Oleh: husnun | Oktober 23, 2008

KAPAN NULIS BUKU BARU

Hari Rabu yang menyenangkan. Usai mengajar di lantai enam Kampus Putih, saya ngenet dengan fasilitas hotspot di lantai 3,5. Baru saja mau duduk, ada suara menyapa. Setelah say hello dan sedikit basa-basi dia bertanya sesuatu yang ‘’tidak lazim.’’ Jarang saya mendapat pertanyaan seperti ini. ‘’Kapan buku barunya terbit,’’ katanya dengan semangat. Teman saya itu bernama Syamsul Arifin, seorang doktor muda. Dia aktif menulis artikel di berbagai media, dan yang paling sering di Jawa Pos, tentang pemikiran Islam. Bukunya tentang pemikiran Islam sudah banyak diterbitkan.

Ditanya seperti itu, saya gelagapan juga. Tapi saya berusaha menguasai diri menjawab apa adanya. ’’Tahun ini belum ada buku baru,’’ kata saya singkat. Memang, tahun ini saya tidak menerbitkan buku, seperti tahun 2006 dan 2007. Hanya ada satu buku yang saya sunting, buku kumpulan berita tentang UKM yang disponsori PT HM Sampoerna dengan kata pengantar Preskomnya, Angky Camaro.

Menjelang pulang, bertemu dengan Pak Gigit, dosen bahasa Indonesia. Pertanyaannya sama, kapan nulis buku lagi. ’’Apa buku sampeyan yang baru, saya lihat buku sampeyan di Togamas dan Gramedia lo,’’ katanya. ’’Belum Pak, masih menunggu waktu yang tepat,’’ kilah saya.

Di atas jembatan yang melintas di atas danau – Kampus Putih satu-satunya kampus yang ada danau di dalamnya – Pak Nurudin menyapa. Dia merupakan salah satu inspirator saya menulis buku. Dia juga tanya, apakah saya sudah menulis buku lagi. Tapi saya juga sampaikan, baru saja lihat buknya yang baru soal hubungan dengan media yang diterbitkan penerbit di Bandung. Di jurusan Komunikasi, Pak Nurudin merupakan dosen yang produktif menulis buku. Buku yang saya sebutkan itu entah buku yang keberapa.

Tiga teman yang saya temui hari itu semuanya bertanya soal buku, sebuah pertanyaan yang langka. Saya jadi malu, karena saya tidak bisa memberi jawaban tentang buku saya yang terbaru. Kalau saja saya seperti Pak Shodiq Mustika yang ’’syahwat’’ menulis bukunya luar biasa, saya mungkin bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan itu dengan enak.


Responses

  1. Membaca tulisan ini saya jadi terharu. Bukan hanya nama saya disebut dalam tulisan itu (sebuah kehormatan lho, pak), tapi saya tetap salut dengan Cak Nun yang terus berusaha menulis buku, tentu saja di tengah kesibukan sebagai jurnalis (saya bisa sedikit membayangkan bagaimana sibuknya seorang jurnalis). Kayaknya, Cak Nun ini ingin jadi wartawan senior, bukan wartawan tua. Wartawan senior adalah wartawan yang bisa menulis buku, sementara wartawan tua adalah wartawan yang belum pernah sekalipun membuat buku (ini kata Rosihan Anwar). Ayo pak, jangan jadi wartawan tua lho. hua.ha.ha.ha.
    Kalau kesulitan penerbit, teman saya yang kebetulan redaktur penerbitan di Jakarta, beberapa waktu lalu, sedang membutuhkan naskah buku populer. Barangkali (mungkin), ada buku populer, bos?

    tengkyu

    Nurudin

  2. wah jadi pengin juga🙂

  3. selamat meluncurkan album yang barunya!

  4. Wah…da kenal lama tapi Ind nggak tahu ya kalo Cak Nun itu Pengarang Buku..
    sebagai penggila buku jadi malu nggak ngerti bukunya Cak Nun? bukane g sopan Cak ngeh, nama bukunya apa ya? jadi pengen baca..
    nek nyusul buat buku kayaknya masih jauh🙂
    tapi pengen juga sih

  5. @ bulik ind : buku saya bisa dilihat di : bal-balan , jurnalistik dan opini. Buku biasa saja, belum sehebat buku Ganti Hati atau yang lain. Dari teman di Jakarta saya sudah diberi tahu, dia lihat buku saya di Gramedia.

    @ paklik hmc : kepingin itu sudah modal, tinggal mulai

  6. inggih pakde mohon bimbingannya🙂

  7. Pertanyaan, “Kapan nulis buku baru?” adalah pertanyaan yg mengandung aspek penghargaan, persahabatan, dan inspiratif bagi pihak yg ditanya. Saya saja yg tidak ditanya termotivasi, apalagi bagi cak Nun yg layak mendapatkan pertanyaan seperti itu. Apa salahnya saya gaungkan kembali pertanyaan itu, “Kapan nulis buku baru, cak Nun?”

  8. Wah..wah, semakin banyak provokatornya neh. Sik yo, aku masih banyak urusan : Panwas dan sekarang jadi tim seleksi anggota KPU. Tapi jangan bilang-bilang ya, nanti banyak yang mau KKN. Insyaallah suatu saat nulis buku lagi. Writing is life

  9. karena buku menjadi monumen pak nun. suami saya (bukan saya he..he…he..) sangat terkesan dan bangga kalo dtanya soal buku drpd kapan beli rumah ? kapan beli ini itu ? (sungguh pertanyaan yg menyakitkan !…wuahaa..haa🙂 ) buku adalah investasi abadi. lambang supremasi kualitas seseorang ! HIDUP PENULIS BUKU !!!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: