Oleh: husnun | Januari 4, 2010

Jurnalisme Positif

TAHUN 2010, ketika banyak orang memprediksi tidak akan lebih baik dibanding tahun lalu, perlu dihadapi dengan semangat kerja keras dan positif. Dunia jurnalistik Indonesia tahun lalu diakhiri dengan sebuah ‘’tragedi’’ yang menghebohkan. Sekelompok wartawan melaporkan artis Luna Maya ke polisi karena komentarnya yang pedas di Twitter kepada para pekerja infotainment.

Para pekerja infotainment itu melaporkan Luna dengan menggunakan UU nomer 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE). Kontroversi pun merebak seputar keberadaan pekerja infotainment dan UU ITE. Apakah para pekerja infotainment itu termasuk wartawan atau tidak ? Ketika pasal dalam UU ITE itu dikenakan kepada wartawan, banyak yang menentang karena dianggap melanggar kebebasan pers. Kondisinya menjadi runyam justru ketika wartawan yang menggunakan pasal dalam UU itu untuk menjerat orang lain.

Setelah mengalami masa-masa keemasan pasca-reformasi, pers Indonesia mulai mendapat hambatan dari berbagai pihak. Pemerintah merupakan pihak yang mengaku paling banyak mengeluh soal kebebasan pers yang sering diplesetkan menjadi kebablasan pers itu. Departemen Penerangan, yang pada era Presiden Gus Dur (almarhum) dibubarkan karena dianggap menghambat kebebasan pers, dihidupkan lagi menjadi Depkominfo. Departemen ini berhasil mengegolkan UU ITE yang bisa menghambat kebebasan pers. Bahkan Departemen ini juga tengah menggodok aturan mengenai penyadapan. Kebebasan pers yang sempat dinikmati dalam satu dekade  ini tengah terancam dengan berbagai aturan pemerintah, bahkan sudah muncul rencana untuk merevisi UU 40 tahun 1999.

Terlepas dari kondisi eksternal itu, maka tak ada salahnya para professional pers melakukan muhasabah, introspeksi terhadap diri sendiri. Harus jujur diakui, masih banyak kelemahan pers Indonesia terutama yang berhubungan dengan profesionalisme. Banyak wartawan yang menjalani profesinya itu justru karena tidak ada lapangan pekerjaan lain, terpaksa jadi wartawan. Tidak banyak yang menjadi wartawan karena panggilan hati nurani untuk mengabdi pada kebenaran menyampaikan warta kepada masyarakat.

Profesi yang bertujuan untuk menyampaikan kebenaran justru berbalik menjadi pekerjaan menista, menghujat, mengumbar aib, adu domba, menyebar kebohongan dan kejelekan lain. Ketika ditanya, mereka berdalih pada kaidah pers yang sudah dianut bertahun-tahun, bad news is good news. Kalau tidak ada berita jelek – atau menjelekkan orang lain – produk media sulit dijual. Masyarakat lebih suka hard news dengan contain yang menyerang. Masih banyak yang beranggapan, keberanian menyerang merupakan poin yang sangat disukai masyarakat pembaca.

Benarkah ? Inilah yang pelu  kita diskusikan. Tampaknya masyarakat sudah mulai bosan dengan berita yang merupakan penyelewengan bad news is good news. Idiom ini dimaknai secara dangkal, jejali halaman dengan berita-berita jelek. Penuhi program acara dengan menggunjing dan mengumbar aib orang. Sayang tidak banyak yang sadar, kalau masyarakat pembaca sudah mulai jengah dengan berbagai berita yang dikemas dengan semangat bad news itu.

Bad news itu sesungguhnya hanya sarana, tapi ada sesuatu yang baik di baliknya. Berita yang jelek itu ditampilkan bukan dengan semangat untuk menjatuhkan, tapi dengan semangat mengedepankan kebenaran. Bukankah elemen terpenting dari jurnalisme itu adalah kebenaran ? Atau mungkin banyak wartawan yang tidak mengetahuinya. Berita apapun yang ditampilkan, semangatnya adalah menampilkan kebenaran. Daripada memperdebatkan hal ini, bukankah lebih baik kita merubah bad news is good news menjadi good news is good news.

Lebih baik kita menyajikan kebaikan kepada pembaca daripada menjejalkan keburukan. Berita tidak bisa dilepaskan dari fakta, karena itu landasan berita, karena itulah yang membedakan berita dengan fiksi. Tapi fakta saja tidak cukup, tapi harus ada semangat untuk menonjolkan kebenaran. Beragam peristiwa harus tetap ditulis, tapi harus dilihat dengan sudut pandang yang positif penuh empati.

Sudah saatnya jurnalisme positif mulai dikenalkan dan dilaksanakan para profesional pers dan masyarakat sebagai konsumen. Sebenarnya ini bukan sesuatu yang baru, tapi sudah ada sejak munculnya Acta Diurna di jaman Romawi. Masyarakat berhak mendapat berita yang baik yang mereka inginkan, bukan berita yang menyebar kebencian dan permusuhan. Banyak yang memprediksi usia media cetak tak akan lebih dari 50 tahun, tapi siapa tahu jurnalisme positif bisa memperpanjang usia itu.


Responses

  1. hmmm…
    yah lbh baik good news is good news…

    antara artis, wartawan juga penikmat berita harus intropeksi diri masing2, ya kan?

    Salam kenal, arema yah?? sama dunk ^^/

  2. oke om

  3. terlalu bnyk berita buruk..menjadikan hal2 buruk tu biasa..misal kt melakukn,kn byk temannya,,yah akhrx hal2 buruk tu tdk d permslhkn lg krn sangking biasanya..dn akan d agap benar lama!!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: