Oleh: husnun | Agustus 9, 2008

Sadaqah Memang Luar Biasa

Saya ingin berbagi cerita tentang sadaqah yang luar biasa. Balasan terhadap sadaqah bisa saja dalam waktu sekejap, menunggu beberapa waktu dan yang pasti di akhirat nanti. It’s true story : Suatu malam sepulang maghriban di masjid, datang seorang tamu ke rumah. Saya tidak kenal, tapi dia mengaku kenal saya, bahkan sangat akrab. ‘’Yak nopo kabare, bah, pun dangu boten kepanggih (Gimana kabarnya bah, sudah lama tidak ketemu). Wah, tamu kok sok akrab begini. Selidik punya selidik, ternyata dia mengaku Aremania (supporter Arema) yang sering ketemu saya di Stadion saat menyaksikan pertandingan Arema. Pria itu adalah salah satu pengasong yang berjualan makanan saat pertandingan Arema.

Meskipun saya tidak kenal, tapi dia terlanjur bicara sangat akrab dan punya referensi yang banyak tentang saya, akhirnya saya pun mengimbanginya, sok akrab. Setelah bicara ngalor ngidul, sampailah dia pada inti persoalan. Dia mengeluarkan tas kresek yang berisi botol plastic cairan infuse. Rupanya dia baru pulang dari rumah sakit, menunggu istrinya yang akan operasi.

Biaya operasinya cukup besar dan sangat berat bagi seorang pengasong seperti dia. Tapi dia sudah berusaha, BPKB Honda CB miliknya, sudah ‘’disekolahkan’’ di sebuah Koperasi Serba Usaha. Uangnya untuk biaya istrinya selama di rumah sakit. Tapi ada yang kurang, dia harus menyediakan darah untuk istrinya saat operasi. Nah, untuk mendapatkan darah dari PMI itu dia harus menyediakan uang Rp 250 ribu. Uang itulah yang saat itu tidak ada dalam dompetnya.

Entah bagaimana ceritanya, pria asal Blimbing itu datang menemui saya dengan penuh keakraban. Singkat cerita, dia minta bantuan saya untuk ‘’membeli’’ darah di PMI. Tadinya saya ragu-ragu, karena tidak kenal dengan pria ini, meskipun dia menganggap saya sebagai kawan karibnya. Apalagi dia terus mengiba, karena sudah cari utangan ke mana-mana tidak berhasil. Konon katanya, sayalah harapannya yang terakhir. Setelah saya pikir-pikir, tak ada salahnya membantu dia meskipun tidak semuanya (saya malu menyebut angkanya).

Setelah uang saya serahkan, wajahnya berbinar-binar penuh suka cita. Dia pun pamit dan segera pergi ke rumah sakit. ‘’Mudah-mudahan istrimu cepat sembuh,’’ kata saya. Setelah dia pergi, saya sempat kepikiran, apakah dia jujur atau bohong. Perasaan itu saya bunuh dan lupakan.

Sampai akhirnya beberapa hari berikutnya, saya diberi tahu bendahara FISIP Unmer untuk segera ke kampus. Ada apa ini ? Setelah sampai di kampus, saya diberi tahu ada kesalahan pembayaran honor saya. Selama ini yang saya terima tiap bulan lebih kecil dibanding yang sesungguhnya. Ada kekurangan honor selama satu semester yang harus saya terima. Jumlahnya cukup besar, 18 kali lipat dari jumlah yang saya berikan untuk tamu Si Aremania itu.

Dari Panwas pun ada beberapa honor yang dicairkan dengan jumlah yang lumayan besar. Saya baru sadar, apa yang saya berikan untuk membantu istri teman saya itu langsung dibalas oleh Allah dan jumlahnya berlipat-lipat. Padahal yang saya berikan tidak penuh sesuai kebutuhan dia. Bayangkan, kalau saya membantu sesuai jumlah yang dia butuhkan. Subhanallah.


Responses

  1. iya ya pak… kita memang kadang suka itung-itungan kalo mau sedekah😦

    mudah-mudahan kita semakin baik…

    emang berat… tapi saya kira harus mulai dicoba ditingkatkan dengan *sasaran* yang lebih banyak

    makasih pak

    inspiring banget😀

  2. harta yang disodakohkan tak akan pernah berkurang…
    terus bertambah, dan lebih…

    – karena Allah SWT tak akan mengingkari janjiNya- 🙂😉

  3. Subhanallah..
    makasih inspirasinya. secara harfiah, manusia di beri kemampuan untuk berbagi, walaupun hanya satu kalimat..
    salam kenal ^_^

  4. kadang kl kita menemukan hamba Allah dijalan kemudian dia menceritakan kesusahannya, dan mungkin secara tidak langsung meminta pertolongan (duit), kita kadang memikirkan kebenaran cerita itu.
    nah memberi tanpa melihat dibuat apakah nanti uang itu yang sulit dan kadang itu yang membuat kita jadi was-was dan keikhlasan jadi buyar…ngoten ta pak??:)

  5. Subhanallah, saya banyak belajar darinya karena dia Imam saya, dia tidak pernah cerita pada saya meski kita selalu bersama. Baginya tangan kirinyapun tidak boleh melihat perbuatan tangan kanannya, apalagi saya…….Istrinya. Semoga Allah swt selalu melindungi dan memuliakannya….Amin

  6. Intinya kita harus ikhlas kan?
    Masalahnya sekarang ini banyak orang orang yang datang door to door mengatasnamakan anak yatim,panti jompo,bahkan ada yang mengaku belum makan seharian..sassie rasa wajarlah jika ada orang yang setengah hati dlm memberi sedekah..berfikir ini beneran atau engga?
    Tapi buat sassie selama kita masih bisa memberi,kenapa tidak? Soal orang tsb bohong atau engga biarkan menjadi urusan sama yang di Atas..yang kelak akan dia pertanggung jawabkan dihadapanNya.
    Yang penting kita ikhlas Lillahita’ala insya allah pasti jadi berkah..Amin..
    Maaf ya cak ,komennya kepanjangan he he..

  7. wah pak istri pak husnun ikut komen… .. sekalian dikomporin ngeblog Bes!😀

  8. iya pak..😀


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: