Oleh: husnun | November 9, 2008

Hari Pahlawan, Eksekusi Amrozi Cs dan Ketidakadilan

Tanggal 10 November 2008, kita memperingati Hari Pahlawan. Peringatan ini untuk mengenang heroisme Arek-arek Suroboyo dalam mempertahankan kemerdekaan yang baru saja diproklamirkan 17 Agustus 1945. Sudah banyak diungkap mengenai keberanian anak-anak muda kala itu melawan penjajahan Sekutu yang ingin menjajah lagi bumi Indonesia. Keberanian itu muncul ketika harga diri bangsa terinjak-injak. Entah berapa ribu orang yang meninggal akibat clash dengan tentara Sekutu kala itu.

Yang jelas, semangat dan darah para pahlawan itu mewarnai kehidupan bangsa selanjutnya. Berkat perjuangan mereka, kita sebagai anak cucunya bisa menghirup kemerdekaan dan kebebasan. Hidup sebagai orang merdeka – meskipun didera kemiskinan – jauh lebih baik ketimbang hidup bergelimang harta tapi berada pada cengkeraman ketiak penjajah.

Para pahlawan itu punya keinginan kuat untuk menciptakan keadilan dan kesejahteraan bagi anak cucunya. Apapun mereka korbankan untuk mendapatkan keadilan itu. Sebagai bangsa yang memiliki tanah air ini, rasanya tidak adil kalau diperlakukan sebagai orang kelas dua. Orang luar yang datang belakangan, justru mendapat kenikmatan hidup dan fasilitas yang berlebih, hanya karena mereka punya kekuatan dan semangat menindas.

Sebaliknya, para putra bangsa yang punya hak histroris pemilik negara ini, justru disingkirkan dengan cara yang sangat keji. Di situlah letak ketidakadilannya. Bangsa Belanda, Portugis dan Jepang bisa bertindak semena-mena kepada para Bumiputera yang berusaha menegakkan keadilan bagi bangsanya sendiri. Ketidakadilan itulah yang menjadi sumber segala bencana. Perlawanan terjadi di mana-mana karena keadilan yang diabaikan. Itulah sebabnya, ketika kemerdekaan sudah terengkuh, para pendiri republik meletakkan keadilan sebagai salah satu bagian dari dasar negara.

Keadilan, sesuatu yang mudah diucapkan tapi sulit dilaksanakan. Sejak negara ini merdeka, keadilan selalu dikumandangkan sebagai salah satu tujuan berdirinya negeri ini, menciptakan keadilan dan kesejahteraan. Tapi sejauh mana keadilan itu bisa dicapai ? Memang akan sulit mencapainya 100 persen, tapi bukan berarti kalau tidak bisa penuh kemudian tidak tercapai sama sekali. Keadilan adalah terpenuhinya antara hak dan kewajiban.

Harus bisa dibedakan antara keadilan dan pemerataan. Kalau pemerataan, siapapun mendapat bagian yang sama, tak peduli apa perannya. Tapi keadilan adalah sesuatu yang diperoleh secara proporsional. Kalau dia bekerja keras, maka dia akan mendapat lebih banyak dibanding yang malas. Yang bekerja dengan kecerdasan tentu akan mendapat lebih baik daripada yang bekerja hanya dengan otot. Yang bekerja dengan ikhlas akan mendapat ganjaran yang jauh lebih banyak, di dunia dan di akhirat.

Kalau saja para pahlawan itu saat ini masih hidup, tentu mereka akan menangis sejadi-jadinya. Mereka kecewa dan sangat marah. Anak cucu mereka ternyata tidak bisa menikmati keadilan seperti yang mereka impikan. Perjuangan yang disertai dengan pengorbanan yang sangat besar, tidak membuahkan hasil yang memuaskan. Ternyata, anak cucu mereka tetap saja menderita – karena tidak mendapat keadilan – sama seperti mereka tertindas penjajah. Bedanya, para pejuang itu ditindas langsung secara fisik dan kekuatan senjata, tapi anak cucu mereka kini dijajah ekonomi dan akhlaqnya.

Air mata para pahlawan itu tak berhenti menetes karena pemerintah yang dulu mereka perjuangkan tak kunjung memberi keadilan kepada rakyatnya. Para pemimpin negara itu lupa bahwa memberika keadilan kepada rakyat itu jauh lebih penting dibanding menumpas teroris. Berapa miliar yang dikeluarkan oleh pemerintah untuk persiapan eksekusi Amrozi, Mukhlas dan Imam Samudra. Kenapa ketiganya tidak langsung didor saja, tanpa harus mengumbar informasi ke segenap penjuru dunia.

Suasana dibuat sangat menegangkan. Polisi dari Sabang sampai Merauke harus siaga 24 jam, memelototi setiap pergerakan manusia. Mereka yang dicurigai, langsung ditangkap. Begitu waspadanya mereka, sampai-sampai ada petani di Dusun Baran yang pulang ke rumahnya ditangkap petugas patroli, karena dia membawa sabit. Kalau saja uang miliaran itu dipakai untuk membiayai pendidikan anak-anak terlantar, atau memberi makanan yang bergizi bagi anak-anak yang kelaparan, tentu akan mengurangi kecemburuan yang ditimbulkan ketidakadilan.

Kalau ketidakadilan itu tidak segera dihilangkan – minimal dikurangi – jangan salahkan akan muncul Amrozi baru, Mukhlas Muda dan Imam Samudra Junior. Lihat saja anak-anak muda yang hadir dalam pemakaman ketiganya, di Tenggulun atau di Serang, matanya memancarkan sinar misterius. Tidak ada yang tahu apa yang ada dalam benak mereka. Kita hanya bisa menebak apa yang ada dalam hati mereka : kalau keadilan tidak segera ditegakkan, jangan salahkan kalau kami mengikuti jejak Lik Amrozi, Lik Mukhlas dan Kang Samudra.


Responses

  1. Betul Pak, keadilan masih sulit dicari di negeri ini. Tapi, semua itu kembali kepada diri kita sendiri dulu. Apakah kita sudah adil kepada diri, orang lain, maupun lingkungan. Ada yang bilang keadilan itu relatif, sehingga tergantung setiap orang memaknai keadilan.

    Selamat Hari Pahlawan.

    Terus berkarya dan sukses selalu.

    Menulis atau Mati!

  2. SANGAT SETUJU….

    202 ORANG SAAT ITU MENINGGAL KATANYA AKIBAT ULAH AMROZI CS, DAN PEMERINTAH SENDIRI BERTINDAK LAYAKNYA TUHAN, MEMVONIS HUKUMAN MATI..!!!

    SEDANGKAN GEORGE BUSH YG JELAS-JELAS MEMBANTAI RIBUAN UMAT MANUSIA DI BEBERAPA NEGARA SAMPAI DETIK INI TIDAK PERNAH TERDENGAR HUKUMANNYA, APALAGI SAMPAI DI EKSEKUSI MATI…

    APAKAH ITU SEBUAH ARTI DARI MAKNA DEMOKRASI DI INDONESIA..???

    ” Demokrasi adalah bentuk atau mekanisme sistem pemerintahan suatu negara sebagai upaya mewujudkan kedaulatan rakyat (kekuasaan warganegara) atas negara untuk dijalankan oleh pemerintah negara tersebut.”

    TAPI NYATANYA DEMOKRASI DI INDONESIA HANYA SEBUAH SISTEM PEMERINTAHAN DIMANA SIAPA YANG KUAT ITU YANG MENANG, DAN KEADILAN PUN SEMAKIN SAMAR

    INDONESIA MEMBUTUHKAN SEORANG RAJA YANG ARIF DAN BIJAKSANA. DEMOKRASI HANYALAH PEDOMAN, TAPI KEADILAN LAH YG HARUS DITEGAKKAN…

    SEMOGA AMAL PERBUATAN AMROZI CS DITERIMA OLEH ALLAH SWT. AMIEN…

  3. Ya cak Nun saya setuju banget thd postingan di atas. Kepahlawanan masa kini mestinya dilanjutkan oleh kita semua, terutama pemimpin dengan musuh yang berbeda sesuai konteks zaman sekarang, seperti ketidakadilan, kemiskinan, kebodohan, kejahatan, dan keterbelakangan lainnya.

    Ironisnya, beberapa orang yang menyandang pemimpin justru mewarisi jiwa penindas yang dulu ditentang oleh para pejuang (pahlawan) kita. Mestinya yang diwarisi nilai-nilai kejuangannya.

    Memang di antara mereka ada yang berjuang untuk rakyat, namun hasilnya masih samar2. Yang lebih banyak malah berjuang untuk dirinya sendiri dan keluarganya. Berjuang untuk menaikkan gajinya sendiri, berjuang untuk memperpanjang jabatannya, berjuang untuk mendapatkan proyek. Setelah mereka berhasil mendapatkan apa yang mereka inginkan, mereka tidak berhenti atau bersyukur, tetapi justru berjuang lagi dengan keras, supaya harta, kekuasaan, dan “kehormatan”nya bertambah tanpa batas.

    Mereka kemaruk. Mereka tidak layak mendapat predikat “pahlawan rakyat”. Mereka lebih tepat disebut “pahlawan laknat”. Ini bukan argumen tanpa dasar. Fakta berlimpah-ruah untuk mendukung argumen ini.

    Indonesia saat ini sebetulnya lahan yang subur untuk orang-orang yang hendak jadi pahlawan. Orang miskin masih banyak. Orang bodoh masih banyak. Orang jahat masih banyak. Jadi, menjadi pahlawan difasilitasi oleh keadaan tersebut. Ayo, kita menjadi pahlawan, minimal untuk diri sendiri sebagai orang yang beriman kepada Allah SWT, untuk keluarga, atau orang2 di dekat kita. Amien, amien ya rabbal alamien.

  4. itu semua adalah akibat dari ketidak adilan presiden RI,dalam memberi kebebasan beribadah kepada umat Islam.Bahkan memusuhi nya.Jadi jangan salahkan Amrozi cs.justru Amrozi cs adalah Pure Pahlawan Islam+Nasional.Karena mereka ingin menyelamatkan bangsa Indonesia dari cengkraman bangsa penjajah.Saya teringat perkataan Soekarno,waktu pidato diistana merdeka dulu yang dihadiri ratusan warga Indonesia,dia mengatakan”Bangsa penjajah (belanda) udah pergi,sebentar lagi bangsa Indonesia siap-siap dijajah oleh bangsanya sendiri”

  5. keren postingannya dan juga komentra pak heru siip siip😀

  6. Walah mas Heri ngompori😆 , lho wong begitu aja siip😀

  7. cuman mau kasih info

    http://hmc.web.id/2008/11/14/ibsn-ucapan-duka-cita/


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: