Oleh: husnun | September 7, 2010

Ramadan yang Mengesankan

MEMANG tidak terbantahkan kalau bulan Ramadan itu memberikan banyak pelajaran – kepada siapa yang mau memetik pelajaran di dalamnya. Bagi saya, Ramadan tahun ini memberi pengalaman yang tidak terhingga. Salah satunya adalah, saya punya kesempatan untuk pergi ke tempat-tempat yang selama ini belum pernah saya datangi. Bukan di luar negeri atau di seantero nusantara ini, tapi di sini, di kota Malang. Selama Ramadan ini saya berkesempatan untuk tarawih dan salat subuh di beberapa masjid atau musala yang lokasinya tersebar di wilayah Malang. Suatu saat di masjid yang sangat bagus dan wangi dengan karpet empuk dan AC yang sejuk, di saat yang lain datang ke masjid yang sederhana.

Pernah saya datang ke musala di perkampungan padat, saking padatanya sampai sepeda motor tidak bisa dinaiki. Dari sisi bentuknya, ada yang besar dan luas tapi ada juga yang sempit, untuk sujud pun kepala harus mentok ke tembok. Tak jarang suara imam harus beradu dengan keriuahan suara mercon yang disulut di sekitar tempat ibadah itu. Malam Ahad lalu saya mendapat kesempatan salat tarawih di musala – kalau dilihat dari bentuknya – yang belum selesai pembangunannya. Tapi itu hal yang biasa, membangun atau merenovasi musala untuk menyambut Ramadan, meskipun belum selesai seluruhnya, dipakai juga untuk kegiatan Ramadan. Lokasinya masih di kota Malang, tapi saya benar-benar awam sehingga harus beberapa kali menanyakan tentang kepastian lokasinya. Saya harus berangkat usai berbuka dan sampai di lokasi pas setelah azan Isya ketika musala sudah penuh jamaah. Yang mengesankan adalah, inilah musala yang ‘’mewah’’ (mepet sawah), karena di kiri kanannya dikelilingi sawah. Tak heran bila orkes simponi kodok ngorek terus berkumandang, ditimpali suara serangga dan jangkrik, mengingatkan pada suasana pedesaan yang khas. Saya benar-benar terkesan tarawih di musala ini, bukan hanya karena lokasinya yang ‘’mewah’’ jauh dari keriuhan kota, tapi saat saya ‘’diwarning’’ oleh takmir musala. Usai salat Isya, pegurus takmir membisiki saya. ‘’Salatnya kecepetan, rukuk dan sujudnya kurang lama,’’ katanya. Saya pun berusaha menyembunyikan kekagetan saya dan tentu saja memenuhi permintaan itu dengan suka cita. Ya, perasaan saya bercampur antara heran dengan senang. Di tempat lain, salat saya sering dianggap kelamaan, baik bacaannya maupun gerakannya, tapi di tempat ini saya dianggap kecepatan. Tarawih atau qiyamullail, kalau mengacu pada contoh yang dilakukan Rasulullah, bisa dilakukan semalaman. Bahkan saking lamanya berdiri, kaki junjungan kita itu sampai bengkak. Dalam riwayat yang lain disebutkan, qiyam (berdiri) beliau sangat lama, setelah membaca fatihah terus membaca surat yang panjang. Rukuk beliau sangat lama, begitu juga sujudnya. Tak heran bila salat malam beliau itu dimulai usai Isya dan berakhir menjelang azan Subuh. Dalam rukuk dan sujud misalnya, bacaannya bukan saja tiga kali – seperti yang biasa kita lakukan – tapi bisa sampai puluhan bahkan lebih dari seratus. Kuatkah kita meniru apa yang dilakukan Rasulullah itu ? Sebenarnya bukan soal kuat dan tidak kuat, tapi soal keyakinan kebenaran apa yang dilakukan Rasulullah dan berusaha untuk melakukan semampunya. Kalau tidak kuat satu rakaat baca ayat satu juz, paling tidak ya jangan cuma satu ayat. Kalau bacaan rukuk tidak kuat puluhan atau lebih dari seratus, ya jangan cuma sekali atau tiga kali itupun dilakukan dengan kecepatan ekstra. Begitu juga saat sujud, akan lebih afdol kalau dilakukan lebih lama. Kata Rasulullah, keadaan paling dekat seorang hamba dengan tuhannya adalah saat sujud, maka banyaklah berdoa. Jadi, kalau rukuk dan sujud – baik dalam salat wajib maupun tarawih, yang thumakninah, ada jeda antara satu gerakan dengan gerakan lain. Kita perbaiki gerakan dan bacaan salat untuk dinikmati, karena sesungguhnya salat itu nikmat. Ramadan masih tersisa beberapa hari, masih ada kesempatan untuk qiyamullail untuk berdialog dan mengadu kepada Allah, terutama di sepuluh hari terakhir. Banyak yang meningkatkan akselerasi ibadahnya pada sepuluh hari terakhir ini untuk bisa mendapatkan lailatul qadar. Keutamaan dan kenikmatan ibadah itulah yang terus kita buru agar terus bisa dilaksanakan dan dinikmati di 11 bulan yang akan datang. Sebentar lagi Ramadan akan pergi meninggalkan kita, tapi kita masih bisa berdoa mohon pada Allah, mudah-mudahan tahun depan masih dipertemukan dengan Ramadan lagi. Amin


Responses

  1. Banyak pelajaran yang didapat di bulan Ramadhan.
    Ramadhan penuh nimat dan barokah.
    Tak sabar menunggu ramadhan tahun berikut.
    Semoga dapat bersua kembali.
    Amiiin

    salam superhangat


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: