Oleh: husnun | Oktober 15, 2008

Kapan Pak Alim Markus Muncul Lagi di TV

KETIKA krisis ekonomi melanda negeri ini (lagi), kampanye untuk menggunakan produk dalam negeri kembali menggema. Sama seperti Krismon 1997 – 1998, kini masyarakat diimbau tidak kemaruk dan kemayu memakai barang buatan luar negeri. Barang-barang buatan negeri sendiri rasanya sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan 200 juta lebih, penduduk Indonesia. Tak jelas, apakah kampanye itu benar-benar diikuti masyarakat dan menyembuhkan Indonesia dari krisis yang kronis.

Rasanya baru kemarin kita terjerembab dalam kubangan krisis yang tak kunjung usai. Seperti yang sering dilontarkan para pengamat, politisi, jurkam bahkan pendakwah, bahwa negara kita tengah dilanda krisis multidimensi. Ya, krisis ekonomi, politik, sosial, budaya, moral dan sebagainya. Memang kita belum pulih benar dari krisis tersebut, tapi rasanya kehidupan kita relatif lebih baik dibanding saat jatuhnya pemerintahan Orde Baru. Dibanding negara-negara Asia yang sama-sama terguncang krisis ekonomi, Indonesia paling lemot dalam melakukan recovery. Tapi, belum lama kita menikmati kehidupan yang lebih baik, tiba-tiba krisis baru datang lagi.

Tak ada salahnya kampanye penggunaan produk-produk dalam negeri kembali digalakkan. Bila perlu Pak Alim Markus, bos Maspion, diminta lagi untuk tampil di TV mengajak bangsa Indonesia menyintai barang-barang buatan anak bangsa. Penampilan Pak Alim – orang terkaya Indonesia peringkat 37 itu – terasa pas untuk mengajak kita semua memakai produk dalam negeri. Dengan ucapan yang sedikit cadel, Pak Alim dengan lantang mengatakan : ‘’Cintailah produk-produk dalam negeri.’’ Iklan Pak Alim – ayah tujuh anak – menyadarkan kita bahwa cinta kita kepada negeri ini baru sebatas slogan. Maka Pak Alim perlu mengingatkan kita bahwa produk dalam negeri cukup mumpuni untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.

Kita tidak bisa menjadi bangsa yang besar kalau masih terus bangga dengan produk luar negeri. Bung Karno mengajarkan betapa pentingnya Berdikari (berdiri di atas kaki sendiri) dan menjauhkan diri dari ketergantungan pihak asing. Maka dengan berani, ayahnya Megawati itu mendeklarasikan Indonesia keluar dari PBB. Indonesia tidak mau ikut Olimpiade dan menggantinya dengan Ganefo (Games of the New Emerging Forces). Mungkin kalau Bung Karno masih hidup, beliau akan menangis dan sangat marah melihat anak cucunya merasa nyaman berada di ketiak bangsa asing.

Sebagai bangsa dengan penduduk lebih dari 200 juta orang dan wilayah yang luas – setidaknya menurut Bung Karno – Indonesia sudah menjadi bangsa yang besar sejajar dengan India, Cina dan Macan Asia yang lain. Sekarang ini kita justru menjadi pasar empuk bagi negara-negara tetangga.

Snack yang dimakan anak Anda, kartu HP yang Anda genggam sampai minuman yang Anda teguk, semuanya milik perusahaan asing. Setiap kali kita melakukan transaksi perbangkan, menarik uang dari ATM atau menggesek dengan kartu kredit, kita telah menyetor keuntungan untuk bank asing. Keuntungan yang diperoleh mereka bawa pulang ke negaranya. Kita tidak sadar, rupiah demi rupiah yang kita raih dengan susah payah, ternyata mengalir deras ke luar negeri.

Salah satu penyebab mengapa Indonesia begitu lama keluar dari cengkeraman krisis adalah, konsumsi barang impor yang sangat tinggi. Kalau saja kita mengikuti anjuran Bung Karno untuk cinta bangsa – dengan memakai produk-produk sendiri – nasib kita akan beda. Ekonomi kita bisa disejajarkan dengan Cina dan India. Kita tidak hanya menjadi perakit mobil dan motor, tapi sudah memproduksi. Produk otomotif kita mampu bersaing dengan Tata, Bajaj, Cherry, Greatwall dan Proton. Tapi itu hanya utopia.

Kita belum mampu bersaing, baru sebatas sebagai konsumen yang terkagum-kagum dengan segala sesuatu yang berbau luar negeri. Mudah-mudahan krisis ini cepat berlalu, karena kalau dibanding dengan krisis 1998, secara politis kondisi kita lebih baik. Apalagi kalau krisis itu memunculkan kesadaran baru masyarakat kita untuk menyintai produk dalam negeri. Kita bukan saja cepat keluar dari krisis, tapi lebih dari itu secara ekonomi kita akan melesat mengejar bangsa-bangsa lain. Mungkin Pak Alim Markus perlu tampil lagi di TV untuk mengampanyekan cinta buatan Indonesia. ‘’Cintailah produk-produk dalam negeri,’’ kata Pak Alim lantang.


Responses

  1. lha iya pakde … orang indonesia itu memeng bener lemot pikirannya ato suka dalam penderitaan?

  2. karena itulah saya penganut paham progressive revolutioner mr. soekarno. hanya saja, sedikit sahabat yg mau bersinergi dg paham ini. padahal jika diambil yg baiknya, hasilnya bisa luar biasa pada pola pikir kita yg pasti akan berimbas pada kebaikan republik ini.. ^_^


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: