur-jalur dibawah adalah urutan prioritas dalam upaya menyelesaiakan konflik pemberitaan dengan media pers.
• Menggunakan hak jawab untuk menanggapi pemberitaan yang merugikan (nama baik) dan menggunakan hak koreksi bagi pemberitaan yang tidak akurat, dengan langsung mengirim surat kepada redaksi media pers yang bersangkutan.
• Mengadukan pemberitaan yang merugikan kepada Dewan pers (dapat juga kepada dewan kehormatan persatuan wartawan Indonesia, atau majelis kode etik aliansi jurnalis independen). Atau, meminta dewan pers melakukan mediasi antara pengadu dan media pers yang diadukan berhubungan dengan pemberitaan.
• Bila perlu benar, dapat digunakan jalur hukum untuk menanggulangi masalah pemberitaan yang mencemarkan nama baik dan menyelesaikannya sampai kepengadilan.
• Jalur lain yang dapat ditempuh, walaupun tidak begitu lazim, ialah seperti yang disarankan oleh Komisi 1 dewan perwakilan rakyat dalam pertemuan dengan dewan pers dan organisasi-organisasi pers pada tahun 2000, yakni memboikot media pers yang oleh komisi 1 DPR disebut “Media yang tidak jujur”. Yang dimaksudkan oleh komisi 1 DPR adalah media pers yang tidak memperhatikan hak jawab khalayak atau public atau subjek berita dan narasumber.

*)Dikutip dari buku : Panduan Praktis Kehumasan
Bermitra dengan Pers, Melepas Isolasi Dunia Bisnis


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: