Oleh: husnun | November 24, 2008

Biar Pelayanan Jelek, Haji tetap Ikhlas

HARI-hari ini umat Islam dari seluruh dunia, termasuk dari Indonesia, tengah menunggu saat-saat dimulainya ibadah haji. Ada yang menunggu di Makkah, di Madinah tapi ada juga yang berada di tanah air, menunggu berangkat pada saat-saat akhir. Haji merupakan ibadah impian setiap muslim, karena konon, haji memberikan kenikmatan jiwa yang tak terkira.

Tak heran bila haji menjadi cita-cita banyak muslim, bahkan yang sudah melaksanakan haji – wajibnya hanya sekali – masih ingin berangkat lagi untuk mengejar kenikmatan jiwa itu. Sering kita menemui orang yang sudah berhaji lebih dari sekali. Mereka ingin mengulang kenikamatan menatap Kakbah, khusuknya berdoa di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi yang menenteramkan jiwa.

Maka ketika persiapan ibadah haji dengan manasik, para pembimbing selalu menekankan, kalau ingin mendapat haji mabrur, harus ikhlas ; melakukan segala sesuatu hanya berharap keridhaan Allah SWT. Jika amal adalah badan, maka ikhlas adalah ruhnya. Jadi kalau beramal tanpa keikhlasan, bak raga tak memiliki ruh.

Sebelum berangkat haji, para jamaah selalu didoktrin untuk selalu ikhlas, baik selama di tanah air maupun di tanah suci. Tidak usah memikir yang macam-macam, konsentrasikan diri untuk hanya beribadah menggapai keridhaan Allah. Ketika mendapati masalah-masalah yang tidak mengenakkan selama menjalankan ibadah haji, tidak usah diributkan, anggap saja itu sebagai ujian kesabaran untuk mencapai haji mabrur.

Para calon jamaah haji itu diberi ajaran yang mulia untuk selalu pasrah kepada kehendak Tuhan. Untuk meningkatkan ibadah dan mendekatkan diri pada Sang Pencipta. Tapi sayang, keikhlasan para jamaah itu disalahgunakan, baik atas nama individu maupun institusi. Maka jangan heran kalau setiap tahun pelayanan bagi jamaah Indonesia tidak menjadi lebih baik, tapi justru sebaliknya. Saya baru saja mendapat kabar dari teman di Makkah mengenai ‘’kesengsaraan’’ menjalankan ibadah haji tahun ini.

Sudah menjadi rahasia umum, jamaah haji Indonesia selalu mendapat pemondokan (Maktab) yang tidak dekat Masjidil Haram maupun Masjid Nabawi. Saat berada di Makkah dan Madinah, jamaah kita sering iri dengan jamaah negara tetangga, Malaysia yang mendapat penginapan yang sangat bagus dan dekat dengan Masjidil Haram. Ketika ditanyakan kepada mereka, uang yang mereka keluarkan tidak jauh berbeda dengan yang dikeluarkan jamaah Indonesia. Dengan uang yang sama, jamaah Indonesia mendapat Maktab berjarak sekitar 10 Km dari Masjidil Haram.

Tahun lalu, pemerintah menjanjikan layanan yang lebih baik, lokasi Maktab yang lebih dekat. Apa lacur, janji tinggal janji, maktab tetap jauh. Bukan hanya jauh, tapi bangunannya jauh dari layak dengan fasilitas yang masih lebih baik dibanding rumah kebanyakan rakyat Indonesia. Jumlah kamar mandi terbatas, belum lagi airnya yang sering macet sehingga menyusahkan jamaah.

Ketika gagal memberi layanan Maktab yang dekat, pemerintah membuat iklan di TV, jauh tidak masalah sudah disediakan angkutan. Yang penting ikhlas. Dengan dalih ikhlas itu pula jamaah diminta menerima apa yang tidak seharusnya mereka terima. Angkutan memang ada, tapi tidak armadanya tidak sebanding dengan jumlah jamaah yang lebih banyak. Mereka harus berebut bus dan kalau sudah masuk, harus berdesak-desakan di dalam kendaraan yang pengap. Itu baru sebagian ‘’penderitaan’’ yang dialami para jamaah haji yang seharusnya mereka mendapat pelayanan yang istimewa. Para jamaah haji itu bukan orang sembarangan, mereka adalah duyufurrakhman, tamu-tamu Tuhan yang Maha Pengasih.

Dari tahun ke tahun layanan haji tidak menjadi lebih baik. Setiap ganti menteri agama, selalu mencanangkan perbaikan layanan haji, tapi apa yang terjadi. Bukan semakin baik, tapi semakin amburadul. Pemerintah harus bertanggung jawab kepada para jamaah dan kepada seluruh rakyat Indonesia. Dan yang paling berat, pemerintah harus mempertanggung jawabkan kepada Tuhan, karena telah menyengsarakan tamu-tamu Allah.

Tamu-tamu terhormat itu harusnya dimuliakan, karena mereka berangkat dengan bekal ikhlas. Jangan sebaliknya, dengan alasan mereka pasti ikhlas, kemudian tidak dilayani dengan layak. Tapi waspadalah, lama kelamaan jumlah yang tidak ikhlas makin banyak. Mereka tidak bisa lagi diredam dengan kata-kata : harus ikhlas menerima semuanya ini. Ikhlas sudah disalahgunakan. Kita baru tahu maksudnya, kenapa selama di tanah air para jamaah itu selalu diminta ikhlas.


Responses

  1. Horee… pertamax

  2. Iya, ya Cak. Sudah berbaik hati dengan ikhlas, tetapi masih diperlakukan tidak semestinya. Apakah orang2 kita harus dikasari dulu baru mau memberikan hak2 kepada orang lain? Tapi itu gak elok, kan. Semoga jamaah haji kita tawakal dan, terutama menjadi haji mabrur. Amien.

  3. jadi inget temen saya yang haji pas ada tragedi katering dulu… wah katanya banyak jamaah haji yang maki-maki dan menyumpahin kepala depag waktu itu…

  4. Menyedihkan memang,apalagi membayangkan para calon jamaah haji yang sudah uzur,harus berjalan kaki sejauh itu, benar benar ujian kesabaran dan keikhlasan yang luar biasa..
    Sie cuma bisa mendoakan semoga Allah memberikan kekuatan lahir bathin, kesehatan jasmani dan rohani kepada seluruh jamaah haji indonesia, semoga menjadi haji yang mabrur Amin!
    Salam ^^v


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: