Oleh: husnun | Maret 1, 2011

SBY dan Jurnalisme Damai

Oleh :Husnun N Djuraid

PERINGATAN Hari Pers Nasional (HPN) di Kupang, Rabu lalu menjadi ajang bagi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) untuk menyampaikan harapan agar pers nasional mampu menciptakan perdamaian di tanah air. Sebelumnya SBY banyak memuji pers nasional yang sudah menjalankan perannya dengan baik dalam ikut serta menyerdaskan kehidupan bangsa. Pers juga berperan dalam mendorong dan mengontrol pembangunan di pusat dan daerah. Terkait dengan kasus kerusuhan dan tindak kekerasan yang marak belakangan ini, SBY minta pers mengambil peran dalam di antara umat beragama.

Sebenarnya pernyataan SBY itu sekedar mengingatkan agar pers Indonesia tetap aktif dalam menjaga kerukunan umat beragama. Dalam kasus Temanggung misalnya, pemberitaan pers Indonesia cukup hati-hati, bukan semata-mata memberitakan soal aksi kerusukan itu saja. Beberapa media sudah menampilkan pemberitaan untuk membawa audiencenya melihat permasalahan itu tidak sekedar hitam-putih, perseteruan antara dua agama. Tapi menampilakan permasalahan agar masalah seperti itu tidak terulang lagi.

Pers Indonesia mengambil jalan ‘’paling aman’’ untuk memberitakan kasus kekerasan tersebut, yakni menyalahkan pemerintah dan aparat keamanannya. Bagaimana mungkin sebuah gerakan masyarakat lintas wilayah yang sangat  massif bisa luput dari pengamatan aparat keamanan. Antisipasi terhadap gerakan massa itu dinilai agak kurang, bahkan dalam lebih ekstrem ada yang menyebut terjadi pembiaran oleh pemerintah terhadap kasus ini. Dalam kasus kerusuhan ini, baik di Pandeglang maupun Temanggung, kepolisian dinilai lalai dalam menjalankan tugasnya menjaga keamanan.

Menjadikan aparat keamanan sebagai pihak yang bersalah dalam aksi kekerasan merupakan pilihan yang aman dibanding menempatkan pihak lain di tempat yang sama. Pihak-pihak yang berkonflik memilik emosi yang tinggi terkait dengan kondisi psikologis yang merasa dizalimi oleh pihak lain. Dalam beberapa kasus, pers juga menjadi sasaran aksi kekerasan oleh pihak yang berkonflik karena pemberitaannya dianggap tidak berimbang atau memihak salah satu pihak.  Perusakan kantor, intimidasi, pemukulan bahkan sampai pada pembunuhan terhadap wartawan, dilakukan karena rasa tidak puas tersebut. Tanpa meninggalkan unsur konflik dalam berita, maka menempatkan pemerintah atau aparat keamanan sebagai pihak yang bersalah merupakan tindakan dengan risiko paling kecil.

JURNALISME DAMAI

Pada awalnya pers melakukan liputan sebuah peristiwa apa adanya sesuai fakta, termasuk dalam pemberitaan tentang tindak kekerasan bahkan pada peperangan. Pers hanya memberitakan segala sesuatu secara hitam putih, kalah menang dengan mengedepankan konflik, kekerasan, korban yang tewas dan kurasakan material yang terjadi. Jurnalisme model ini mendapat tempat di kalangan masyarakat karena mereka menganggap sebagai sesuatu yang menarik dan dramatis. Tapi model yang disebut dengan war journalism itu lama kelamaan mulai ditinggalkan, karena hanya memberitakan peristiwa tanpa pendalaman yang kreatif. Konflik diberitakan ketika berubah menjadi aksi kekerasan, tidak disebutkan tentang asal usul konflik. Bahkan ketika konflik itu memuncak menjadi aksi kekerasan, tidak ada upaya untuk mendudukkan masalah pada porsinya. Jurnalisme perang dengan pemberitaannya yang bombastis justru memperjauh pihak-pihak yang bersengketa untuk menunjukkan siapa yang kalah dan siapa yang menang.

Adalah Profesor Johan Galtung yang menggagas peace journalism (jurnalisme damai) untuk menggantikan jurnalisme perang yang berdarah-darah dan mengeksploitas kekerasan. Galtung kemudian diikuti oleh Annabel Mc Goldrick dan Jake Lynch yang mengembangkan jurnalisme damai sebagai aliran baru menggantikan jurnalisme perang.  Jurnalisme damai mendorong perubahan teori klasik tentang jurnalisme bahwa berita itu semata-mata berdasarkan fakta, hitam putih dan kalah menang.

Pers tetap pada perannya sebagai provokator, tapi bukan provokator meningkatkan ekskalasi konflik, tapi memprovokasi pihak-pihak yang bersengketa untuk menemukan jalan keluar. Pemberitaa yang ditampilkan bukan semata-mata siapa yang menang atau kalah, tapi lebih pada pendekatan menang-menang (win-win solution) dan memberi ruang yang lebih banyak kepada kedua belah pihak untuk berdamai.

Dalam kasus Temanggung, terlihat  bagaimana pers Indonesia menempatkan kerusuhkan itu dalam bingkai yang lebih luas dan akurat yang didasarkan pada informasi tentang konflik dan perubahan-perubahan yang terjadi. Meskipun dalam kasus SARA seperti itu, ada informasi yang sengaja ‘’disembunyikan’’ untuk menghindarkan konflik yang lebih luas. Pers menempuh jalan kebijaksanaan untuk tidak menyebut asal usul konflik itu secara terbuka dengan misi yang bagus, konflik tidak sampai meluas. Dalam running news berita kerusuhan itu justru mulai ditawarkan alternative untuk menyelesaikan konflik itu secara adil.

Tapi jurnalisme damai itu belum bisa dilaksanakan sepenuhnya. Untuk konflik lain, misalnya dalam bidang sosial dan politik, konflik itu disajikan dengan apa adanya dalam bingkai war journalism. Kekerasan baik dalam bentukan tindakan maupun dalam verbal, kerap muncul tanpa ada filter visi bagaimana menjadikan konflik itu berakhir dengan damai. Paradigma lama masih kerap dipakai dalam liputan konflik, kalau konflik berakhir,  wartawan akan kehilangan isu yang hangat. Maka wartawan bukan saja sebagai penyampai informasi kepada masyarakat, tapi sudah menjadi bagian dengan ikut bermain dalam konflik dengan memihak salah satu pihak yang bersengketa.

Layar kaca dan lembaran koran sudah menjadi panggung yang menampilkan kekerasan secara hitam putih. Kerusuhan massa – kecuali yang berlatar belakang agama – ditampilkan secara telanjang dengan alasan model pemberitaan seperti itu yang disukai oleh audience. Motif ekonomis kerap dipakai alasan untuk kembali menampilkan war journalism, padahal hal itu tidak semuanya benar. Tidak semua audience suka dengan kekerasan yang ditampilkan secara vulgar. Para pembaca dan pemersa pasti akan miris menyaksikan betapa beringasnya massa yang menghajar petugas Satpol PP atau polisi dengan pentungan, batu dan senjata tajam. Aksi sadis itu baru berhenti setelah diketahui korbannya sudah tidak bernyawa lagi. Di layar kaca, adegan ini dilakukan berulang-ulang untuk menarik minat pemirsa. Dalam lingkup yang lebih kecil ditampilkan bagaimana seorang pencopet HP atau maling kotal amal di masjid menjadi bulan-bulanan dikeroyok massa. Padahal sesungguhnya masyarakat tidak selamanya suka dengan model pemberitaan seperti itu. Masyarakat sudah jenuh dengan konflik yang tidak berujung. Jurnalisme damai mungkin bisa menjadi penawar di tengah kegalauan dan keresahan masyarakat menghadapi kondisi saat ini yang tidak menentu.

*) Husnun N Djuraid, wartawan Malang Post, dosen jurnalistik Unmuh Malang

Rek. BCA : 4001510392


Responses

  1. Terima kasih untuk Galtung, Annabel Mc Goldrick dan Jake Lynch!!!

  2. pak SBY berterima kasih dan memuji media Indonesia bukan hanya karena habis numpang pencitraan diri beberapa waktu lalu kan????
    semoga tidak ya pak…

  3. saya setuju dengan bpk. benar sekali masyarakat memang tidak banyak yang suka dengan penyajian berita kekerasan, karena kan dapat memberikan contoh perilaku negatif pada orang lain, membuat risih dan sangat tdak mendidik.

    pers tdk boleh memberika berita yang akan mengundang pengaruh yang negatif pada masyarakat. kalaupun memang ada pers yang berlaku seperti itu harus mendapatkan sanksi oleh pihak yang terkait.

    pemeberitaan dengan memperlihatkan tindakan kriminal secara langsung pada masyarakat, itu tdk diperbolehkan. karena dengan adanya hal tersebut malah akan menungdang dan memberikan contoh pada masyarakat untuk melakukan hal yang sama.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: