Oleh: husnun | Agustus 17, 2008

Barikan, Tradisi Peringatan Proklamasi

BANYAK cara dilakukan untuk memperingati Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Satu hal yang tak pernah ketinggalan dilakukan masyarakat adalah menggelar acara pada malam menjelang 17 Agustus. Macam-macam namanya, ada yang tirakatan, selametan, barikan, melekan dan sebagainya. Intinya, pada malam itu mereka mengenang kejadian 63 tahun lalu yang penuh dengan heroisme. Waktu saya masih muda, saat ikut acara itu selalu diisi dengan kesaksian pelaku sejarah atau paling tidak orang yang pernah hidup pada era 45.

Tapi belakangan acara testimoni pelaku sejarah itu sudah mulai jarang dilakukan karena jumlahnya semakin berkurang dimakan usia. Makna acara-acara itu sebenarnya cukup besar kalau dikaitkan dengan mengamalkan nilai-nilai kemerdekaan. Bukankah para kusuma bangsa ini berjuang untuk mempersatukan bangsa yang terdiri dari berbagai suku ini. Maka pada saat kita memperingati acara itu semangat untuk bersatu pun ikut muncul. Warga yang tadinya enggan bergaul dengan tetangganya, mau tidak mau harus keluar rumah untuk bergabung dengan warga lain.

Ikut gabung tirakatan, malam resepsi atau sekedar ikut lomba tarik tambang. Makna proklamasi untuk mempersatukan bangsa bisa dicapai, meskipun setahun sekali. Mereka berkumpul disatukan dalam wadah yang sama, warga negara Indonesia. Kemeriahan dan keakraban setahun sekali itu terasa di mana-mana, sampai ke pelosok. Mereka berkumpul, bergurau, saling gojlok dan yang tak pernah ketinggalan, makan bersama atau selamatan.

Di beberapa daerah, acara ini disebut dengan barikan. Makan bersama sambil duduk lesehan menghadap tumpeng yang berisi nasi dan aneka lauk. Biasanya, potongan pucuk tumpeng itu diserahkan kepada tokoh atau sesepuh setempat. Sisanya, diambil beramai-ramai, keroyokan oleh banyak orang. Setelah itu makan bersama dengan penuh guyub. Tapi tahun ini suasana itu agak berbeda.

‘’BBM naik, harga-harga juga ikut naik, acaran pitulasan dibuat sederhana,’’ kata seorang Ketua RT. Dia tidak tega harus menarik sumbangan kepada warganya yang tengah dibelit kesulitan ekonomi setelah BBM naik. Bukan hanya BBM, harga kebutuhan juga melejit mencekik leher. Tahun ini, bisa jadi perayaan peringatan Proklamasi itu tidak semeriah tahun-tahun sebelumnya. Beberapa kegiatan dihapus dari daftar acara dengan alasan penghematan.

Acara tetap digelar dengan meminimalisir biaya. Barikan tetap digelar, tapi bentuk tumpengnye diperkecil, tidak setinggi biasanya. Tampah sebagai alas tumpeng pun diperkecil, ubo rampe yang menyertai tumpeng juga dikurangi. Tidak ada ingkung, ayam bakar utuh atau lauk ‘’mewah’’ lainnya. Itulah gerakan ikat pinggang ala masyarakat. Mereka tahu betul cara menyiasati kesulitan ekonomi tanpa harus menghilangkan tradisi perayaan 17 Agustus. Bagi mereka, bagaimana perayaan itu tetap dilaksanakan agar hubungan antar-warga semakin rekat.

Tidak perlu slogan manis melalui iklan TV untuk mempersatukan bangsa. Barikan sudah cukup untuk menyatukan bangsa. Kita tidak tahu, berapa miliar yang dikeluarkan untuk membiayai iklan TV yang berisi pesan-pesan kemerdekaan dari Partai Demokrat dengan model iklannya Presiden RI. Saya yakin, uang itu bisa dipakai untuk membuat tumpeng yang lebih besar, barikan yang lebih semarak dan warga yang lebih kenyang. Merdeka


Responses

  1. inspiratif dan logis, bener kata panjenengan, lebih baik digunakan untuk hal2 yg lebih bermanfaat buat orang banyak dari pada hanya sekedar kepuasan visualisasi digital saja. semangat berbagi kayak gini yg harus terus kita dengungkan. semoga kita tetap menjadi manusia sederhana dan bermanfaat bagi orang banyak. amin. merdeka..! ^_^

  2. iya pak… termasuk karnaval.. saya dua hari ini terjebak macet,, karnaval pemborosan BBM Pak…

  3. iklan adalah salah satu senjata kampanye yang lagi booming sekarang… berapa banyak biaya yang dikeluarkan sekarang ?

    Apakah mereka lupa dengan nasib rakyat… kapan petinggi indonesia ini bisa meniru perilaku hidup sederhana seperti presiden irak sekarang….

    @pak cahyo
    biar irit, jalan kaki saja pak…😉


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: