Oleh: husnun | Oktober 6, 2008

IBSN : ORANG KAYA ANTRE ROTI SPIKU

PERNAH melihat orang kaya berebut makanan ? Kelihatannya kok aneh dan tak lazim. Yang biasa kita lihat berebut makanan, minyak tanah, minyak goreng, uang sedekah dan zakat itu hanya orang miskin. Tapi kejadian ini betul-betul membuat saya terpana. Betapa tidak ? Sekelompok orang kaya saling berebut untuk mendapatkan makanan favoritnya. ‘’Kayak antre minyak tanah aja,’’ kata seorang ibu paroh baya yang ikut antre.

Suatu pagi di toko Orion di Jalan Urip Sumoharjo Solo. Kendati baru buka, toko itu sudah dijejali puluhan pengunjung yang belanja aneka makanan untuk oleh-oleh. Tapi yang paling diburu oleh pelanggan toko itu adalah roti spiku merek Mandarijn buatan toko itu sendiri. Toko itu sudah membuat roti Mandarijn itu sudah turun temurun, sejak tahun 1932. Itulah sebabnya, roti tersebut memiliki banyak penggemar. Orang-orang di luar Solo, ingin menikmati roti itu sebagai klangenan untuk mengingat masa lalu.

Memang, kebanyakan yang membeli roti itu orang-orang dari luar kota. Begitu larisnya roti itu, sampai-sampai para pembelinya harus antre sampai beberapa jam. Begitu roti yang sudah dikemas dalam karton warna coklat itu keluar dari ruang packing, langsung jadi rebutan para pelanggan yang sudah lama menunggu. Momen rebutan itulah yang menjadi pemandangan menarik. Yang berebut makanan itu bukan orang sembarangan. Mereka datang naik Alphard, Fortuner, Altis, Accord, Carravalle dan mobil berkelas lainnya. Dari penampilannya kelihatan mereka berasal dari golongan berkecukupan. Dari aromanya tercium harum J’Lo, Kenzo, Bvlgari, Ninna Rici dan mereka kenamaan lain.

Padahal antre itu bukan untuk mendapatkan barang gratis, tapi harus beli. Satu boks Spiku Mandarijn ukuran ubin keramik dipatok harga Rp 100 ribu. Tentu bukan harga yang murah, tapi mereka harus rela merogoh koceknya lebih dalam sekaligus harus antre dan rebutan untuk mendapatkannya. Ada yang menyabet lima boks, ada yang cukup satu boks, tapi ada juga yang sudah dapat tujuh boks masih kurang. ‘’Ini untuk oleh-oleh saudara dan teman-teman,’’ kata seorang pria paroh baya.

Kenapa orang-orang kaya itu rela antre dan berebut untuk membeli roti ? Mengapa orang-orang miskin berebut beras zakat ? Jawabannya hanya satu, tuntutan perut. Untuk memenuhi kebutuhan perut, orang rela melakukan apa saja dengan risiko apa saja. Anggota dewan, pejabat, pimpinan BUMN yang sekarang mendekam di penjara, melakukan kejahatannya untuk memenuhi tuntutan perut.

Pada awalnya, tuntutan perut itu sekedar untuk mengisinya agar tidak lapar selama sehari. Lama kelamaan meningkat untuk dua hari, seminggu, sebulan, setahun bahkan bila perlu sampai tujuh turunan. Nafsu orang untuk memenuhi kebutuhan perut begitu besar sehingga tidak mampu ditahan. Orang rela berdesak-desakan dan membayar sejumlah uang hanya untuk mendapat sepotong roti.

Apa hebatnya roti itu sampai para fansnya rela berjuang keras untuk mendapatkannya ? Sebenarnya sama saja, tak ada yang istimewa. Sama seperti kita makan menjes goreng, tahu brontak, lemper atau kripik tempe. Konon menurut para pemburu Spiku Mandarijn itu yang membedakan adalah gengsinya. Perut ternyata perlu gengsi sehingga harus mengeluarkan banyak uang untuk memenuhinya.Padahal, orang-orang yang berebut makanan itu, baik yang beli atau yang pembagian gratis, sebagian diantaranya baru saja menyelesaikan ibadah puasa.

Inilah kesalahan mendasar kita dalam memaknai Idul Fitri yang dianggap sebagai hari kemenangan. Kemenangan lawan siapa ? Justru pasca-lebaran itulah peperangan yang sesungguhnya. Hawa nafsu kita dilatih selama sebulan agar dalam 11 bulan berikutnya tidak diumbar untuk melakukan tindakan tercela. Selama sebulan perut kita dilatih menahan lapar agar pada 11 bulan berikutnya tidak membabi buta dengan memasukkan segala makanan ke dalamnya.

Sebuah peringatan Kanjeng Rasul : perut dan di bawah perut adalah sumber malapetaka. Makanya, kedua organ tubuh itu harus dipelihara dan dikendalikan. Biasanya, pada bulan puasa jumlah orang yang ke rumah sakit menurun terutama untuk penderita jantung, hipertensi, diabetes, cholesterol, asam urat dan penyakit laten lainnya. Tapi jumlahnya kembali meningkat setelah Lebaran. Karena, saat itu orang tidak mampu mengendalikan perutnya.


Responses

  1. haduh pas di jogja saya juga pernah antree panjang untuk mendapat gudeng di pagi hari setelah subuh… bareng dah dapat … halah nggak “kolu” makannya… lha ngambil gudengnya pake tangan…. huahh dah mahal gak dimakan semua:mrgreen:


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: