Oleh: husnun | Juni 13, 2008

mahasiswa mental pengemis

Mahasiswa Miskin

BAYI dinilai dari tangisnya. Kalau tangisnya keras, konon katanya, bayi itu kuat dan sehat. Sebaliknya, kalau tidak pernah menangis, justru diragukan kondisinya. Kalau bayi menangis, maka perhatian orang di sekitarnya akan tersedot kepadanya. Dia cepat-cepat ditolong, diteteki atau disuapi. Tapi kalau bayi diam saja, tak ada yang memperhatikan, karena semua mengira dia baik-baik saja, tidak perlu ditolong.

Para mahasiswa kini tengah menjadi pusat perhatian, karena demo mereka menentang kenaikan BBM. Mereka menggelar protes di mana-mana. Bukan sekedar demo, tapi sudah dibumbui tindak kekerasan melawan polisi. Sejak diumumkan akhir bulan lalu, kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM tak pernah sepi dari unjuk rasa. Hampir semua mahasiswa di seluruh Indonesia menggelar unjuk rasa, mulai dari Banda Aceh sampai ke Jayapura.

Aksi mahasiswa yang menggelar aksi serempak itu, mirip dengan aksi pendahulu mereka tahun 1998 saat mereka menjatuhkan Suharto. Bedanya, waktu itu mahasiswa sepakat minta Suharto segera turun. Tapi sekarang, mahasiswa minta harga BBM dan berbagai kebutuhan pokok diturunkan. Mereka juga menuntut agar SBY dan JK juga mundur dari jabatannya.

Bedanya lagi, kali ini pemerintah langsung tanggap dengan aksi mahasiswa itu. Sebuah paket cerdas disiapkan : mahasiswa miskin diberi bantuan untuk kelancaran studinya. Pro-kontra di kalangan mahasiswa pun bermunculan – biasa, kalau berkaitan dengan uang selalu menimbulkan pertentangan. Ada yang setuju, karena bisa meringankan beban mereka, tapi ada juga yang menolak dengan dalih itu adalah suap pemerintah agar mahasiswa menghentikan aksinya.

Bersimpati kepada mahasiswa, dengan memberi mereka uang, pernah dilakukan penguasa Orde Baru tahun 70-an sampai 90-an. Berbagai paket beasiswa diberikan kepada mahasiswa. Bahkan pemerintah melalui bank BUMN memberikan kredit kepada mahasiswa yang kala itu kondang dengan sebutan KMI (Kredit Mahasiswa Indonesia). Aksi ‘’suap’’ yang dilakukan pemerintah waktu itu bersamaan dengan program NKK (Normalisasi Kehidupan Kampus) pasca-aksi unjuk rasa menentang modal asing dan Malari. Program itu berhasil menempatkan mahasiswa hanya berkutat di kampus, tidak keluyuran ke jalan berdemo. Bagi mahasiswa yang memiliki prestasi akademik bagus, mereka diberi bea siswa. Banyak lembaga yang memberi bea siswa, termasuk Yayasan Supersemar yang dibentuk Suharto. Mahasiswa yang menerima bea siswa ditentukan dari indeks prestasi tiap semester. Kalau nilainya bagus, bea siswa terus dikucurkan. Sebaliknya, kalau nilainya turun, bantuan pun distop. Penilaian ini lebih objektif dibanding penilaian berdasarkan kemiskinan. Sudah lazim di masyarakat kita, kalau akan diberi bantuan akan banyak yang mengaku tidak mampu. Tapi, kalau mau mengajukan kredit berlomba menjadi orang kaya.

Ini beda dengan kebijakan sekarang yang memberikan bantuan kepada mahasiswa tidak mampu. Nantinya akan banyak mahasiswa yang mengaku miskin agar mendapat bantuan dari pemerintah. Bahkan mereka yang sebenarnya mampu, akan berusaha memanipulasi data agar menjadi orang miskin. Ada dua aib yang dilakukan para mahasiswa itu. Pertama, mereka berbohong dengan menyebut dirinya miskin. Ada kebanggaan menjadi orang miskin dengan harapan banyak orang yang memberi. Kedua, kebijakan ini akan membentuk mental kere, lebih senang disantuni daripada memberi. Tangan selalu di bawah siap menerima bantuan.

Kalau ada yang menolak rencana bantuan kepada mahasiswa ini bukan pada upaya untuk membungkam mahasiswa agar tidak terus demo, tapi pada dampak negatif rusaknya mental anak muda. Kebijakan itu mengajarkan anak muda menjadi pengemis, menunggu bantuan tanpa ada inisiatif. Diam saja, sambil menunggu, siapa tahu ada yang memberi. Ini kondisi yang tidak sehat bagi generasi muda yang seharusnya lebih tangguh, tahan banting menghadapi persaingan masa depan yang lebih ketat.

Bagaimana mahasisa bermental pengemis itu akan bersaing di era global yang penuh tantangan. Entah apa yang akan terjadi kelak saat mereka lulus. Yang jelas, jangan harap para pengemis intelektual itu bisa menciptakan lapangan kerja, cari kerja untuk diri sendiri saja tidak bisa. Negara ini akan banyak memproduksi pemalas dan koruptor.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: