Oleh: husnun | September 17, 2009

Benarkah Idul Fitri itu Kemenangan

KENAPA Idul Fitri disebut sebagai hari kemenangan ? Entah dari mana asal muasalnya, istilah itu jadi popular di kalangan masyarakat. Tengok saja, ucapan selamat Idul Fitri biasanya disertai dengan istilah hari kemenangan. Apa benar yang merayakan Idul Fitri itu pemenang ? Disebut pemenang – mungkin – karena baru saja menyelesaikan ibadah puasa yang berat untuk mengalahkan hawa nafsu.

Apa benar orang-orang yang berpuasa itu bisa mengalahkan hawa nafsunya ? Rasanya kok tidak. Lihat saja saat-saat akhir menjelang berakhirnya Ramadan. Jamaah tarawih semakin maju – tadinya ada beberapa shaf, tinggal satu shaf saja, yang tadarus mulai berkurang, meskipun ada beberapa yang masih iktikaf. Mereka yang pada awal Ramadan memadati masjid dan musalla mengalihkan aktifitasnya ke mal, plasa, pasar dan pusat keramaian untuk belanja menyiapkan Idul Fitri. Yang lebih ironis, menjelang akhir Ramadan jumlah pemokel (orang yang tidak puasa) semakin banyak. Orang tidak malu lagi makan dan minum di tempat umum di siang hari saat puasa.

Mereka tidak risi merokok sambil jalan, sambil naik motor atau mengemudi mobil. Justru mereka yang tidak berpuasa itulah yang sangat sibuk menghadapi Idul Fitri. Belanja dengan membabi buta agar Idul Fitri jadi bergengsi ; beli baju baru, mobil baru, motor baru, interior rumah baru, semuanya serba baru. Orang-orang seperti inilah yang membuat rusak suasana khusuk Ramadan, yang menambah penderitaan masyarakat dan menambah beban Negara.

Betapa tidak, saat Ramadan justru inflasi tambah naik, karena nafsu belanja yang tak terkendali, beli apa saja, meskipun harus utang. Lantas, apakah orang-orang seperti ini layak untuk merayakan Idul Fitri ? Ya, mereka ingin dan harus merayakan dengan segala gemerlap dunia, bak baru saja memenangkan trofi Liga Champions, tak peduli dari mana uang yang dipakai. Jangan heran bila usai Lebaran banyak yang jatuh pailit terlilit utang, karena pengeluaran lebih besar dari pengeluaran.

Kerja keras setahun hanya lenyap dalam beberapa hari Lebaran. Mereka inilah pecundang. Dan, jumlah mereka itu lebih banyak dibanding mereka yang tetap istiqomah dengan puasanya, yang berburu Lailatul Qadar dengan khusuk berdiam diri di rumah-rumah Allah. Seperti janji Allah, jumlah mereka memang cuma sedikit. Wa qolilum min ibadiyasy syakur. Mereka meningkatkan kewaspadaannya saat menjelang akhir Ramadan, karena saat itu sangat menentukan keberhasilan puasanya. Lailatul Qadar impiannya.

Keberhasilan puasa menjadi insan muttaqin yang diidampak akan menjadi bekal untuk berperang melawan hawa nafsu pada 11 bulan berikutnya. Puasa selama sebulan itu ibarat Gatutkaca masuk kawan Candradimuka untuk menghadapi Baratayudha yang sangat berat. Idul Fitri bukan kemengan, karena baru starting point menuju pertempuran yang sesungguhnya yang jauh lebih berat. Menundukkan hawa nafsu di bulan Ramadan praktis lebih mudah – meskipun sangat banyak jatuh korban – karena situasinya sangat mendukung. Mau puasa lebih mudah karena banyak temannya, mau qiyamullail gampang karena tiap malam digelar di masjid, mau tadarus enak karena ada yang nemani lengkap dengan camilannya, salat jamaah di masjid tidak sulit karena banyak pengikutnya.

Ibadah jadi mudah, karena setan laknatullah dibelenggu, pintu neraka ditutup rapat dan pintu sorga dibuka lebar-lebar. Sebenarnya rugi kalau tidak bisa beribadah dengan khusuk pada saat yang sangat kondusif, saat para penggoda ibadah itu tengah diistirahatkan. Maka, ketika kemaksiatan tetap merajalela saat Ramadan, bukan salah setannya, tapi hawa nafsu manusia yang menjadi foto kopi setan yang sudah mendarah daging. Tanpa digoda oleh setan pun sangat lancar bermaksiat. Medan laga yang sesungguhnya justru saat akhir Ramadan atau tanggal 1 Syawwal.

Di situlah terjadi serangan iman yang sangat hebat. Setan yang lepas dari kungkungan, setelah sebulan terbelenggu, tentu tidak mau tinggal diam. Dia akan mengerahkan segenap daya dan upaya untuk kembali menanamkan ideologi syaithoniah untuk mengajak manusia pada kenikmatan sesaat di dunia. Setan dengan tipu dayanya melenakan manusia akan akhirat yang seharusnya jadi tujuan utama hidup. Bujuk rayu setan mengajak manusia untuk melupakan masjid, salat, amar makruf nahi munkar, kejujuran, keadilan dan rasa kemanusiaan.

Ibadah yang giat dilakukan selama Ramadan minta segara dihapus, maka jangan heran kalau rasanya berat mau puasa lagi (di luar Ramadan), salat malam, tartil Al quran dan sadakah. Itu tandanya kita baru saja ditaklukkan oleh setan. Lantas, kemenangan apa yang kita peroleh saat Idul Fitri. Tapi tidak semua – meskipun hanya sedikit – jadi pecundang kemudian jadi budak setan.

Masih ada yang melanjutkan amalan-amalan Ramadan untuk meningkatkan iman dan menjaga predikat takwa. Puasa tetap dilakukan, meskipun sunnah, begitu juga dengan tahajjud, tartil Al quran dan sadakah. Kalau semua itu istiqamah dilakukan sampai Ramadan yang akan datang, itulah para pemenang yang sesungguhnya. Taqabbalallahu minna waminkum, mohon maaf lahir batin.


Responses

  1. lama gak berkunjung..

    Selamat Idul Fitri 1430H Mas, mohon maaf lahir batin yaa..🙂

  2. Assalaamu’alaikum..

    Maaf sahabat, kerana baru berkunjung tika takbir sudah lama berkumandang di ruang angkasa, sekadar ingin menyampai salam dan pesan juga khabar di Aidil fitri yang menggembirakan ini.

    Sebening air wudhu’ ditatah
    sesuci kitabbullah di hayati
    semerdu alunan zikir disebut
    seindah solat yang didirikan
    setenang hati yang penuh dengan kasih dan sayang.
    Andai bicara tidak dapat disambut
    Jika wajah tidak sempat ditatap
    Bukalah pintu maaf buat saya.
    Dengan kemaafan dari hati yang dalam..

    Saya ingin mengucapkan Selamat hari raya. Maaf zahir dan bathin. Terima kasih atas segalanya. Salam aidil fitri dari Sarikei, Sarawak.

  3. Ya….sepertinya memang begitu Mas….dan itu hanya terjadi di Indonesia. Entah sampai kapan korban konyol mudik akan berkurang karena memenuhi hasrat dan gengsi sekedar berkunjung keluarga.
    Selamat idul fitri Mas, mohon maaf lahir dan batin.

  4. mas husnun, maaf saya baru bisa berkunjung kesini, mungkin telat tp engga apa2, saya juga mohon maaf lahir & bathin ya, mudah2an seluruh keluarga selalu sehat, amin…

  5. dangu mboten sowan darteng mriki😀

  6. kalau memajukan shaf saya punya andil di satu tempat tapi saya gantikan dengan memundurkan shaf di tempat lain, karena mudik Mas

  7. idul fitri memang kemenangan


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: