Oleh: husnun | November 17, 2008

Brantas Preman : Dari Terminal sampai Gedung Dewan

USAI dilantik sebagai Kapolri, Jenderal Bambang Hendarso Danuri langsung tancap gas menjalankan tugasnya. Salah satu gebrakan bos Polri itu adalah operasi preman di seluruh Indonesia. Maka seluruh jajaran Polri mulai tingkat pusat di Jakarta sampai daerah pelosok, semua melaksanakan instruksi itu dengan melibas para preman yang selama ini sangat meresahkan masyarakat. Premanisme sudah berada pada tahap yang memprihatinkan yang mengganggu stabilitas kehidupan masyarakat. Dalam bidang ekonomi, aksi para preman membuat high cost economy yang menurunkan daya saing. Dalam lingkup yang lebih luas, aksi preman sudah masuk katagori crimes againts humanity.

Kini masyarakat tengah menunggu gebakan Kapolri baru itu untuk membersihkan para preman. Masyarakat sudah bosan hidup dalam tekanan premanisme di segala sektor kehidupan. Aksi preman bisa menimpa siapa saja, kita semua. Seorang gadis lugu dari desa yang baru turun dari bus, langsung disambut oleh para preman terminal – salah tempat yang banyak premannya – yang langsung membawanya ke sebuah kendaraan kosong. Katanya, kendaraan itu akan membawanya ke tempat yang dituju si gadis. Ketika ditanya, berapa bayarannya, sang preman menjawab Rp 50 ribu.

Tentu saja si gadis kaget, bukan saja karena harga itu termasuk tinggi, tapi uang sangu yang dibawa dari kampung ya cuma selembar kertas buru lima puluh ribuan. Ketika gadis itu mau berontak, sebuah belati menempel di pinggangnya. Dalam keadaan tak berdaya dia diam dan menyerahkan uangnya. Dalam hitungan detik preman itu sudah hilang di keriuhan terminal. Gadis itu menjadi korban penipuan. Uang sakunya yang diberi oleh bapak dan emaknya di desa, diminta dengan paksa oleh preman. Lebih tragis lagi, mobil yang ditunjuk oleh preman itu tidak akan menuju trayek yang diinginkan sang gadis. Dua kali dia jadi korban kejahatan. Ini merupakan rekaman cerita yang kerap terjadi di terminal.

Di Alun-alun Malang, kejahatan serupa sering terjadi dengan modus berbeda. Para preman Alun-alun itu biasanya mencari mangsa orang luar kota yang baru datang ke Malang. Biasanya ada dua orang bersenjata tajam yang menghampiri mangsanya. Sang mangsa dituduh telah memukul saudara sang preman. Dengan todongan senjata tajam, korban dibawa ke suatu tempat yang sepi, biasanya di kuburan. Di tempat ini dilakukan eksekusi, harta benda korban diminta dengan paksa. Isi dompet dikuras, jam tangan diambil dan biasanya HP tak pernah luput. Setelah barang berharganya dirampas, sang korban dilepaskan dengan penuh ketakutan.

Kalau masih punya keberanian melapor ke pos polisi yang ada di sudut Alun-alun, kalau tidak ya pulang dengan hati hancur. Kejadian mengerikan itu ternyata merupakan hal yang biasa dan berulang-ulang di tempat keramaian seperti terminal dan Alun-alun. Padahal, di tempat itu ada polisi yang berjaga 24 jam. Tapi kenapa kriminalitas itu masih kerap terjadi. Itu sudah menjadi lingkaran setan yang tak kunjung bisa diputus dan terus menerus menghantui masyarakat. Orang tidak bisa ke terminal dengan nyaman atau ke Alun-alun bersantai dengan keluarga. Pemkot Malang melengkapi Alun-alun dengan hotspot untuk berinternet gratis dengan laptop. Tapi siapa yang berani ngenet dengan laptop kalau selalu menjadi incaran para preman Alun-alun. Dua kasus itu hanya sebagian kecil dari segudang kriminalitas yang dilakukan preman.

Masih banyak modus dengan berbagai dalih dan itu bisa menimpa siapa saja. Kita tidak bisa membayangkan kalau teror preman itu menimpa anak kita, saudara kita atau bahkan kita sendiri. Kejadian itu bisa terjadi di mana-mana, mulai Sabang sampai Timika. Kita sekarang tengah menunggu hasil gebrakan Kapolri untuk melibas para preman. Ini akan menjadi kerja besar jajaran Polri, karena premanisme sudah merambah seluruh sendi kehidupan masyarakat. Mungkin untuk tahap awal yang ditertibkan premanisme kroco yang suka memalak, menarget, meminta retribusi gelap dengan nominal mulai dari seribuan sampai lima puluh ribuan.

Kalau itu sudah diselesaikan, tugas yang lebih berat menunggu polisi, memberantas premanisme yang lebih besar di tempat yang berbeda. Premanisme politik, premnisme hukum, premanisme birokrasi, premanisme berkedok intelektual dan premanisme lain. Kalau premanisme kroco TKP-nya di tempat-tempat keramaian dan kumuh, tapi premanisme elit itu dilakukan dengan tempat mewah, di hotel bintang, di restoran mahal atau di rumah mewah. Namanya juga preman, aksinya sangat merasahkan dan merugikan, tetap saja sebagai kejahatan terhadap kemanusiaan. Kita dukunga Kapolri untuk memberantas premanisme. Tapi jangan lupa menyikat premanisme di gedung dewan, di pemerintahan, di kejaksaan, di pengadilan bahkan di kantor polisi sendiri. Bisakah ?


Responses

  1. jata bang napi Polisi meberantas preman di terminal dan alun-alun itu biasa.. preman-preman di gedung dewan dan di birokrat itu yang perlu diberantas sampe akar-akarnya… biar endonesia lebih sejahtera,,,

    ayo pak polisi kalo cari kredit poin … yang besar sekalian:mrgreen:

  2. Dilema sebenarnay utk memberantas prema, karena bos preman2 ini adalah ‘preman berdasi’. Hihihi.. Lagipula, polisi saja tdk berani pada preman, para pengusaha2 dan lainnya akhirnya sering memakai jasa para preman demi keamanan.

    Semoga Pak Polisi bisa kembali mengambil wibawanya..😉

  3. Hayoooh kita dukung kaporih……. Brantas tuntas Preman preman diterminal terminal dan di pasar pasar….. juga di DPR ….. tuh masih banyak preman preman berdasi yng masih gentayangan ….. ?!!!!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: