Oleh: husnun | November 17, 2008

PANEN LELE, PANEN SAYUR, PANEN MANGGA

Bulan November adalah bulan panen. Betapa tidak, November yang merupakan awal musim hujan ini saya harus tiga kali panen. Jangan salah sangka dulu. Saya bukan petani dengan tanah atau sawah berhektar-hektar. Saya tinggal di sebuah rumah dengan sedikit pekarangan yang ditanami aneka bunga, sayuran dan sebuah pohon mangga Arumanis. Di samping rumah, ada tanah fasum yang mangkrak saya manfaatkan untuk membuat kolam lele. Tidak terlalu luas, sekitar 3×7 meter.

Mungkin sudah kersane Gusti Allah, semuanya panen pada bulan November ini. Awal bulan ini, panen sayuran sawi yang gemuk dan subur. Tanaman Rosella yang ditanam di samping sawi – seperti punya Mas Dian Indosat – sudah lebih dulu panen bunga untuk kali pertama. Sepetak tanah itu juga pernah ditanam kangkung. Semuanya ditanam secara organik, tanpa pupuk kimiawi, hanya diberi kompos dan pupuk kandang. Hasilnya bagus, tanaman sangat subur. Sawi tumbuh dengan daun yang lebar dan segar, sementara Rosella tumbuh dengan bunga warna merah menyala. Sebenarnya, saya juga punya beberapa anggrek yang bunganya sedang merekah, tapi masih kalah sam anggreknya Lik Heri Lawang.

Minggu kemarin, buah mangga Arumanis harus dipanen, karena sudah ada beberapa yang jatuh dalam keadaan sudah membusuk, sudah terlalu masak. Saya tidak ngecap, aroma mangga ini sangat harum dan menggoda dengan rasa yang teramat manis. Belum saya panen semua, hanya beberapa biji, sementara yang tinggal di pohon masih banyak. Masa panen ini agak mundur, biasanya mangga ini panen pada bulan Ramadan, tapi tahun ini agak telat. Maka ketika ibu berkunjung ke Malang bulan lalu, belum bisa menikmati manisnya rasa Si Arumanis ini.

Seakan tak mau ketinggalan, lele juga waktunya dipanen, karena umurnya sudah 2,5 bulan dihitung saat pertama menebar benihnya. Ukurannya cukup besar, sama seperti yang dijual di warung pecel lele. Ini merupakan panen kedua. Panen pertama, dibagikan tetangga satu RT dan beberapa kenalan. Panen kedua dilakukan beberapa tahap. Tahap pertama dibagi teman-teman istri saya di kampusnya. Nggak tahu berapa ekor yang diambil, pokoknya setelah digoreng di rumah kemudian dibawa ke kampus dan saat pulang, tidak tersisa. Teman-teman satu jurusan kekenyangan makan lele yang dipadu dengan lalapan dan sambal ekstra-pedas.

Meskipun sudah dipanen cukup banyak, ternyata lele di kolam masih banyak. Tidak tahu ceritanya, tiba-tiba ada pedagang yang telepon ke rumah mau memborong lele di kolam. Lo, kok tahu ? ‘’Ada teman yang ngasih tahu, Pak,’’ kata pedagang lele di Pasar Sukun itu. Harga yang ditawarkan pun sangat menarik. Ya, sudahlah. Hari Minggu (17/11/08), ratusan ekor lele dientas dari kolam berpindah ke rumah sang pedagang.

Uangnya ? Ya, lumayan. Sebenarnya kalau ditekuni, bisa jadi lading bisnis yang menguntungkan. Tapi saya tidak punya banyak waktu untuk intens bersama tanaman dan ikan itu. Dengan perhatian yang tidak penuh saja hasilnya cukup bagus, apalagi kalau sungguh-sungguh. Wah…?


Responses

  1. Pakde Kapan-kapan mau ditraktir makan lele bareng – tuh sama Pak Heru yang di Malang jadi Anak Kos:mrgreen:

  2. ciee…cieee……sudah waktunya bertani pak ! jangan sia2kan keahlian yang diberikan Gusti Allah pak ! soalnya, tdk semua orang nanam sawi bisa sampe panen. tabur benih lele bisa panen, nanam mangga sampe bisa mencium harumnya…….subhanaallah…….lets go pak !! lets go to the farm…

  3. he..he.. kasihan deh gue si anak kos! Iya lelenya jangan dijual semua, sisakan barang dua ekor untuk mas Heri satu, untuk saya satu. Trus jangan lupa petenya… wuih jadi ngiler beneran. Hai mas Heri, kapan ke Cak Nun. Nanti keburu lelenya habis?😆

  4. Menurut sie bagus tuh ditekuni..pelan pelan aja pak,hitung hitung proyek jangka panjang jika nanti sudah pensiun dari pekerjaan sekarang, pasti nikmat di hari tua nanti ditemani anak cucu, bersenda gurau sambil memancing ikan lele dikolam..
    Setidaknya pak husnun gak akan kesepian karena masih ada yang bisa dikerjakan.

    Sie atas nama almarhumah ibu juga mengucapkan terima kasih atas ucapan simpati dan belasungkawa yang sudah diberi..
    Semoga Allah membalasnya dengan kebaikan bagi pak Husnun sekeluarga Amin..
    Salam
    Sassie Kirana

  5. *) Lik Heri : Monggo kalau mau pesta lele di rumah, nanti saya siapkan. Masih saya sisakan untuk dipanen setiap saat.
    *) Nita : Jadi petani adalah impian sejak kecil, ingin mengulang masa lalu yang akrab dengan sawah, tegalan, kambing, ayam dan segala polo kependem dan gemantung. Mungkin cuma bisa jadi petani kota ya
    *) Doktor Komunikasi : Nikmatnya jadi warga kos-kosan. Saya sudah pernah merasakan, dulu waktu masih muda (Hah…sekarang sudah tua ta?). Pecel lele pakai sambal yang pedas, wow…
    *) Sassie : Saya bayangkan akan sangat lucu kalau saya jadi pensiunan, karena energi saya masih cukup banyak. Tapi kita harus selalu berubah. Sukses selalu

  6. ehmmm…..
    soal rasa mangga arumanisnya, emang nggak ngecap. keknya saia termasuk yg ikut menikmati mangga manis itu….
    cuman sayang seribu sayang…. kurang banyak😀

    whew!! lelenya dah panen kedua kali yach….
    klo ada lahan lagi, coba gurami pak..
    agak lama, tapi harganya wooke bangetz tuh🙂

  7. Matur nuwun, lelenya uenak tenan. Mak nyus, gitu. Sekarang lagi nunggu panen yang akan datang:mrgreen:

  8. […] under blogging, cem2, friend, menulis, renungan   berawal dari tulisan Pak Husnun tentang panen lele di rumah beliau, maka saya iseng-iseng ngomporin Pak Heru a.k.a Hejis pemilik blog […]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: