Oleh: husnun | Mei 18, 2008

catatan kebangkitan nasional

Bangkitlah Sekarang
BESOK, 20 Mei 2008, kita memperingati Satu Abad Kebangkitan Nasional. Satu abad yang lalu, Dr Sutomo mendirikan Budi Utomo yang kemudian dianggap sebagai tonggak kebangkitan bangsa dari belenggu penjajahan. Sudah berabad-abad bangsa Indonesia hidup dalam keterpurukan akibat dominasi penjajah yang tidak memberi ruang gerak berekspresi bagi bangsa ini.
Setelah satu abad, kita merasa perlu untuk memperingati Kebangkitan Nasional dengan besar-besaran – biaya besar dan pengorbanan besar. Seorang actor dan politisi yang dikenal lurus, Sophan Sophiaan, tewas dalam kecelakaan motor besar saat melakukan tur dalam rangka memperingati Seabad Kebangkitan Nasional. Dulu, ketika Dr Sutomo mendirikan Budi Utomo, kita tidak tahu berapa besar pengorbanannya.
Kebangkitan Nasional perlu digelorakan lagi dengan semangat yang sama seperti yang dilakukan seabad yang lalu. Kalau dulu, kita ingin segera bebas dari kungkungan kolonialisme Belanda yang membuat bangsa ini ternista, sekarang pun semangat itu perlu dikumandangkan. Bangsa kita tengah terjajah. Bedanya, kalau dulu bangsa kita betul-betul menderita lahir dan batin. Segala hal yang berkaitan dengan kebebasan diharamkan. Bangsa ini diam saja ketika kekayaan alamnya dikeruk habis-habisan dibawa ke Belanda untuk membangun negara Kincir Angin itu.
Sekarang pun kita tengah terjajah. Bedanya, penjajah itu tidak berwujud kekuasaan kolonialisme yang kejam menyengsarakan secara fisik. Penjajahan modern itu justru memberi kenikmatan, membuat orang terlena, tak sadar bahwa kehormatannya sebagai bangsa tengah dirampas. Kedaulatan bangsa tengah terancam. Dalam bidang ekonomi kita nyaris menjadi bangsa yang tidak merdeka, karena segala keputusan yang berkaitan dengan hajat hidup orang banyak, masih tergantung pihak luar.
Penjajahan ekonomi itu bukan saja dalam bentuk pengaruh kebijakan perekonomian nasional, tapi sudah sampai pada pencaplokan perusahaan-perusahaan nasional. Siapa sangka kalau apa yang kita makan itu hasil dari perusahaan asing. Uang yang kita simpan di bank, dikelola orang asing. Pulsa yang kita pakai sehari-hari, keuntungannya masuk ke kantong pengusaha asing. Tidak usah bicara yang besar-besar seperti Freeport dan Caltex, tapi jajan yang dimakan anak-anak kita itu berasal dari produk asing. Produk pertanian yang dulu menjadi identitas Indonesia sebagai negara agraris, mulai dipinggirkan, tersaing oleh produk luar negeri. Dengan dalih perdagangan bebas, petani kita hanya bisa menjadi penonton membanjirnya produk pertanian impor di pasar-pasar mereka. Petani apel di Batu hanya bisa memandang iri, apel Washington, apel China, apel New Zealand dan apel Australia meminggirkan apel produk kebun mereka.
Penjajahan modern justru lebih berbahaya, kerena tidak ada kekerasan fisik atau pemaksaan bersenjata. Yang ada justru iming-iming yang menina bobokan bangsa agar menjadi konsumen produk-produk internasional. Ironisnya, para petinggi kita begitu menikmati hidup dalam kangkangan penjajah. Para pemimpin kita seolah-olah tak punya keberanian untuk berkata ‘’tidak’’ untuk intervensi asing.
Kita sebenarnya rindu kepada Bung Karno yang sangat keras menolak pengaruh asing dalam kehidupan bangsa ini. Semangat itulah yang kini ditiru oleh Mahmoud Ahmadinejad, Evo Morales dan Hugo Chaves yang dengan gagah berani menolak campur tangan asing di negerinya. Ahmadinejad, Morales dan Chaves adalah sedikit orang yang mewarisi semangat kemandirian dan keberanian Bung Karno. Mereka adalah anak ideologis Bung Karno, karena mewarisi semangat dan perjuangannya. Kita tunggu, apakah anak biologis Bung Karno bisa mewarisi semangat itu, sama seperti Ahmadinejad, Morales dan Chaves.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: