Oleh: husnun | Maret 1, 2011

Sepak Bola, Antara Politik dan Media

Oleh : Husnun N Djuraid

SERANGAN terhadap Ketua Umum PSSI Nurdin Halid semakin kencang. Tidak tanggung-tanggung, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) membidik Nurdin setidaknya dengan dua dugaan korupsi, kasus suap pemilihan Deputi Gubernur BI sebesar Rp 500 juta dan suap dari General Manager Persisam Samarinda sebesar Rp 100 juta. Upaya untuk mengungkap kasus-kasus dugaan korupsi itu merupakan bagian dari gerakan untuk menggulingkan Nurdin dari tampuk kekuasaan tertinggi di PSSI.

Aroma politik menjelang Kongres PSSI semakin kencang. Para kandidat yang memperebutkan jabatan Ketua Umum PSSI bukan hanya melalui jalur organisasi, tapi juga menggunakan jalur politik. Beberapa kandidat yang sudah muncul menjelang kongres tersebut tak bisa dilepaskan dari motif dan kekuatan politik di negeri ini. Setidaknya saat ini ada dua kekuatan politik yang ingin menjadikan PSSI sebagai kendaraan, baik untuk Pemilu maupun Pilpres 2014 mendatang.

Ketua Umum PSSI sekarang, Nurdin Halid adalah representasi partai Golkar. Bahkan dalam beberapa kesempatan Nurdin menyebut keberhasilan timnas – meskipun gagal sebagai juara Piala AFF – dan eforia masyarakat terhadap timnas, adalah keberhasilan Partai Golkar. Ketika timnas lolos ke partai final AFF, Nurdin memboyong semua anggota tim untuk sarapan pagi di rumah Ketua Golkar Aburizal Bakrie. Bahkan dia tak segan-segan mengatakan bahwa bonus untuk tim ini berasal dari kantor Aburizal.

Klaim Golkar terhadap PSSI ini rupanya membuat partai yang berkuasa tidak terima. Meskipun tidak terang-terangan, pemerintah dan partai penguasa sedang menyiapkan calon untuk menduduki jabatan tertinggi di PSSI. Para politisi tampaknya melihat antusiasme masyarakat terhadap timnas – bukan PSSI – belakangan ini merupakan aset politik yang sangat berharga. Maka momen yang bagus itu harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya, diantaranya sebagai pencitraan menghadapi even politik lima tahunan.

Itulah sebabnya, mengapa Presiden SBY begitu peduli pada prestasi sepak bola nasional. Kegundahannya atas prestasi timnas yang terus merosot di bawah kepemimpinan Nurdin memaksa Presiden SBY memprakarsai digelarnya Kongres Sepak bola Nasional (KSN), 30 Maret 2010 yang lalu. KSN adalah ajang persaingan dua kekuatan politik, Nurdin yang didukung penuh oleh Golkar di satu sisi dan di sisi lain Menegpora Andi Mallarangeng sebagai wakil pemerintah dan representasi Partai Demokrat. Dalam KSN Nurdin masih menunjukkan kekuatannya sehingga menggagalkan upaya penggulingan dirinya yang sudah dirancang sebelum kongres digelar.

Gagal menggulingkan Nurdin di KSN, pemerintah melalui Kementrian Dalam Negeri,  mengeluarkan jurus andalan yakni peraturan yang melarang APBD digunakan untuk sepak bola profesional mulai tahun depan. Ini adalah counter attact pemerintah terhadap PSSI. Sebagian besar tim peserta kompetisi PSSI dari semua level, dibiayai oleh dana APBD dengan jumlah yang sangat besar. Sebagai contoh, sebuah tim yang berlaga di ISL membutuhkan anggaran sekitar Rp 20 miliar untuk satu musim. Anggaran itu jauh lebih besar dibanding anggaran pendidikan dan kesehatan di sebuah kabupaten. Bahkan KPK mengindikasikan, penggunaan dana APBD untuk sepak bola rawan tindak korupsi. Salah satu yang saat ini tengah diadili adalah mantan manajer Persisam, sedangkan sebelumnya Wali kota Manado juga tersandung kasus yang sama.

Kalau Kementrian Dalam Negeri melarang APBD untuk mendanai sepak bola profesional, bisa dipastikan kompetisi nasional akan mandek. Dalam situasi yang tidak menentu tersebut muncullah pengusaha politisi Arifin Panigoro yang menawarkan Liga Primer Indonesia (LPI) yang menggelar kompetisi tanpa dana APBD. Bahkan tim peserta LPI akan mendapat bantuan dana. Godaan ini mampu menggoyahkan beberapa tim yang sebelumnya ikut dalam kompetisi yang diadakan PSSI.

Babak baru pertarungan politik dimulai. Setidaknya Partai Demokrat sudah memiliki dua amunisi untuk menggembosi kekuasaan Nurdin. Ketika LPI belum mendapatkan izin menggelar pertandingan dari polisi, Mennegpora Andi Mallarangeng ikut membantu memuluskan keluarnya izin tersebut. Bahkan saat pembukaan kompetisi LPI di Solo, Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum tampil di tribun kehormatan. Polarisasi kekuatan politik dalam sepak bola semakin tampak. Golkar yang mengklaim sebagai ‘’pemilik’’ PSSI berhadapan  dengan Partai Demokrat sebagai pendukung IPL.

PERTARUNGAN MEDIA

Pertarungan sepak bola politik itu akan semakin seru setelah masing-masing kekuatan memanfaatkan media elektronik sebagai ajang pertarungan mempengaruhi opini publik. PSSI yang didukung oleh Aburizal Bakrie, memanfaatkan media yang dimiliki oleh bos Grup Bakrie tersebut yakni ANTV dan TVOne. Surya Paloh yang selama ini berseteru dengan Aburizal Bakrie, terutama setelah gagal dalam perebutan Ketua Umum Golkar, merapat ke kubu LPI. Media milik Surya, Metro TV digunakan sebagai ajang untuk menyerang PSSI dengan segala kekurangannya.

Sangat menarik menyimak perang berita antara dua media yang dimiliki oleh dua tokoh politik tersebut. Menarik untuk dicermati bagaimana dua kelompok media yang dimiliki oleh dua tokoh politik yang berseberangan ini saling menyerang. Berita-berita yang ditampilkan mengindikasikan bagaimana kuatnya campur tangan pihak di luar redaksi dalam mempengaruhi penampilan berita. Kepentingan masing-masing kelompok itulah yang menyebabkan terjadinya pertarungan yang sengit dalam pemberitaan. Bisa saja pertarungan itu terselubung dibalut berita yang seolah-olah adalah fakta riil di lapangan, tapi dalam fase tertentu pertarungan ditampilkan secara terang-terangan dan vulgar.

Lihatlah bagaimana ANTV menyebut LPI sebagai kompetisi ilegal, karena tidak memiliki izin dari PSSI sebagai otoritas sepak bola di Indonesia. Sebaliknya, MetroTV terus berupaya menampilkan kejelekan-kejelekan PSSI di bawah Nurdin Halid dengan model pemberitaan yang tak kalah agitatif.

Redaksi kedua media itu tentu tidak sedang menampilkan realitas yang terjadi di masyarakat, tapi sedang mengemas kuatnya pengaruh pihak luar redaksi, dalam sebuah bingkai berita yang dibuat sedemikian rupa sehingga seolah-olah itu adalah fakta. Pamela J Shoemaker dan  Stephen D Reese mengidentifikasi banyak faktor yang mempengaruhi kebijakan redaksi. Salah satunya berada pada level organisasi yang berhubungan dengan struktur organisasi yang secara hipotetik mempengaruhi pemberitaan. Redaksi bukan organisasi yang independen, yang bebas dari pengaruh pihak lain, baik internal maupun eksternal. Pemilik media sering kali menanamkan pengaruh yang sangat besar dalam kebijakan redaksi. Politik berita redaksi, dalam banyak kasus, sangat dipengaruhi oleh kepentingan pemiliknya.

Kebijakan pemberitaan Metro TV sangat agresif dalam menyuarakan kepentingan pemiliknya untuk menyerang lawan politiknya. Dalam konteks PSSI misalnya, Metro TV seolah punya mainan sekaligus amunisi baru untuk menyerang lawan politik pemiliknya. Sebaliknya, kelompok Bakrie lebih banyak menggunakan ANTV sebagai corong yang mencerminkan kepentingan pemiliknya. Dalam kasus politik, media ini lebih banyak diam dan sesekali memberi counter membela bosnya. Tapi dalam hal LPI, media ini sangat agresiv melakukan serangan. Pertarungan kedua kekuatan ini akan sangat kelihatan pada Kongres PSSI di Pulau Bintan, Maret mendatang.

*) Husnun N Djuraid, wartawan Malang Post, dosen jurnalistik Unmuh Malang


Responses

  1. saya justru melihat tidak ada yang menarik dari media indonesia, ini justru menjadi kekhawatiran bagi saya. mayrakat telah di adu domba oleh media, mereka yang seharusnya tahu mana yang benar telah menjadi ragu karna ada ketimpngan media, media tidak lagi meiliki sifat control sosial karna telah ada bendera bendera partai kekuasaan.

  2. momentum yang tepat, konflik PSSI bisa jadi alasan untuk saling menyerang. ANTV dan MetroTV merupakan contoh dua kekuatan besar antara pengusaha dan politisi.

  3. kalau menurut saya, kebusukan&kebobrokan PSSi sudah mulai terungkap sejak berakhirnya piala AFF. Hal itu didukung dengan adanya pernyataan dari salah satu petinggi dari salah satu klub ternama di Indonesia ini. Bahwa ia pernah menyuap anggota PSSi agar timnya menang dibeberapa laga yang diselenggarakan PSSI. Selain itu, adanya pemilihan Ketum PSSI ini juga memperparah keadaan PSSI. Mulai dari penolakan Arifin Panigoro dan George Toisuta, sampai pernyataan sekjen PSSI yang mengatakan bahwa pertemuan Djoko Susilo dengan president FIFA merupakan kabar burung, walaupun pada akhirnya PSSI mengakui adanya pertemuan itu. Yah, itulah PSSI dengan segudang pernyataan palsunya yang sengaja di publikasikan untuk menutupi kebobrokannya.

    Di RCTI saya pernah melihat berita dan menyeutkan bahwa keempat calon Ketum PSSI ditolak FIFA, dan yang menjadi kandidat pengganti adalah Bpk. Jusuf Kalla dan mantan gubernur Jakarta, Sutiyoso.. kita lihat saja siapa yang pantas menjadi Ketum PSSI?Mungkin Jusuf Kalla, Sutiyosa atau yang lainnya

  4. menurut saya, wartawan dari Metro TV, TV One, dan ANTV justru kehilangan jiwa asli mereka sebagai wartawan. mereka tidak lagi bisa memberikan berita sesuai dengan fakta yang ada, mereka ‘dipaksa’ para pemilik modal untuk memutar balikkan sebuah fakta. mau tak mau memang mereka harus menuruti atasan tempat mereka mencari nafkah.

    masyarakat juga menjadi bingung karena perbedaan berita tersebut sangat bertolak belakang, masyarakat menjadi tidak tahu mana yang harus mereka percaya. masyarakat kehilangan hak untuk mengetahui kebenaran suatu berita tanpa adanya rekayasa dan kepentingan politik dibalik semua itu.

  5. Dalam kasus PSSI dan perang politik melalui media merupakan tanda-tanda mulai runtuhnya idealisme pers pada media nasional kita. Ktiga idealisme yang dimaksud adalah 1). cover both side, 2). mencampur adukkan antara fakta dan opini, 3). obyektifitas. Metro, tv one, dan antv merupakan media yang melakukan keberpihakkan terhadap para pemilik modal. Media-media tersebut seakan beradu argumen mengenai PSSI, saling menjatuhkan dan menutupi kejadian yang sebenarnya. Para pemilik modal memilih untuk investasi pada industri media, terutama media tv dengan kepentingan-kepentingan tertentu. Para konglomerat menganggap bahwa kepentingan yang disampaikan lewat media akan lebih efektif dan mempermudah dalam pencapaian tujuan. Hal ini tentu karena pengaruh media yang ibarat hipodermic needle theory, tv ibarat jarum suntik yang tepat sasaran. Masyarakat akan lebih mudah dipengaruhi melalui media tv sebab media ini adalah yang paling banyak diminati. Kembali ke PSSI, pemberitaan mengenai PSSI di tv one sangat jarang dan terkesan menutupi kebenaran, alasannya adalah adanya keberpihakkan terhadap pemilik modal. Sedangkan pemberitaan di metro sendiri terkesan sangat menyudutkan PSSI, disini sering terjadi ke lebai an dalam pemberitaan. Melihat kejadian PSSI, yang menjadi korban adalah publik, sebab disini mereka hanya dibingungkan dengan pemberitaan yang berbau unsur politik para pemilik modal.

  6. Sebagai penikmat media saya merasa dibodohi oleh media yang ada saat ini, alih fungsi media yang sekarang terjadi seakan memburamkan pandangan kita tentang mana yang benar dan mana yang salah. Pertentangan media berkenaan dengan bergulirnya dua liga sepak bola di Negeri ini terlalu menguras perhatian kita sehingga kita melupakan esensi dari berita itu sendiri, kita sibuk ngomong ngalor ngidul tanpa beranjak dari tempat kita semula. Sampai kapan media akan mempertentangkan hal tersebut tanpa menghasilkan jalan keluar. Sebaiknya Media saat ini bersikap netral, tapi apa mungkin???

  7. Saya yang juga sebagai penggila bola memang prihatin dengan kondisi PSSI sekarang, Nurdin Halid yang tetap berkelit tidak mau menyerah sebagai Ketum PSSI. Dan inipun real.
    Namun di sini saya menilai memang ada kebijakan-kebijakan dari pihak stasiun-stasiun televisi yang menayangkan tentang pemberitaan kisruh PSSI. Kita melihat Antv yang minim memberitakan kisruh PSSI daripada Trans7,Trans TV atau Metro TV yang mengkritik habis-habisan kinerja PSSI. Kita tahu bahwa Trans TV atau Trans7 yang menayangkan LPI dan Antv dengan LSI..
    Sudah jelas terlihat bahwa ada perang media dengan konteks berita PSSI.
    Pihak Antv yang dimiliki Bakrie, di sisi lain ada Nirwan Bakrie sendiri yang merupakan anggota PSSI. Antv dengan pemberitaan lebih mencerutu ke Nurdin daripada Nirwan yang juga anggota PSSI. Kita tahu bahwa tidak hanya Nurdin di balik itu tanpa ada bawahannya.

  8. TANAH AIRKU INDONESIA – Agus Junaidi Jaelani 08220433 / FISIP

    PSSI itu milik Rakyat Indonesia. Di mandatkan kepada Elite Politik Sepak Bola Negri ini untuk dikelola secara Dinamis. Lah kenapa Mereka kok malah korup demi melanggengkan Kepentingan Pribadi/Golongan ?
    Menurut saya ini suatu cerminan betapa tidak peduli Masyarakat Indonesia terhadap Dunia Sepak Bola. Ketidakpedulian dan Integritas Bangsa termasuk didalamnya Individu/masyarakat, Aktor Media dan juga Birokrat/Pejabat terpecahkan oleh Kepentingan Politik, Kekuasan dan Uang.

    Solusinya, singkirkan oknum2 oportunis kekuasaan dan uang dari Komponen Bangsa termasuk di Tubuh PSSI..

  9. media yang dicampuri oleh kepentingan para pemilik media unttuk tujuan pribadi pasti lambat laun akan terlihat,,contoh tv one (golkar.aburizak bakrie),tapi masyarakat kita saat ini lebih cerdas dan pintar,mereka pandai memilih media yang kredibilatas dan profesional,,dan sulit mendapat pengaruh dari media-media yang busuk…

  10. menurut saya, kasus PSSI yang semakin memanas memang sangat menarik perhatian masyarakat. tapi, dengan adanya pemberitaan di setiap sasiun Televisi yang berbeda-beda bisa membuat masyarakat bingung.misalnya saja pemberitaan antara TV One dan Metro tv. yang saat ini terlihat jelas jika kedua televisi tersebut sangat berbeda dalam memberitakan PSSI. dan sangat disayangkannya lagi. keberadaan media massa justru tidak berfungsi sebagaimana mestinya. hal ini dikarenakan adanya konglomerasi media massa, atau ikut campurnya para pemilik media dalam menentukan isi berita yang hanya bertujuan untuk mendapatkan keuntungan dari setiap pemberitaan di Televisinya. atau mungkin untuk kepentingan politik mereka saja. jadi sampai kapan kah media massa di indonesia akan benar-benar menyampaikan berita yang cover both side?

  11. Dian Kurniasari R.
    08220295 / IKOM VI-D

    Astaga…orang-orang ini…kekurangan lahan politik rupanya…!!! Semua hal disusupi dengan yang namanya politik…bahkan olahraga yang harusnya jadi hobi dan hiburan…!!!…ckckckckckck…tragis…
    Apa yang dilakukan media justru memperkuat kebingungan masyarakat…bahkan memicu adanya kelompok-kelompok pro-kontra…!!! Saya pribadi sekarang malas jadinya nonton TV…acaranya begitu2…eh beritanya juga udah ndak valid lagi…!!! Ingat ya bapak/ibu media…jurnalisme itu memihak KEBENARAN…!!! Kalau udah ada opini masuk…apalagi money politic lancar…sudah…kasihan masyarakat tidak punya media yang bisa dipercaya…!!!
    Idealis memang…tapi gak bisa dipungkiri juga…duit berkuasa sekarang ini. Solusinya dari tiap individu…budaya korupsi plus suap-menyuap harus dimusnahkan dulu…baru berantas koruptor2…kalau budaya korupsi plus suap masih hidup ya…percuma…
    Solusi untuk media…susah juga !!! Konglomerasi yang begitu kuat mengakibatkan yang bawah dan masih punya rasa idealis jadi tidak berkutik. Jadi…???…

  12. idealisme dan ideologi media sudah menjadi mitos bagi sebuah media..jadi ya beginilah nasib media di indonesia.tragis ya….
    PSSI sudah lama gagal dipimpin nurdin halid,,sudah terang-terangan dia dipenjara knapa masih diarkan memimpin organisasi. malah baru sekarang dipermasalahkan.

    momen ini menurut saya blunder dari nurdin untuk nurdin,,karena dia membawa timnas keranah politik…memancing bagi petarung2 politik lain untuk merongrong PSSI.
    gimana endingnya yaaaa….

    tapi saya tetap dukung pemerintah meskipun ada kesan politisasi

  13. Berita tentang PSSI Memang menarik,tapi alangkah lebih menariknya apabila pemberitaan itu berimbang. akan tetapi,media-media di Indonesia justru banyak yang menyeleweng. saya sepakat dengan pendapat Nur Aini, adanya konglomerasi media ini membuat pemilik media (penguasa) ikut campur dalam mengatur isi pemberitaan. ANTV,Metro TV, jelaslah berbeda dalam memberitakan PSSI. ANTV tidak akan menayangkan berita tentang demo PSSI, sedangkan Metro TV Justru sebaliknya.
    Banyaknya demo yang menuntut agar ketua PSSI Nurdin Halid segera turun dari jabatannya merupakan respon masyarakat akan kepedulian terhadap persepakbolaan di Indonesia. kalau menurut saya,PSSI memang harus di benahi kembali agar citra persepakbolaan di Indonesia menjadi lebih baik di mata masyarakat dan FIFA dunia, bukan malah mendirikan LPI,cukuplah hanya 1 Liga saja (sekarang ISL).

  14. kekisruhan dan ketimpangan yang terjadi pada pemberitaan PSSI, memang begitu terlihat jelas. hal ini dipicu oleh pihak-pihak yang berkuasa yang menyokong dibelakang Nurdin halid, sehingga sampai skrang ia tidak mau melepas jabatannya meskipun ditentang oleh berbagai pihak hingga FIFA. hal tersebut memang tidak lepas dari adanya konglomerasi media dimana hal tersebut menimbulkan ketimpangan karena pihak2 tersebut lebih mementingkan kepentingannya sendiri.
    dengan adanya kisruh dalam PSSI nasib persepakbolaan indonesia jadi terkatung2, dan tidak berkembang. karena para penguasa lebih senag berebut kekuasaan.

  15. buat saya, ya begitulah keadaan media kita sekarang. media yang sudah hilang dari posisi aslinya. kini media malah di buat ajang pertarungan kepentingan para pemilik dan pemegang sahamnya….

    ya salah satunya dengan pemberitaan kasus PSSI yg bapak sebutkan itu. saya kira ini merupakan imbas dari konglomerasi media dan terlalu adanya campur tangan yang besar dari pemilik media tersebut dalam dapur redaksinya…

    padahal dengan pemberitaan tersebut malah akan membuat publik menjadi bingung dalam menerima informasi.

  16. wah, menarik sekali. saya baru baca ini.
    sekarang, setelah nurdin turun pun prestasi PSSI tidak kunjung membaik.
    jadi apakah nurdin tidak sepenuhnya salah? hhmmm…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: