Oleh: husnun | September 7, 2008

Berapa Zakatmu ?

SEBENTAR lagi kita akan memasuki masa silaturrahim, bertemu dengan kerabat, teman, handai taulan, saudara jauh, saudara dekat, teman lama dan teman baru. Setelah berbasa-basi disertai dengan cipika-cipiki, lead berikutnya adalah pertanyaan. Yang paling banyak ditanyakan adalah berapa anaknya – dan sangat jarang yang menanyakan berapa istrinya. Masih di rumah yang lama, atau sudah pindah rumah baru. ‘’Wow…mobilnya baru.’’ Ungkapan rasa takjub dan surprise meluncur saat pertemuan yang dihelat saat Lebaran itu.

Kalau yang berlebaran dengan mobil baru, HP baru dan barang-barang lain yang eksotis, tentu akan banyak menuai pujian. Sebaliknya, yang berlebaran dengan barang-barang yang tidak branded akan tampil berlebaran dengan wajah tertunduk. Itulah tradisi masyarakat kita yang menilai keberhasilan dari seberapa banyak materi yang dimiliki, tidak peduli dari mana asalnya. Mereka yang berlebaran dengan penuh kesederhanaan – karena buah dari ibadah puasanya – justru dianggap sebagai orang yang tidak berhasil.

Karena esensi beridul fitri bukan dari seberapa bagus baju atau gaun yang dikenakan atau hiasan duniawi yang lain, tapi seberapa jauh mampu mengekang hawa nafsu. Apakah hiasan dunia itu lambang pengumbaran hawa nafsu ? Entahlah.

Tapi yang jelas, diantara sekian banyak dialog saat usai Ramadan itu tidak ada yang bertanya ; berapa zakat yang kau bayarkan ? Ah, ini pertanyaan nyeleneh, tidak lazim, tidak gaul, tidak popular, ndeso dan katrok. Memang benar, saya tidak pernah mendengar pertanyaan seperti itu, termasuk menanyakannya.

Tapi sekarang saya memberanikan diri menanyakan hal itu : berapa zakat yang Anda bayarkan ? Bukan sekedar zakat fitrah yang 2,5 Kg beras – tak jarang pakai beras Bulog yang kutu saja tidak doyan – tapi zakat maal (harta benda). Bagi yang belum memenuhi nishobnya, tentu tidak perlu repot untuk membayar zakat maal. Yang jadi masalah adalah, kita sering pura-pura jadi orang kere agar terbebas dari kewajiban berzakat (maal). Kalau kita berpenghasilan ( bukan gaji) Rp 5 juta per bulan, harus jujur dengan kesadaran yang tinggi untuk membayar zakat maal.

Para pemilik harta itu bisa mengelabui petugas pajak agar lolos dari jeratan pajak. Auditor yang paling tangguh pun bisa diselintut agar tidak menghitung anggaran yang kita keluarkan. Tapi di sekitar kita tidak hanya ada auditor atau petugas pajak, tapi ada dzat yang Maha Audit. Dengan kekuasaaNya, bisa mengaudit harta dan kekayaan manusia di permukaan bumi, tanpa sepeserpun yang terselip. Dia auditor yang paling jujur diantara yang paling jujur, tidak bisa disogok, tidak bisa dijamu makan mewah di hotel bintang lima, tidak mempan dikirimi kunci dan BPKB lengkap dengan mobilnya.

Gusti Allah dzat yang Maha Tahu, berapa penghasilan kita, berapa harta kita, berapa utang kita dan berapa deposito kita. Kalau Gusti Allah memerintahkan kita untuk membayar zakat, sesungguhnya bukan untuk Dia. Dia dzat yang maha kaya, tidak butuh harta kita. Zakat diwajibkan karena sesungguhnya untuk kemaslahatan hidup kita di dunia dan akhirat.

Percayalah pada Gusti Allah bahwa zakat yang kita bayarkan – dengan penuh keikhlasan – pasti akan bermanfaat bagi kehidupan kita. Sudah disiapkan gantinya yang jauh lebih besar, baik dalam bentuk materi maupun dalam bentuk yang lebih nikmat, hidup yang lebih tenang. Kalau harta tidak dizakati, berarti ada hak orang lain yang ikut termakan. Dan di situlah mulainya bencana harta. Jumlahnya memang banyak tapi tidak menenteramkan, tapi malah membuat pemiliknya was-was. Gusti Allah sudah dawuh… Dan ketahuilah sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu bisa menjadi fitnah

Harta yang tujuan awalnya untuk membahagiakan hidup, justru melah menyengsarakan jiwa. Berapa banyak orang yang menderita justru saat bergelimang rupiah, dolar, euro atau jutaan lembar saham. Yang kita cari bukan itu, kan ? Yang kita cari adalah harta cukup dan hidup kita tenang, karena zakatnya sudah kita bayarkan. Dalam kesempatan yang berbahagian ini, izinkan saya bertanya, berapa zakat Anda ?


Responses

  1. itulah pak masalah kita bersama .. kita ini sering pura-pura nggak mampu😦

  2. hiks, hari-hari ini ayas bener2 muflisah deh pak…
    binun, keabisan ojir….😦😦

  3. hmmm…wong cara ngitungnya aja banyak yang gak tahu😀

  4. Makanya bos mantan kyai, tolong dikasih tahu bagaimana ngitung yang bener…saya akan sangat senang kalau cara menghitung zakat sampeyan post di sini. jazakallah

  5. analogi yg keren, pertanyaan mengagetkan. hee.. hee.. mantap pak. berbagi emang engga pernah rugi, wong semua ini titipan kok, engga akan dibawa ke kubur. sejujurnya saya cuman ngerti 2,5% itu aja. sementara, beberapa yg lain, saya niatkan buat sedekah aja.. ^_^
    makasih sudah mengingatkan saya..

  6. Salaam….
    ada yg pura-pura, ndak wajib ber-zakat…
    padahalll…..😦

  7. […] September 19, 2008 Marhaban Ramadhan: Saya (untuk saat ini) Hanya Bisa Jadi Relawan! Posted by hmcahyo under activities, blogging, cem2, friend, memories, religi, renungan   Bagaimana reaksi anda ketika membaca postingan Pak Husnun yang berjudul Berapa Zakat Anda? […]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: