Oleh: husnun | Mei 16, 2009

Membaca ”Ayat” yang Berserakan

BETAPA susahnya mengajak orang membaca, mungkin  sama susahnya mengajak orang untuk berhenti merokok. Sudah jelas bahwa membaca itu membawa banyak manfaat, tapi tetap saja banyak orang malas membaca. Sudah tahu kalau merokok itu membahayakan kesehatan pribadi dan lingkungan sekitarnya, tetap saja dari mulut mengepul asap (konon) kenikmatan.

Banyak indikator bisa dilihat dari rendahnya minat baca itu. Salah satunya, sampai saat ini jumlah koran yang beredar di Indonesia kurang 10 persen dari jumlah penduduk. Itulah sebabnya bila sampai saat ini belum ada koran di Indonesia yang tirasnya mencapai satu juta eksemplar. Itu untuk koran yang terbit tiap hari. Bagaimana dengan buku, jurnal atau bahan bacaan yang lain. Bisa dipastikan jumlahnya sangat sedikit.

Kondisi itu menunjukkan bahwa konsumsi bahan bacaan rakyat kita masih sangat rendah. Kalau ditanya, apakah mereka punya perpustakaan – atau lemari khusus menyimpan buku – bisa dipastikan jumlahnya sangat sedikit. Jumlahnya lebih sedikit lagi yang saat membangun rumah merencanakan ruang perpustakaan sekaligus ruang baca. Kemajuan bangsa ini tersendat karena tidak banyak rakyatnya yang membaca. Padahal, membaca adalah kunci pengetahuan.

Keengganan membaca itulah yang menyebabkan kelemahan kita membaca tanda-tanda yang terserak di alam. Kita malas membaca hal-hal yang tersurat apalagi yang tersirat. Kalau yang tersurat secara jelas gamblang saja enggan dibaca, apalagi yang tersirat yang jumlahnya jauh lebih banyak

Membaca menjadi sangat penting. Itulah sebabnya, perintah pertama kepada seorang rasul adalah membaca : Iqra’. Rasul Tuhan yang ummi, tidak bisa membaca atau buta huruf dipaksa untuk bisa membaca. Entah karena terpaksa atau yang lain, akhirnya Rasul yang buta huruf itu sangat pandai membaca, baik yang tersirat maupun yang tersurat.

Kelemahan membaca itulah yang menyababkan kita tidak bisa belajar dari kejadian pada masa yang lalu. Ayat Tuhan tidak hanya yang tertulis di KitabNya, tapi yang banyak justru yang berserakan di muka bumi ini. Ayat-ayat dalam mengatur semua kehidupan manusia sampai akhir zaman. Tapi di balik itu Tuhan menurunkan ayat yang tersirat di alam.

Banyak peristiwa yang kemudian menjadi ‘’ayat’’ yang bisa jadi bahan pelajaran berharga bagi manusia. Semuanya bisa dijadikan pelajaran, baik peristiwa yang baik maupun yang buruk. Yang baik ditiru sedangkan yang buruk tetap dipelajari untuk dihindari. Setiap peristiwa dituliskan di dinding dunia untuk dibaca umat manusia. Terserah umat manusia, mau membaca, kemudian mempelajarinya atau tidak.

Hari-hari terakhir ini kita mendapat banyak ‘’bacaan’’ yang terserak di permukaan alam. Salah satu pelajaran itu adalah, jagalah anggota badanmu, perut dan di bawahnya. Seperti yang diwasiatkan Rasulullah, waspadalah terhadap perut dan di bawahnya. Perut harus selalu dijaga agar tidak kekenyangan atau kelaparan – meminjam istilah Fetty Vera : yang sedang-sedang saja.

Kalau dituruti, keinginan perut tak akan ada habisnya. Sudah punya banyak kekayaan masih terus kurang, karena takut lapar. Uang miliaran disimpan karena takut anak cucunya tidak bisa makan. Sudah jadi perwira, ingin jadi perwira menengah, selanjutnya ingin jadi perwira tinggi. Tuntutan itu membuat orang jadi gelap mata – meskipun sudah membangun sebuah masjid senilai Rp 2 miliar, kekayaan yang melimpah, pangkat yang tinggi. Tapi tuntutan itu tak ada hentinya. Demi pangkat, rela mengorbankan apa saja, termasuk reputasi bagus yang dibangun dengan susah payah.

Yang tak kalah penting adalah anggota badan di bawah perut (farj). Sama seperti perut, farj bisa membuat orang jadi kalap. Tuntutan berahi farj membuat orang lupa segalanya, bahwa lawan jenis yang diincarnya sepantaran dengan anak atau cucunya. Untuk memenuhi keinginan farj, rela mengorbankan segalanya, rumah tangga, nama baik yang dibangun dengan susah payah. Bagaimana mungkin orang yang paling disegani dalam bidang pemberantasan korupsi bisa berbuat nekat hanya karena tuntutan farj. Orang yang tadinya sangat terhormat karena jabatannya yang hebat, kini digelandang  ke meja pemeriksaan polisi hanya dengan celana pendek, baju tahanan dan sandal jepit.

Bandingkan pekan sebelumnya kala dia tampil dengan penuh percaya diri, dengan pakaian perlente, di hadapan para wartawan. Tak ketinggalan sang istri diajak serta. Keduanya menebar senyum kepada para fotografer. Meskipun tersenyum, kalau kita jeli, di balik senyum sang istri itu tersimpan derita yang tak terperikan.Satu lagi, Tuhan menuliskan ‘’ayatnya’’ untuk kit abaca. Bunyinya begini : Kalau ingin selamat dunia akhirat, jagalah perutmu dan di bawahnya.


Responses

  1. salah satu alasan ngeblog, adalah supaya membaca (dan juga menulis)

    *)Betul Mas Eko, punya blog itu seperti punya koran pribadi

  2. Jangankan membaca tulisan orang lain Mas, wong orang “Indonesia” disuruh buat catatan untuk dirinya sendiri biar nggak lupa aja susah.

    Nggak tahu tuh kapan budaya buruk itu bermula.

    Sepertinya gudangnya nafsu itu ada di perut, dan gudangnya birahi ada di bawahnya.

    *)Ayo Mas, kita kampanye ngajak semua orang untuk menulis dan membaca, biar tidak ngurusi perut – dan bawahnya – terus-terusan

  3. Sebelumnya mau bilang ‘hore akhirnya arema menang’😀
    Yg punya hobi blogwalking berarti suka baca kan sam..
    Ngomongin berhenti merokok gak sulit kok kalo udah niat..
    Semoga korane wong malang makin banyak yg baca😉

    *)Oyi Sep, kalau sudah biasa baca, kalau mau nulis gak terlalu sulit, tinggal kapan mau mulai

  4. pak de … mbak fitri besok siang ngajak saya ke Malang Pos… boleh khan?

    he…he.. maksa🙂

    *)Monggo, ahlan wa sahlan, kedatangan tamu agung

  5. wah, iya, membaca,,😀 , saya juga harus nih, belajar membaca..

    mencoba mencari dedaunan yang berserakan,, begitu ayas menamai blog ayas, hiks hiks, semoga…

  6. Lho pak..kok ada Veti Vera segala…hehe….
    “ayat” yang berserak… setujuh Pak…. harus banyak2 membaca alam.. membaca lingkungan.. membaca apa yang disiratkan oleh sang Penguasa Alam…. dan membaca rekening ..(yang terakhir hapus) hihi….

  7. mari membaca diri..🙂

  8. Membaca akan lebih indah jika bukan saja dengan mata tapi juga dengan hati…
    Gimana kabarnya mas… Lama ga berkunjung ne.. maaf, lagi nyoba rumah baru ne..

  9. Hidup adalah satu perjalanan dalam pencarian arti dan makna kehidupan..
    Salam sayang


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: