Oleh: husnun | Maret 8, 2011

Mk. Media dan Masyarakat

Media merupakan salah satu komponen komunikasi sebagai pembawa pesan dari komunikator menuju komunikan.

Definisi / Pengertian Masyarakat

1. Menurut Selo Sumardjan masyarakat adalah orang-orang yang hidup bersama dan menghasilkan kebudayaan.

2. Menurut Karl Marx masyarakat adalah suatu struktur yang menderita suatu ketegangan organisasi atau perkembangan akibat adanya pertentangan antara kelompok-kelompok yang terbagi secara ekonomi.

3. Menurut Emile Durkheim masyarakat merupakan suau kenyataan objektif pribadi-pribadi yang merupakan anggotanya.

4. Menurut Paul B. Horton & C. Hunt masyarakat merupakan kumpulan manusia yang relatif mandiri, hidup bersama-sama dalam waktu yang cukup lama, tinggal di suatu wilayah tertentu, mempunyai kebudayaan sama serta melakukan sebagian besar kegiatan di dalam kelompok / kumpulan manusia tersebut.

Ada beberapa asumsi yang melandasi pemahaman kita mengenai posisi media dalam masyarakat. Ada beberapa hal yang akan dibicarakan dalam bab ini, yaitu tentang bagaimana media massa berpengaruh pada kebudayaan masyarakat, faktor yang menjelaskan keberadaan institusi media, apa saja yang menjadi fungsi media massa dan bagaimana media massa baru tersebar dalam masyarakat.
Ekonomi dan Media Massa Modern

–  Ekonomi dipahami sebagai ilmu atau kajian yang menelaah kekuatan atau    kemampuan yang mealokasikan sumber untuk memenuhi kebutuhan yang dipersaingkan.

– Dalam perkembangan media massa, yang turut juga dipengaruhi oleh masalah produksi dan distribusi massal.

–  Ada beberapa tipe masyarakat ekonomi yang membentuk perkembangan media massa, yaitu

a. Masyarakat pertanian di mana produksi dan distribusi ditandai dengan dinamika produksi dan distribusi yang bersifat lokal dan kedaerahan.

b. Masyarakat industri yang ditandai dengan standarisasi dan pengolahan produksi dan distribusi massal.

c. Masyarakat informasi yang ditandai internasionalisasi dan komersialisasi informasi yang ada dalam masyarakat.

– Ruang lingkup dan ukuran pasar pun berkembang dari yang bersifat lokal kedaerahan, regionalisasi dan nasional sampai ke level internasional.

–  Perkembangan media massa berkembang melalui pembangunan skala ekonomi yang bertujuan untuk meningkatkan keuntungan dari pasar yang lebih luas.

–  Pada dasarnya media massa mengikuti model ekonomi industrial yang ditandai dengan akselerasi banyaknya media dan hasil-hasilnya untuk mendapatkan biaya yang murah untuk produksinya. Ketika produksi semakin besar diharapkan juga perkembangan pembeli dan cakupan daerah yang dapat membelinya.

–  Dalam perkembangan selanjutnya, media massa juga tidak dapat dipisahkan dengan hukum persaingan karena industri media massa yang didirikan tidak lagi sebagai pemain tunggal.

–  Persaingan tidak dilihat sebagai hal yang negatif tapi harus dipahami sebagai hal yang membangun baik dari segi produksi dan distribusi media massa itu sendiri.

– Dalam iklim ekonomi, tidak menutup kemungkinan terjadinya monopoli. Atmosfer monopoli ini terjadi bisa terjadi karena sistem persaingan yang keras sehingga diperlukan pemain ekonomi yang kuat. Monopoli media bisa berbentuk dalam beberapa ragam:

a. Duopoli: sebuah sistem ekonomi yang juga bisa berlaku dalam media ketika hanya terdapat dua pemain utama yang menguasai dan mendominasi 50 persen pasar.

b. Oligopoli: sebuah sistem ekonomi yang juga bisa berlaku dalam industri media ketika terdapat beberapa industri yang menguasai dan mendominasi 30 persen  pasar.

c. Monopoli: sebuah sistem ekonomi yang memperlihatkan satu pemain industri yang mendominasi dan menguasai hampir 90 persen pasar

Hal ini bisa mengakibatkan sistem permainan ekonomi dalam media massa juga. Sistem kepemilikan merupakan sesuatu yang wajar terjadi dalam kehidupan ekonomi media. Hanya memang ada masalah yang berkaitan dengan atmosfer ekonomi ini, yaitu masalah kepemilikan media massa yang justru melemahkan peran dan fungsi sosial media massa, dalam hal ini melemahkan proses diversitas informasi yang diperlukan oleh masyarakat.

Tapi yang jelas dari sekian motif ekonomi yang muncul, yang paling pokok adalah motif keuntungan. Faktor keuntungan adalah faktor yang mengoperasionalisasikan industri media sampai ke organisasi-organisasinya. Dalam sebuah industri, termasuk di dalamnya industri media massa, faktor keuntungan adalah faktor penting. Faktor keuntungan ini yang sering bertabrakan dengan masalah kepentingan publik yang juga diemban oleh media massa. Untuk “menggenjot” keuntungan ini, media massa mempunyai banyak strategi dari hanya pemotongan pegawai sampai pemanfaatan iklan secara besar-besaran pada setiap produk media massa yang dihasilkan. Tapi apakah semua media massa harus mencari keuntungan? Ternyata tidak semua, ada beberapa pelaku media (PBS, misalnya) yang tetap mengandalkan subsidi publik untuk kelangsungan hidupnya.

– Bagaimana media massa mendapatkan keuntungan dan mengembangkan profitabilitas?

a. Penjualan langsung: di mana industri dalam hal ini media menjual langsung barang kepada masyarakat.

b. Penyewaan: industri, dalam hal ini perusahaan media menyediakan cara lain untuk mendapatkan uang dari konsumen yaitu dengan menyewakan barang-barang atau jasa informasi.

c. Langganan adalah pembayaran atas pelayanan atau jasa atau produk informasi berkelanjutan, seperti koran, majalah atau tv kabel.

d. Biaya pemakaian adalah biaya langsung yang diterapkan kepada konsumen apabila mereka memakai atau memanfaatkan jasa dan produk informasi.

e. Periklanan adalah bentuk utama dari kebanyakan industri media. Pengiklan membeli ruang dan waktu dalam media massa, rating media yang nantinya akan berhubungan dengan terpaan iklan terhadap konsumen.

f. Sindikasi adalah penyewaan atau lisensing dari isi media pada outlet media massa

g. Biaya lisensi adalah kompensasi yang diberikan kepada pencipta isi media dari setiap pemakaian isi media yang dimanfaatkan oleh orang lain. Dalam buku, ini disebut dengan royalti.

h. Subsidi adalah biaya yang ditujukan oleh media massa publik yang diisi dengan iklan komersial. Subsidi ini didapatkan dari pajak atau donasi dari kelompok masyarakat yang memang memberikan sumbangan kepada ragam media publik ini.

Dalam proses ekonomi, media massa juga menerapkan segmentasi. Segmentasi adalah proses penajaman segmen konsume yang mengkonsumsi isi media atau industri media yang ada.

Perkembangan teknologi, industri dan daya serap masyarakat terhadap media mengandaikan perubahan juga di dalam karakter media massa modern. Diperlukan media yang lebih spesifik atau lebih fokus pada khalayak tertentu, sehingga hal ini mengubah pola isi media massa.

Maka tidak mengherankan jika terjadi perkembangan media massa baru. Media massa baru adalah bentuk dan ragam media massa yang dikembangkan sesuai dengan ciri dan karakter masyarakat modern.

Perkembangan dramatis media massa modern adalah personalisasi. Media massa diharapkan semakin masuk dan melayani aspek personal manusia modern. Internet merupakan contoh yang jelas pada segmentasi personal media massa modern. Media modern seperti internet mengakomodir globalisasi yang semakin membuat media massa berkonvergensi. Media interaktif dalam internet membentuk apa yang disebut dengan perdagangan atau ekonomi digital (e-commerce atau digital-economy). Perubahan drastis dalam teknologi komunikasi juga mempengaruhi bentuk-bentuk media massa baru.

Masyarakat – Kebudayaan dan Media Massa Modern

Ada banyak perspektif yang ingin memahami posisi media massa modern di dalam sebuah masyarakat. Media massa tidak dipahami sebagai sesuatu yang bebas dalam masyarakat. Tapi, media massa selalu terikat dengan kondisi sosial-ekonomi dan politik masyarakat.

Beberapa perspektif yang bisa disebut adalah perspektif ekonomi politik media, kajian feminisme media, kajian etnis, perspektif kritisisme media. Kajian ekonomi politik media mau memperlihatkan bahwa media massa terkait dengan proses ekonomi-struktural masyarakat. Kepentingan ekonomi dan faktor politik selalu melatarbelakangi keberadaan media massa. Kajian feminisme media hanya mau memperlihatkan bahwa media massa berkontribusi terhadap penindasan wanita oleh laki-laki. Media merupakan perpanjangan ide patriarki dalam masyarakat. Kajian etnis mau menyatakan bahwa di dalam media tersimpan konsep rasialisme dan kekuasaan dari ras yang unggul atas ras yang lebih lemah atau dari etnis satu terhadap etnis yang lain. Kajian kritisisme media mau memperlihatkan bahwa isi media menyiratkan pola relasi kekuasaan dalam masyarakat.

Media massa sendiri dalam masyarakat mempunyai beberapa fungsi sosial, yaitu fungsi pengawasan sosial, fungsi interpretasi, fungsi transmisi nilai dan fungsi hiburan.

1. Fungsi pengawasan media adalah fungsi yang khusus menyediakan informasi dan peringatan kepada masyarakat tentang apa saja di lingkungan mereka. Media massa meng-up date pengetahuan dan pemahaman manusia tentang lingkungan sekitarnya.

2. Fungsi interpretasi adalah fungsi media yang menjadi sarana memproses, menginterpretasikan dan mengkorelasikan seluruh pengetahuan atau hal yang diketahui oleh manusia.

3. Fungsi transmisi nilai adalah fungsi media untuk menyebarkan nilai, ide dari generasi satu ke generasi yang lain.

4. Fungsi hiburan adalah fungsi media untuk menghibur manusia. Manusia cenderung untuk melihat dan memahami peristiwa atau pengalaman manusia sebagai sebuah hiburan.

Dalam perkembangan selanjutnya, media massa mempunyai fungsi-fungsi baru, yaitu membentuk komunitas dan komunikasi virtual, seperti halnya kelompok internet di dunia maya. Internet dapat dipahami sebagai alat atau media umum yang bisa secara komplet memenuhi fungsi media massa “tua”. Internet bisa menyempurnakan transaksi komersial, menyediakan dukungan sosial dan mengirim jasa pemerintahan.

Dalam media ada berita. Berita sendiri berpengaruh pada masyarakat. Pengaruh itu adalah:

a. Agenda setting adalah pemahaman bahwa berita mempengaruhi agenda publik yang secara rutin diberitakan oleh media massa.

b. Gatekeeping: media bisa menjadi penjaga informasi atau penyaring informasi yang ditujukan kepada masyarakat.

c. Framing terjadi ketika media massa membingkai beberapa isu yang ditonjolkan oleh media kepada masyarakat.

Dengan berapa fenomena itu, terdapat beberapa kontroversi yang menyatakan bahwa media massa pada dasarnya bias. Hanya memang masalah bias selalu berada dalam diskusi panjang mengenai masalah objektivitas dalam sebuah media massa.

Difusi inovasi adalah pemikiran yang melihat bahwa media massa berkontribusi atas seluruh pembaruan dan inovasi yang berkembang dalam masyarakat. Difusi inovasi akan sangat dipengaruhi oleh kemampuan masyarakat memahami dan menyadari masalah kemajuan dalam masyarakat itu sendiri.

Teknologi disadari sebagai alat kemajuan apabila memberikan kontribusi konkret atas masyarakat. Persebaran inovasi bisa dimulai dari tingkat pengetahuan atau idea baru dari media Ada proses penyerapan teknologi dari masyarakat. Selanjutnya masyarakat menyaring teknologi tersebut apakah memang inovasi tersebut bermanfaat. Dari pemahaman dan penyaringan tersebut, masyarakat mengadopsi teknologi atau tidak.

Perkembangan media massa modern tidak terelakkan. Perkembangan yang pelan tapi diakhiri dengan akselerasi perkembangan yang luar biasa. Tapi dalam perkembangan selanjutnya, perkembangan teknologi komunikasi harus diikuti dengan pemahaman yang layak pemakai atas teknologi itu sendiri. Ada beberapa yang beranggapan bahwa perkembangan masyarakat sangat ditentukan oleh perkembangan teknologi komunikasi itu sendiri. Itulah determinisme teknologi. Ada beberapa asumsi:

a. Medium is the message, adalah pemahaman bahwa media massa memang membentuk kebudayaan. Bentuk media massa berpengaruh dan bernilai dalam membentuk pola pikir manusia.

b. Teknologi adalah kekuatan dominan. Pada dasarnya, sistem sosial dan ekonomi mempromosikan teknologi dan mendominasi kebudayaan.

c. Media massa mendorong kebudayaan.

Sumber : ekawenats.blogspot.com dan sumber lain


Responses

  1. media sekarang ini cenderung sebagai alat bisnis dari sebuah industri.karena media tidak bisa hidup tanpa pemasukan dari sebuah iklan dan para pemilik media yang cenderung tidak mengerti dari peran media itu sendiri.maksudnya dari pemegang saham dari suatu media dan hanya mendirikan perusahaan dari segi keuntungan bisnis.jadi prinsip-prinsip jurnalistik di abaikan.

    • jangan hanya mengkritik, ayo mulailah kita buat media sendiri secara mandiri, ditonton sendiri dan dinilai sendiri, ditertawai sendiri, dan gila sendiri! sakarepmu!, kita terlanjur lahir dizaman “dominasi barat”(istilahnya bertrand russel), maka sikapilah dengan bijaksana, ayo kita berlomba dengan “BARAT” , yang menang dapat krupuk(kayak lomba 17an saja)kita tak terbiasa serius, apalagi dua rius atau tiga rius, jadi wajar kalau kita dibanjiri media yang meninabobokan kita, kalau kita serius gak instan lagi, dan panjaaaaaaaang (mingkin kurang panjang aaanya prosesnya, nah di akhir hayat kita insya Alloh dapat khusnul khotimah, ayatnya ya ayuhal insan, inaka kadihun kadhan famulakih (juz ama)

  2. ada 2 pendapat yang tba2 muncul dalam benak saya ketika membaca materi “media & masyarakat”.
    1. ego yang semakin meningkat, dalam artian dlu kita ingat bhwa untuk melihat sebuah tayangan televisi (waktu itu hanya ada TVRI, dan yang mempunyai TV msih bisa di hitung), orang2 berbondong2 untuk pergi ke satu rumah hanya untuk melihat sebuah tayangan. kebersamaan yang di timbulkan sangatlah terasa. tetapi, ketika semakin modern, dan setiap orang yang ada di suatu masyarakat mempunyai TV sendiri2,, maka ada anggapan bahwa.. “hari gini numpang nonton di tetangga? nggak jaman lagi…”

    2. beralihnya media penguasa ke pengusaha, seperti kata2 bapak pada kuliah kamis pagi,, dulu media hanya sebagai alat untuk memperkuat posisi pemerintah.. setelah era reformasi,, para pemilik modal yang memang mampu untuk menjalankan suatu media, berbondong2 untuk mendirikan (kembali lagi ke masalah konglomerasi).. akhirnya muncullah metro tv, tv one & antv, yang semuanya adalah hasil ciptaan seorang pengusaha. tapi permaslahan yg timbul, para pengusah tersebut, juga orang2 yang berpengaruh di pemerintahan (sekali lagi, ada unsur politik di sini), sehingga “keberpihakan” suatu berita masih sering kita rasakan. contoh, kasus nurdin halid (lagi)…

  3. pemahaman saya atas materi di atas yaitu media sedikit banyak turut membentuk karakter masyarakat yang menjadi audience-nya. apalagi dalam tahun-tahun belakangan, kebebasan pers meningkat drastis di Indonesia. seolah media-lah yang berkuasa. media mampu menciptakan stereotipe, media juga sanggup membangun realitas atau konstruksi sosial yang beredar di tengah masyarakat. media bisa mempengaruhi kebijakan pemerintah. bahaya yang mungkin timbul ialah kepemilikan (dan/atau konglomerasi) media akhirnya mempengaruhi realitas sosial yang disebarkan oleh media tersebut, ditambah media punya kekuatan untuk men-setting agenda publik. jadi yang urgent dan wajib dimiliki oleh masyarakat yang mengkonsumsi informasi media masa kini adalah “media literacy” atau “melek media”.

    tambahan.. saya hendak menanggapi komentar saudara dody wahyu point pertama.. saya tak sepakat dengan istilah anda “ego yang meningkat”. telah disebutkan dalam posting pak chusnun bahwasanya media cenderung bertransformasi menjadi media yang bersifat personal, dan pastinya terus menerus berubah dan memperbaiki dirinya. memang hal ini menjadikan tiap anggota masyarakat lebih individual, beginilah adanya. hal tersebut menurut hemat saya merupakan dampak dari perkembangan teknologi komunikasi.. contoh: hape, alat komunikasi yang kini sifatnya jauh lebih personal dibanding telepon umum atau telepon rumah yang mendahuluinya. begitu pula televisi yang kini lebih privasi dan agak jarang difungsikan sebagai sarana sosial kemasyarakatan (kongkow bareng di rumah pak RT) sebab TV sudah dapat dimiliki oleh hampir semua golongan dan cukup terjangkau bagi berbagai kalangan masyarakat. saya mengatakan ‘agak jarang’ alih-alih ‘tidak pernah lagi’. jangan lupa fenomena nobar alias nonton bareng masih marak di masyarakat kita, meski motif dan interpretasi kelasnya sudah berbeda antara kini dan lampau.

  4. Dominasi kepemilikan modal dapat mengakibatkan orientasi komersil dan dominasi politik sehingga memepersempit kebebasan pers dan ruang gerak jurnalistik. Maka tidak heran jika banyak media di Indonesia yang senang melakukan hal-hal tersebut yaitu memutar “issue” dan kurang bahkan tidak berani menelisik dalam wilayah yang dianggap “tabu” yang biasa disebut dengan ‘trial by the press’, padahal di dalam ruang inilah masalah-masalah ada dan aktif bergerak.
    Disini dapat dikemukakan bahwa pers difungsikan sebagai lembaga bisnis yang dapat dijaga kesinambungannya. dalam hal inilah dipertanyakan, apakan pers Indonesia sudah melaksanakan fungsinya sebagai media informasi untuk seluruh masyarakat. Karena selama ini pers hanya melaksanakan fungsi entertainment-nya atau hiburan. Inin disebabkan karena lemahnya posisi tawar-menawar (bargaining position) jurnalistik Indonesia terhadap konglomerasi yaitu kepemilikan modal yang menguasai pers Indonesia.

  5. Persepsi saya media adalah alat penguasa industri media. Nah hal yang ingin saya tanyakan apakah memang saat ini semua industri media massa tak lagi mengedepankan idealisme nya? Dari bberapa media massa yang sy tau banyak diantara mereka yg hanya mementingkan keuntungan industri medianya saja ? Dimanakah letak fungsi media yang sebenarnya saat ini ? Komersialisasi telah mengalahkan idealisme suatu media massa, menurut saya seperti itu…..

  6. Persepssi sayaa media adalah alat penguasa industri media. Nah hal yang ingin saya tanyakan apakah memang saat ini semua industri media massa tak lagi mengedepankan idealisme nya? Dari bberapa media massa yang sy tau banyak diantara mereka yg hanya mementingkan keuntungan industri medianya saja ? Dimanakah letak fungsi media yang sebenarnya saat ini ? Komersialisasi telah mengalahkan idealisme suatu media massa, menurut saya seperti itu…..

  7. Assalamu’alaikum Wr. Wb.
    Pertama-tama marilah kita memanjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT dan salawat serta salam kepada junjungan kita Nabi besar Muhammad SAW beserta para keluarga dan sahabatnya……
    Pak Chusnun yang saya hormati dan teman2 sekalian yang mengidolakan saya…(hehehe…)
    Mungkin komentar2 di atas menuju ke satu titik yang sama, hanya penyajiannya saja yang berbeda… Jadi saya hanya ingin mengungkapkan isi hati saya yang tersimpan di lubuk yang paling dalam ini mengenai keberadaan dan lika-liku media pada saat ini…=)
    Saya sangat setuju dengan berbagai komentar teman2 di atas…
    Memang benar, keberadaan media pada saat ini benar-benar melenceng dari fungsi media yang seharusnya, mengingat media bisa membentuk kebudayaan yang ada di suatu sistem masyarakat.
    Contoh mengenai pemberitaan mungkin sudah sering kita bahas di perkuliahan sebelumnya…
    Sekarang,saya ingin mengambil contoh dari film yang ditayangkan di televisi yang bisa merusak pandangan masyarakat pada umumnya dan merusak image calon2 jurnalis seperti kita ini padaa khususnya…
    Di stasiun TV INDOSIAR misalnya….
    Dulu, Indosiar sangat terkenal dengan berbagai macam acara2nya (berita, acara pendidikan, film, dsb). Tapi sekarang kita bisa lihat tayangan apa yang diproduksi oleh Indosiar???
    Saya ambil yang terburuk saja dari tayangan filmnya yaitu :
    1.) Banyak film2 yang tidak mendidik (kita tahu sndiri,tdk prlu saya jelaskan).
    2.) Sering kali terdapat beberapa adegan yang tidak secara langsung syuting di tempatnya (hanya backgroundnya saja) dan hal itu sangat2 kelihatan oleh mata dan sangat2 merendahkan kaum mahasiswa komunikasi.
    3.) Bahasa yang digunakan tidak beraturan (ini rata2 di semua stasiun TV). Misalnya, banyak adegan yang seharusnya tdk menggunakan bahasa baku,tapi menggunakan bahasa baku, dan sebaliknya. Mengingat kita ini adalah mahasiswa jurusan ilmu komunikasi, yang tidak hanya bergelut di bidang pemberitaan,syuting, dsb., permasalahan bahasa juga harus sangat2 diperhatikan.
    4.) Terlalu mudah menciptakan sosok artis/pemain (rata2 di semua stasiun TV). Yang saya lihat, akting2 artis jaman sekarang gak ada apa2nya…masih terlihat kaku..dan sebagainya..
    5.) Banyak menyiarkan acara2 yang menipu audience (rata2 di semua stasiun TV)
    6.) dan lain-lain.

    Nah…pembahasannya begini lho teman2…=)
    Saya pernah mendengar sekilas bahwa stasiun TV indosiar mengalami bangkrut (gak tau bener ato nggak). Oleh sebab itu kualitas acaranya semakin berkurang.
    Saya ambil kesimpulan di sini, bahwa tujuan setiap stasiun TV ternyata bukan lagi sebagai penghubung antar masyarakat atau masyarakat dengan pemerintah, melainkan untuk mencari keuntungan pribadi.
    Kenapa saya mengatakan demikian? karena contoh2 kegagalan yang saya sebutkan tadi seharusnya tidak ditayangkan kalau memang benar media berfungsi untuk mendidik audience.Artinya, kalau kita memang tidak punya cukup dana atau apalah untuk mendukung suatu acara, lebih baik tidak menyiarkannya daripada disiarkan tapi malah menjadi sesuatu yang buruk. Tapi pada kenyataannya, tayangan2 seperti itu masih saja ditayangkan karena hanya tidak ingin kehilangan kredibilitas atau semacamnya.
    Oleh sebab itu, kita sebagai mahasiswa jurusan ilmu komunikasi yang benar-benar mengerti dan memahami keadaan seperti ini haruslah perihatin.
    Saya hanya tidak ingin rakyat menganggap remeh mahasiswa komunikasi.
    Mari kita tunjukkan bahwa suatu saat nanti kita bisa mengoptimalkan kembali fungsi media yang seharusnya.
    Hidup mahasiswa…hidup UMM…hidup FISIP..hidup Mahasiswa Ilmu Komunikasi…^_^
    Mohon maaf bila ada kata2 yang menyinggung maupun kata2 yang sukar untuk dimengerti teman2 sekalian, karena saya sudah mulai sangat mengantuk…hehehe…
    Terima kasih..
    Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

  8. (WAJIB DIBACA REK…)

    Assalamu’alaikum Wr. Wb.
    Pertama-tama marilah kita memanjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT dan salawat serta salam kepada junjungan kita Nabi besar Muhammad SAW beserta para keluarga dan sahabatnya……
    Pak Chusnun yang saya hormati dan teman2 sekalian yang mengidolakan saya…(hehehe…)

    Mungkin komentar2 di atas menuju ke satu titik yang sama, hanya penyajiannya saja yang berbeda… Jadi saya hanya ingin mengungkapkan isi hati saya yang tersimpan di lubuk yang paling dalam ini mengenai keberadaan dan lika-liku media pada saat ini…=)
    Saya sangat setuju dengan berbagai komentar teman2 di atas…
    Memang benar, keberadaan media pada saat ini benar-benar melenceng dari fungsi media yang seharusnya, mengingat media bisa membentuk kebudayaan yang ada di suatu sistem masyarakat.
    Contoh mengenai pemberitaan mungkin sudah sering kita bahas di perkuliahan sebelumnya…
    Sekarang,saya ingin mengambil contoh dari film yang ditayangkan di televisi yang bisa merusak pandangan masyarakat pada umumnya dan merusak image calon2 jurnalis seperti kita ini padaa khususnya…=P
    Di stasiun TV INDOSIAR misalnya….
    Dulu, Indosiar sangat terkenal dengan berbagai macam acara2nya (berita, acara pendidikan, film, dsb). Tapi sekarang kita bisa lihat tayangan apa yang diproduksi oleh Indosiar???
    Saya ambil yang terburuk saja dari tayangan filmnya yaitu :
    1.) Banyak film2 yang tidak mendidik (kita tahu sndiri,tdk prlu saya jelaskan).
    2.) Sering kali terdapat beberapa adegan yang tidak secara langsung syuting di tempatnya (hanya backgroundnya saja) dan hal itu sangat2 kelihatan oleh mata dan sangat2 merendahkan kaum mahasiswa komunikasi.
    3.) Bahasa yang digunakan tidak beraturan (ini rata2 di semua stasiun TV). Misalnya, banyak adegan yang seharusnya tdk menggunakan bahasa baku,tapi menggunakan bahasa baku, dan sebaliknya. Mengingat kita ini adalah mahasiswa jurusan ilmu komunikasi, yang tidak hanya bergelut di bidang pemberitaan,syuting, dsb., permasalahan bahasa juga harus sangat2 diperhatikan.
    4.) Terlalu mudah menciptakan sosok artis/pemain (rata2 di semua stasiun TV). Yang saya lihat, akting2 artis jaman sekarang gak ada apa2nya…masih terlihat kaku..dan sebagainya..
    5.) Banyak menyiarkan acara2 yang menipu audience (rata2 di semua stasiun TV)
    6.) dan lain-lain.

    Nah…pembahasannya begini lho teman2…=)
    Saya pernah mendengar sekilas bahwa stasiun TV indosiar mengalami bangkrut (gak tau bener ato nggak). Oleh sebab itu kualitas acaranya semakin berkurang.
    Saya ambil kesimpulan di sini, bahwa tujuan setiap stasiun TV ternyata bukan lagi sebagai penghubung antar masyarakat atau masyarakat dengan pemerintah, melainkan untuk mencari keuntungan pribadi.
    Kenapa saya mengatakan demikian? karena contoh2 kegagalan yang saya sebutkan tadi seharusnya tidak ditayangkan kalau memang benar media berfungsi untuk mendidik audience.Artinya, kalau kita memang tidak punya cukup dana atau apalah untuk mendukung suatu acara, lebih baik tidak menyiarkannya daripada disiarkan tapi malah menjadi sesuatu yang buruk. Tapi pada kenyataannya, tayangan2 seperti itu masih saja ditayangkan karena hanya tidak ingin kehilangan kredibilitas atau semacamnya.
    Oleh sebab itu, kita sebagai mahasiswa jurusan ilmu komunikasi yang benar-benar mengerti dan memahami keadaan seperti ini haruslah perihatin.
    Saya hanya tidak ingin rakyat menganggap remeh mahasiswa komunikasi.
    Mari kita tunjukkan bahwa suatu saat nanti kita bisa mengoptimalkan kembali fungsi media yang seharusnya.
    Hidup mahasiswa…hidup UMM…hidup FISIP..hidup Mahasiswa Ilmu Komunikasi…^_^
    Mohon maaf bila ada kata2 yang menyinggung maupun kata2 yang sukar untuk dimengerti teman2 sekalian, karena saya sudah mulai sangat mengantuk…hehehe…
    Terima kasih..
    Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

    (maaf,posting yg di atas salah…^^)

  9. Menurut saya,beberapa media tentu menggunakan sudut pandang yang berbeda tergantung dengan berita apa yang mereka sajikan. Kode etik jurnalistik sebagai landasan tata cara penyampaian media saat ini memang mengalami posisi dilematis, dimana ketidakberpihakan media terhadap sebuah hal dimaknai sebagai keberpihakan kepada pihak yang lain. Namun, ini tetaplah harus dijadikan acuan bagi para pemilik media untuk membuat pemberitaan yang edukatif dan berimbang kepada masyarakat awam agar masyarakat tidak “ambigu” dengan pemberitan yang disajikan berbagai media massa, khususnya media televisi.

    Tentu ada dampak positif dan negatif media terhadap masyarakat. oleh karena itu, kita sebagai masyarakat harus mampu menyaring informasi-informasi yang disajikan oleh media massa.

  10. saya setuju dengan pendapat bapak.
    namun, saya mempunyai pendapat lain:
    menurut saya,,perlu dibentuk syrikat pekerja dalam sebuah media massa, guna mengontrol setap pemberitaan yang diproduksi oleh media tersebut. dengan adanya sarikat ini, diharapkan segala bentuk pemberitaan dapat sesuai dengan Kode-kode etik jurnalistik dan UU Pers. Sehingga masyarakat dapat memperoleh berita yang benar-benar murni dan tidak disesatkan oleh suatu informasi.

  11. Kalo berbicara tentang media dan masyarakat, saya ingat teori yang bernama “Teori Peluru”. Di dalam teori ini dijelaskan bahwa sebuah media massa memiliki kekuatan dan pengaruh yang sangat besar dalam hal kehidupan masyarakat. Teori ini juga dikenal dengan nama Teori Jarum Hypodermic atau Teori Jarum Suntik. Dalam teori ini digambarkan/dianalogikan bahwa bila seseorang telah disuntikkan obat bius maka orang itu tidak akan berdaya. Teori ini menyatakan keadaan khalayak yang pasif sehingga sangat mudah dipengaruhi.

    Wah kalo diliat dari pengertian teori diatas memang sangat memprihatinkan. Liat saja media sekarang yang melenceng dari fungsi sebenarnya. Jika masyarakat mengkonsumsi mentah-mentah apa yang disajikan media sekarang ini, jelas akan berdampak buruk pada masyarakat. Mungkin kalo orang dewasa masi bisa menyaring mana yang buruk dan mana yang jelek. Bayangkan jika anak-anak yang lebih gampang dimasuki oleh apa yang ada di media. Liat saja beberapa tahun yang lalu fenomena “smack down”, yang sempat ditayangkan oleh TV swasta kita, banyak dari anak-anak itu yang meniru adegan yang ditayangkan di smackdown tersebut. Akibatnya di praktekkan lah apa yg ia liat di tv itu kepada temannya hingga ada yang patah tulang sampai meninggal dunia. Itu lah media sekarang, cenderung negatif. TQ KK

  12. Ayu Diah Hapsari (08220320)

    Media merupakan corong penyampai informasi utama kepada masyarakat. Dengan kemajuan teknologi media telah menyajikan informasi dengan cepat dan mudah diakses kapan dan dimana saja. Kemajuan teknologi di bidang informasi ini juga telah menyediakan berbagai fasilitas untuk mendapatkan informasi secara cepat, mulai dari media cetak hingga media elektronik, dari komputer hingga handphone dengan bermacam bentuk modifikasi. Semua bentuk media ini memberikan kemudahan yang luar biasa terhadap komunikasi informasi bahkan dalam hitungan menit hingga detik kita sudah bisa mendapatkan informasi yang kita inginkan.Dari berbagai bentuk media, media elektronik saat ini sedang mencapai puncak kejayaannya. Televisi dan internet menduduki peringkat puncak sebagai penyampai informasi utama kepada masyarakat. Teknologi telah merubah segalanya menjadi serba cepat dan mudah. Dalam hitungan detik kita bisa mengetahui peristiwa yang terjadi di belahan dunia lain. Tidak perlu lagi waktu yang lama untuk bisa mendapatkan berita. Saat ini, televisi menjadi satu-satunya pintu masuk informasi yang paling intens ke semua daerah terutama ke daerah-daerah terpencil. Kita tahu bahwa daerah terpencil sudah barang tentu juga memiliki pendidikan yang rendah. Hal ini membuat mereka menerima mentah-mentah apa yang disampaikan oleh televisi. Tidak hanya itu anak-anak dan orang yang berpendidikan rendah juga menjadi korban informasi yang disampaikan oleh televisi. Bisa dikatakan media elektronik terutama televisi telah memegang kendali informasi yang sampai kepada masyarakat. Apa yang disampaikan di televisi terhadap suatu isu akan menjadi cara pandang mereka terhadap isu tersebut.
    Media berhasil membentuk paradigma masyarakat terhadap seseorang, suatu bangsa, dan juga suatu Negara. Masyarakat akan mendefinisikan Negara kita ini sesuai dengan apa yang mereka lihat ditelevisi. Jika yang diberitakan hal-hal baik maka masyarakat akan mengartikan Indonesia menjadi sesuatu yang baik dan begitu juga sebaliknya. Terlalu berat memang, tetapi begitu lah kenyataan yang terjadi di lapangan. Bisa kita ambil contoh besar, di zaman Soeharto masyrakat menilai bahwa pemerintahan itu baik karena pemberitaan tentang hal-hal yang buruk itu diredam. Padahal kita tahu bahwa pemerintahan Soeharto tidaklah seperti yang kita lihat, banyak kekurangan-kekurangan yang justru menggerogoti masyarakat. Coba bandingkan dengan sekarang, paradigma masyrakat terhadap pemerintah begitu buruk. Itu terjadi karena pemerintah tidak lagi bisa membatasi pemberitaan di media atas nama demokrasi. Media bebas membeberkan apa saja “seenak hati” mereka. Padahal kalau dilihat pemerintahan sekarang tidaklah seburuk zaman Soeharto bahkan bisa dikatakan lebih baik. Media massa yang seharusnya dapat memberikan informassi yang obyektif untuk masyrakat saat ini telah berubah fungsi menjadi lahan empuk untuk berpolitik. jika hal ini terus dibiarkan seperti ini maka tidak menutup kemungkinan masyarakat kita akan dapat di adu domba melalui media massa dan mereka yang menguasai media massalah yang akan mempermainkan bangsa ini.

    memang menjadi salah satu watak manusia jika diberikan sebuah kebebasan dan tanpa aturan maka dia akan melapui batas. perlu diketahui manusia menjadi mahluk yang mulia karena manusia menaati peraturan yang memuliakannya. menurut saya kebesan media massa tetap harus dikendalikan oleh negara, karena jika mereka bebas segala sesuatu yang terjadi dan cendurung dibumbui opini-opini tertentu maka tentu hal ini akan berdampak buruk terhadap negri ini.

  13. media massa sudah menjadi bagian hidup dari masyarakat. hampir setiap hari masyarakat selalu mengonsumsi media. baik melalui televisi, koran, atau internet. hubungan masyarakat dan media seperti simbiosis mutualisme. saling menguntungkan. media tak dapat hidup tanpa masyarakat, begitu juga sebaliknya.

    berbicara mengenai media elektronik atau tv, saat ini konten tv sudah berkembang pesat dan mulai variatif. walau ada beberapa stasiun televisi yang masih memepertahankan acara tidak bermutu. namun dalam hal ini media juga tak bisa dipersalahkan sepenuhnya. kita tak bisa menutup mata jika masayrakat memang menggemari acara yang tidak bermutu dan tidak mendidik tersebut. seperti realigi, termehek2, atau tayangan infotainment yang isinya mengadu domba, bukan memecahkan masalah. rating dari acara tersebut sangat tinggi, sehingga stasiun televisi tetap mempertahankan tayangan itu. karena dengan rating yang tinggi, iklan yang didapat juga banyak. sehingga stasiun tv memeperoleh keuntungan, dari keuntungan itu mereka dapat membayar biaya operasional dan menggaji karyawan.

    menurut saya, sebagai audiens kita harus cermat dalam memilih tayangan. masih banyak acara bagus yang mendidik dan memberi inspiratif. jangan mau dibodohi oleh acara2 tidak bermutu. karena tayangan atau bacaan yang kita konsumsi akan mempengaruhi pola pikir kita.

  14. Saya sependapat dengan Viscardine di atas. Bahwa semua kembali pada individu masing-masing sebagai audiens. Saya pikir masyarakat sekarang sudah jauh lebih baik dan kritis dalam menyikapi sesuatu, termasuk pengaruh media massa. Media massa dalam hal ini televisi memang bisa memberikan pengaruh yang cukup besar terhadap cara berpikir dan perilaku manusia. Namun, melihat kondisi masyarakat saat ini, mereka sudah bisa berpikir dan memilih tayangan yang baik dan mendidik untuk mereka. Mereka juga tidak lagi menerima informasi yang ada secara mentah, tetapi ditelaah terlebih dahulu. Hal ini memang akan mudah dilakukan oleh orang dewasa yang sudah mengerti. Lalu, bagaimana dengan anak-anak? Disinilah peran utama orangtua sangat diperlukan. Orangtua harus ikut mendampingi anaknya ketika menonton televisi dan memilihkan tayangan yang baik dan sesuai dengan umur mereka. Karena memang pendidikan dasar anak diperoleh dari lingkungan keluarga.
    Oleh karena itu, proteksi diri sangat penting di era saat ini. Era dimana informasi bisa dengan mudah didapatkan. Apalagi kondisi diperparah dengan sudah sangat jarangnya media yang masih menjalankan fungsi murninya secara baik. Tidak bisa dipungkiri bahwa memang media sudah menjadi industri yang berorientasi pada keuntungan ekonomi dan bisnis semata. Tanpa memikirkan akibat yang ditimbulkan dalam masyarakat.

  15. Pemahaman saya atas materi media dan masyarakat yaitu perkembangan media maupun perubahan bentuknya, positif ataupun negatif tetap menciptakan suatu peradaban.
    Dengan kata lain, masyarakat dan komunikasi serta dengan berbagai macam media yang digunakannya merupakan suatu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan sebab dari situlah muncul sebuah peradaban.
    Suatu peradaban yang di bentuk oleh media bisa dianggap sebagai sebuah agenda setting dari para pemodal di media. salah satu tujuannya tidak lain adalah kapitalisme.

  16. Saat ini, media massa sudah menjadi bagian penting dalam masyaraka. Namun, banyak hal-hal yang terjadi seiring dengan itu. Salah satunya yakni konglomerasi media, yang mempengaruhi konten dari media itu sendiri. Banyak hal yang dilakukan pemilik media dengan medianya. Media massa tidak lagi melaksanakan fungsi-fungsinya yang antara lain to inform, to educate, ataupun social control. Banyak konten-konten baru yang dihadirkan media massa, yang sebenarnya melenceng dari beberapa fungsi diatas.
    Memang tidak dapat disalahkan apabila media massa tidak lagi independen. Karena, media juga harus bertahan dengan segala persoalan-persoalannya, yang salah satunya persoalan finansial. Media harus membuat suatu tanyangan atau membuat produk uang mampu mendatangkan iklan yang merupakan penopang kelangsungan media tersebut. Namun saya berharap produk tersebut tidak jauh melenceng dari pada salah satu fungsi media, yakni to educate. Paling tidak, ada keseimbangan anatara To educate dan To entertaint.

  17. Jika menganalisa dari hubungan antara media dan masyarakat di jaman sekarang, memang hubungannya sangat erat. Media sangat membutuhkan masyarakat (audience) sebagai obyeknya dan masyarakat juga membutuhkan media untuk memenuhi kebutuhan informasi maupun to entertain. Namun, dari kacamata saya, media saat ini mulai bertindak tidak fair terhadap audience-nya. Media sering memanfaatkan masyarakat sebagai obyek persaingannya. Maksudnya, dengan kekuatan dan kekuasaan yang dimiliki oleh owner media di Indonesia yang rata-rata sudah dimonopoli, menjadikan audience sebagai obyek persaingan para pemilik media baik di bidang politik maupun ekonomi. Contoh yang sangat nyata adalah : antara Metro TV (owner Surya Paloh) dan TV One (owner Aburizal Bakrie) saat pemilihan Ketua Umum Partai Golkar dahulu. Sangat jelas, Metro TV terlihat menjatuhkan Aburizal Bakrie dengan mengangkat berita-berita mengenai dampak negatif kasus semburan lumpur Lapindo. Sementara itu, TV One selalu membuat pembelaan di mata masyarakat dengan menayangkan berita-berita tentang kebaikan dari pihak Lapindo menangani korban-korban Lumpur Lapindo. Mungkin, jika audience yang tidak peka dak tidak mengerti siapa di balik media tersebut akan terbawa dan mempercayai semua apa yang diberitakan oleh kedua media tersebut. Misalkan saja, audience A sering menonton TV One, maka ia akan percaya bahwa para korban sudah mendapatka penanganan dari pihak Lapindo dan sebaliknya. Maka, dengan begitu, audience telah menjadi korban dari permainan politik kedua media tersebut. Saya sendiri tidak membela salah satu dari kedua media tersebut. Namun, dari kacamata saya, saya menilai bahwa kedua media tersebut masih sangat dipengaruhi oleh owner masing-masing dan akhirnya masyarakatlah yang menjadi korban.

    Meskipun demikian, saya tidak men-judge seluruh tayangan yang ada di kedua media tersebut tidak seimbang dan dipengaruhi oleh pemiliknya. Karena di sisi lain masih ada tayangan-tayangan yang memang dibutuhkan masyarakat dan memihak kepada masyarakat. Jadi, kesimpulan yang bisa saya ambil adalah media tidak hanya memiliki beberapa fungsi seperti yang sudah dijelaskan di atas. Namun, ada satu fungsi baru yang muncul sesuai analisa saya yaitu fungsi media terhadap masyarakat adalah sebagai obyek persaingan politik para owner media massa (ini hanya berlaku di Indonesia). Jika secara internasional, saya masih belum bisa memastikan bahwa di balik media massa ada permainan politik seperti di Indonesia. Jika melihat media di Malaysia, kemungkinan kecil sekali menjadikan masyarakat sebagai persiangan politik karena gatekepper media di Malaysia adalah pemerintahnya sendiri dan pengawasannya sangat kuat.

    Hal di atas telah membahas mengenai hubungan antara media dan masyarakat saat ini, monopoli owner media, dan fungsi media untuk masyarakat. Kali ini saya akan membahas tentang masyarakat dan media massa modern. Saat ini masyarakat semakin dimanjakan dengan teknologi dalam mengakses informasi. Masyarakat sudah tidak perlu membeli koran di pagi hari karena koran-koran elektronik sudah masuk dalam i-pad dan blackbarry (BB) mereka. Dengan berlangganan, para pemilik i-pad dan BB tersebut sudah bisa mengakses informasi di koran kapan saja dan dimana saja. Prediksi saya, sekitar 10 tahun lagi koran bisa saja mengalami kebangkrutan jika masyarakat sudah mulai sadar akan teknologi. Namun, prediksi tersebut tergantung dengan perkembangan masyarakat. Jika memang masyarakat sadar akan teknologi, prediksi saya tersebut bisa tepat. Nmaun, jika masyarakat masih belum menyadari teknologi-teknologi baru yang masuk, maka koran akan terus bertahan di Indonesia ini. Jadi dapat disimpulkan, media massa modern akan bisa dimanfaatkan oleh masyarakat jika masyarakat sendiri memahami dan mau menerima kemodernan tersebut.

  18. Konsep Packaging berita secara Peace Journalism atau War Journalism itu tergantung pada pe,ilik perusahaan media. Seperti teori yang dikemukakan Reese dan Shoememakeryang mengatakan pemilik media dapat mempengaruhi tayangan media. Sehingga secara tidak langsung pemilik media memiliki peranan tersendiri dalam menggiring opini masyarakat dalam lingkup public share.
    Hal ini juga yang mengakibatkan adanya mix media. Dan mix media itu terintegrasi dalam kepemilikan media yang berdimensi vertikal maupun horizontal. Fenomena “penguasaan” media ini juga dapat dikatakan sebagai “penguasaan” masyarakat secara konsensus

  19. Konsep Packaging berita secara Peace Journalism atau War Journalism itu tergantung pada pe,ilik perusahaan media. Seperti teori yang dikemukakan Reese dan Shoememakeryang mengatakan pemilik media dapat mempengaruhi tayangan media. Sehingga secara tidak langsung pemilik media memiliki peranan tersendiri dalam menggiring opini masyarakat dalam lingkup public share.
    Hal ini juga yang mengakibatkan adanya mix media. Dan mix media itu terintegrasi dalam kepemilikan media yang berdimensi vertikal maupun horizontal. Fenomena “penguasaan” media ini juga dapat dikatakan sebagai “penguasaan” masyarakat secara konsensus

  20. MESIN UANG ITU MEDIA

    Media saat ini kebanyakan hanya ingin mengejar keuntungan semata, di mana media juga kadang mengabaikan dari sisi etika dan pendidikan bagi masyarakat. Banyak program acara yang kurang mendidik setidaknya membodohi masyarakat. Banyak sinetron yang kurang baik namun dibuat sekuel hingga 6 judul namun isi tetap sama saja. Di saat itu rating naik dan menguntungkan pihak stasiun televisi tentunya. Program acara mencari bakat contohnya, di kebanyakan stasiun televisi hanya ajang pengeksploitasian orang yang dipertontonkan kepada audience. Peserta ajang tersebut hanya dijadikan “mesin penghasil uang” bagi pihak media televisi melalui rating. Rating naik, uangpun mengucur…Namun di satu sisi akhir kemanakah peserta tersebut akan berlanjut?(Menurut Studi Budaya)

    Sulit untuk merubah kepentingan di atas dengan diimbangi pendidikan dan etika. Masyarakat sudah terlanjur teracuni oleh tontonan yang tidak berkualitas.
    Cara kita sebagai masyarakat hanya mampu memilah kelayakan atau tidak. Namun tidak tertutup kemungkinan kita bisa merubah semuanya tetapi harus menjadi pemilik modal atau pemilik media.

    • MOHON MAAF SEBELUMNYA BELUM TERCANTUM

      Tito Imam Musfadila : 08220178
      kelas : C

  21. menurut saYA keberadaan media di indonesia bs dkatakan berkembang sangat pesat sehingga jalur komunikasi bergerak begitu pesat setiap detiknya. keberadaan media sepertinya bisa kita katakan bahwa sebagai penerang sesuatu hal kepada khalayak banyak dengan berbagai tampilan. entah cetak, elektronik maupun online. saya yakin hal inilah yang juga menjadikan banyak orang di indonesia menjadi melek akan ilmu namun dengan kadar yang variasi pula. perkembangan media jika saya mengamati sangat tidak sehat karena media yang dulunya merupakan sarana mengproklamirkan berbagai informasi yang utuh dan idealis seakan saat ini terkotori oleh kepentingan ekonomi, politik, ekopol, yang membuat jiwa jurnalis yang idelais seakan agak luntur. maka yang seharusnya media memposisikan sesuatu yang netral n menjadi filter malah tidak bisa lagi dikatakan seperti itu….

  22. Media Tepat adalah Informasi Tepat

    Dapat dikatakan bahwa sosialisasi antar individu dengan komunitasnya hingga membentuk suatu kelompok masyarakat dilakukan dengan interaksi intens satu sama lain, terlepas dari apapun medianya. Interaksi kini tidak lagi dilakukan hanya dengan tatap muka secara langsung, namun berbagai media komunikasi dengan kecanggihannya masing-masing dapat digunakan. Melihat hal tersebut, kita dapat menyimpulkan bahwa kegiatan komunikasi dan medianya memang merupakan dua hal yang secara beriringan berjalan dan saling menyeimbangkan.

    Berangkat dari teori uses and gratifications (penggunaan dan pemenuhan kepuasan), saya ingin menyampaikan bahwa semua yang terkait pada hubungan antara Media dan Masyarakat sangatlah tergantung pada satu individu dalam memahami betapa pentingnya proses pemilihan media. Seperti halnya pada teori ini yang lebih menekankan pada pendekatan manusiawi dalam melihat media massa. Artinya manusia mempunyai otonomi, wewenang untuk memperlakukan media. Bahwa tidak hanya satu jalan bagi khalayak untuk menggunakan media. Tapi sebaliknya, ada banyak alasan khalayak untuk memilih dan menggunakan sebuah media. Menurut pendapat teori ini, konsumen media mempunyai kebebasan untuk memutuskan bagaimana dan lewat media mana mereka menggunakan media itu akan berdampak pada dirinya.

    “Bergantung pada kebijaksanaan dan kebutuhan masing-masing individu dalam pemanfaatannya, disinilah proses pemilihan media yang mereka anggap tepat akan menghasilkan informasi yang tepat pula”.

  23. Tidak bisa dipungkiri media massa pada saat ini sangat dipengaruhi oleh kepentingan penguasa. Banyak ideologi yamg dilangkahi karena kepentingan pemimpin media. Media massa saat ini sangat dipengaruhi oleh kepentingan penguasa,apalagi demi kepentingan politik. Jadi media saat ini mampu memutar balikan fakta yang ada,bahkan membuat sesuatu yang awalnya negatif menjadi positif demi kepentingan pemilik saham. Media yang seharusnya memberitakan secara coverboth side kini seakan-akan memihak kepentingan penguasa. Maka dari itu kini audiencelah yang harus pintar memilah media yang ada. Jangan sampai hanya melihat dari kacamata satu media saja, melainkan perlu dilihat dari beberapa media.

  24. Menurut saya media yang ada di Indonesia saat ini mulai banyak yang menggunakan kekuasaannya. Contohnya, seperti yang telah disampaikan di atas, bahwa mulai ada monolopi media massa di Indonesia. Satu perusahaan televisi misalkan, memiliki lebih dari satu saham atau perusahaan media. Itu bisa dlam bentuk perusahaan televisi, media cetak, dan sebagainya. Contoh yang paling konkret saat ini adalah RCTI dengan MNC TV dan Global Tv, juga Trans Corp, yang terdiri dari dua stasiun tv Trans Tv dan Trans7.

    Mereka melakukannya untuk kepentingan pribadi, yaitu menambah keuntungan dalam berbisnis. Media di Indonesia, baik cetak maupun elektronik saat ini menjadi lahan bisnis yang paling ampuh bagi mereka orang-orang yang mempunyai modal besar. Agar stasiun tv tersebut semakin diminati oleh masyarakat, mereka rela untuk memberikan berita bohong pada masyarakat. Seperti yang pernah terjadi pada TvOne. Saat marak-maraknya berita tentang mafia kasus, TvOne sempat tersandung masalah, yang menyebutkan bahwa mereka telah melakukan penipuan publik. Dimana pihak TvOne menghadirkan nara sumber yang yang ternyata hanya rekayasa dari TvOne.

    Ini membuktikan bahwa kode etik jurnalistik di Indonesia sudah mulai dilupakan, unuk mendapatkan keuntungan bagi pihak tertentu.

  25. woow…saya terkesan dengan komentar teman-teman di atas, dan saya juga ingin memerikan komentar sedikit. media massa sekarang memang sudah melenceng dari fungsi yang sebenarnya. semua sudah tahu akan hal itu,dimana media hanya mencari keuntungan belaka tanpa memikirkan kode etik yang harusnya dicerminkan kepada khalayak. dimana media itu juga mempunyai fungsi untuk mendidik para audiencenya dan menampilkan suatu kebenaran. media sendiri sebenarnya sebagai sarana prasarana bagi masyrakat sebagai media aktif yang memberikan hiburan dan segala informasi penting. tapi, terkadang media massa itu menampilkan yang berlebihan untuk mengajak orang untuk membeli dan membuat cerita yang bohong itu merupakan strategi pasar yang mereka terapkan agar banyak yang membeli. semua itu hanya untuk mengisi kantong kering mereka.media sekarang (menurut saya) seenaknya saja dalam memberikan informasi, dimana media dalam berbagai pemberitaan suatu kasus banyak yang belum terselesaikan, dan memutar/itu-itu saja. seperti kasus century dulu, hampir 1bulan membahas berita tersebut (jujur sampai sekarang pun saya nggak ngerti tentang berita itu). dan saya sebagai audience berita rasanya bosan mendengarnya. tidak hanya 1 pemberitaan saja, tapi banyak pemberitaan yang lain pun seperti itu pula. masyarakat itu hanya di manfaatkan sebagai audience, dimana dimasyarakat inilah yang menilai media itu seperti apa. audience harus melihat media lain juga untuk menilainya.

  26. Pada hakekatnya media massa berfungsi sebagai jembatan antara pemerintah dengan masyarakat, sebagai corong penyampain informasi kepada masyarakat. Selain itu media massa juga sebagai sarana pendidikkan dan hiburan.
    Seiring berkembangnya zaman dan teknologi saat ini masyarakat dimanjakan dengan berbagai hiburan dan informasi yang serba cepat dan instan. Namun tak sedikit pula media – media yang menyajikan informasi yang kurang bermutu dan tak mendidik. Sebagai contoh televise, banyak televise –televisi yang menayangkan acara-acara yang tidak mempertimbangkan unsur pendidikkan. Karena tidak bisa kita sangkal program-program acara seperti itu memang lbih diminati oleh masyarakat kebanyakkan. Oleh karena itu para pmilik media tak ragu untuk memproduksi tayangan yang kurang bermutu, karena dari situlah sumber keuntungan media. Semakin banyak penonton acara tersebut semakin banyak pula iklan yang masuk, dan keuntunganpun mengalir deras. Oleh karena itu kita sebagai audience harus memiliki filter sendiri. Memilah milah maa tayangan yang seharusnya ditonton dan mana yang tidak, dapat membedakan tayang yang bermutu dan mana yang tidak.
    Selain itu saat ini media massa beralih fungsi menjadi media pengusaha. Dalam arti pemilik modal bebas membentuk media itu sendiri menjadi media yang diinginkan oleh pemilik. Media juga menjadi sarana untuk berpolitik, dan mempromosikn diri. Media saat ini dapat dikatakn tidak independent, tak dapat dipungkiri media massa saat itu berada dibawah kepemilikan orang-orang yang berkuasa dan dijadikan alat untuk bersaimg dalam dunia politik.

  27. Assalamuallaikum. Wr. Wb….
    Komentar yang dapat saya sampaikan tentang artikel diatas adalah : Media mempunyai peran yang sangat penting dalam kehidupan dimasyarakat. yang artinya media menjadi Sosial kontrol bagi masyarakat yang mana mempunyai 3 fungsi : Informasi, Pendidikan, dan Hiburan. dari ketiga fungsi tersebut media harus benar-benar tau apa yang diinginkan oleh masyarkat, dan media sendiri tidak boleh memberikan sesuatu yang pada intinya hanya mengacu kepentingan kelompok atau individu tertentu. seiring dengan perkembangan jaman, media pun menyuguhkan suatu informasi maupun program hiburan yang bersifat sangat mempengaruhi khalayak. maka penting jika kita sebagai audience mencoba mengkritisi apa yang diberikan oleh media yang mungkin bertentangan dengan apa yang kita ingin kan. seperti yang kita tau bahwa media sekarang tidaklah bertujuan untuk bagaimana mencerdaskan masyarakatnya, tetapi lebih pada provite oriented. dan dari sini seakan-akan kita diandaikan sebagai audience yang bodoh yang tak tahu tentang apa-apa.
    bicara tentang konglomerasi media ditanah air, sudah tidak lagi menjadi rahasia publik. pemilik media yang bersandar dibelakang kursi kepemimpinan menjadi yang paling dominan dalam memegang kekuasaan pada media itu sendiri. hal seperti itul sangat lumrah pada insan media saat ini. tetapi yang ,menjadi permasalahan adalah media yang seharusnya menjadi kepentingan publik beralih fungsi menjadi kepentingan individu bagi pemilik modalnya. disinilah letak penyimpangan kode etik yang seharusnya menjadi acuan didalam sebuah Media.
    Dari sinilah dapat disimpulkan jika pada saat ini susah mencari media yang bersifat Independent.
    Terima kasih.
    Wassalamualaikum.Wr. Wb….

  28. Sistem kepemilikan suatu media massa yang menimbulkan permainan ekonomi didalamnya merupakan sesuatu yang wajar dalam sebuah media menurut saya. Tetapi sesuatu yang tidak wajar apabila permainan ekonomi yang dibuat oleh pemimpin perusahaan media massa justru menimbulkan effek negative terhadap fungsi dan tujuan dari media massa itu sendiri. Sah sah saja apabila suatu industry melakukan permainan ekonomi, karena itu merupakan manajemen sebuah perusahaan. Tetapi semua manajemen perusahaan tetap harus mengingat fungsi dan tujuan barang yang mereka tawarkan. Dengan kata lain, suatu perusahaan media massa tidak masalah terdapat permainan ekonomi selama masih berpegang teguh pada fungsi dan tujuan media massa itu sendiri…yakni fungsi pengawasan sosial, fungsi interpretasi, fungsi transmisi nilai dan fungsi hiburan.

  29. Pak, saya Ferdiana Kd..kelas VI-D nim 08220384, ingin sedikit berpendapat terkait artikel Bapak di atas. Bahwa dengan ini saya nyatakan :

    Media tak lagi bisa disebut sebagai institusi sosial. Mengapa demikian? jika dilihat perkembangannya beberapa tahun belakangan ini, media hanya berfungsi sebagai lembaga bisnis yang mengejar “keuntungan”. Entah itu keuntungan financial, keuntungan politik, maupun keuntungan-keuntungan lainnya. Sebut saja “mereka” sang pemilik modal, menyadari betul begitu strategisnya koalisi media dengan politik untuk meraih kekuasaan. Oleh karena itu, begitu cerdiknya mereka memanfaatkan media sebagai alat untuk meraih kekuasaan. Saya rasa, sebagian media sudah kebablasan dalam menyikapi euforia kebebasan yang pernah didengungkan dalam reformasi 1998 silam.

    Tak ayal, independensi dan kode etik yang mereka punya tertutupi oleh orientasi bisnis semata. Sehingga, “dapur” media telah teracuni oleh tangan-tangan sang penguasa. Media yang seharusnya dimanfaatkan untuk kepentingan publik dimanfaatkan untuk kepentingan segelintir orang. Media seakan sulit memisahkan antara independensi dan orientasi bisnis itu sendiri. Akibatnya, media terperosok ke dalam penyajian informasi yang tidak berimbang dan cenderung berpihak pada golongan tertentu. Harusnya media sadar bahwa loyalitas utama adalah kepada masyarakat, dan intisari jurnalisme adalah verifikasi data yang akurat, agar tak ada unsur pembohongan publik di dalamnya. Bukan malah “tunduk” pada sang penguasa modal.

    Hal ini pun tak lepas dari peran serta dari wartawan itu sendiri. Wartawan profesional harus punya komitmen untuk menjunjung tinggi KODE ETIK-nya. Mereka bekerja untuk kebenaran. Jangan mau profesi sebagai wartawan ternodai oleh “budaya amplop”. “Selama ada amplop, berita Anda aman di tangan saya”. Sajikan informasi itu sesuai fakta dan dapat dipertanggungjawabkan dunia – akhirat. Manajemen media harus menghindari adanya intervensi pemberitaan karena faktor bisnis. Perhatikan juga kesejahteraan wartawan, agar idealisme mereka tidak terkontaminasi oleh kepentingan-kepentingan tertentu. Dan budaya amplop tidak makin merajalela. Jika ini telah di lakukan, maka yakinlah kekuatan media akan menjadi sebuah kekuatan besar yang sangat disegani oleh semua pihak, dan masyarakat akan semakin menaruh kepercayaan penuh pada keberadaan sajian informasi media. Amien, ya Allah.

  30. gagal PERTAMAX…

    Dari apa yang telah Bapak tuliskan di atas..
    Menurut saya, tidak semua media massa di Indonesia tidak seperti itu, tapi kebanyakan media massa hanya mengejar yang namanya money, guna menghidupi media tersebut agar bisa tetap bertahan di tengah-tengah persaingan yang amat ketat ini.

    Selain faktor ekonomi, faktor politik juga memberikan pengaruh besar terhadap kepentingan media massa di Indonesia, yaah.. contohnya media yang dekat dengan pemerintah cenderung memberitakan kebaikan atau kesuksesan pemerintah atau ketika pemilik media merupakan tokoh politik, dia akan cenderung menggunakan medianya sendiri sebagai alat tingan untuk kepentingan politiknya.

    Dengan adanya hal tersebut bisa mempengaruhi pemberitaan yang diinformasikan kepada masyarakat, sehingga berita atau informasi yang disampaikan cenderung bisa memihak pihak-pihak tertentu.

    Seharusnya para insan media tidak terpengaruh tekanan kepentingan ekonomi di balik pemberitaan suatu kasus. Mulai dari jajaran pemimpin redaksi hingga awak media di lapangan, tetap harus mengedepankan etika jurnalistik. Rating bukan sebagai target, harus ada keseimbangan antara isi berita yang berkualitas, dan penayangannya.

    ..::Sekian_Trim’S::..

  31. Sepengetahuan saya…
    Media massa di Indonesia belum mencerminkan suatu alat untuk menyajikan informasi yang baik.
    Hal ini bisa kita lihat dari beberapa media di Indonesia yang justru mendapatkan kecaman dari beberapa pihak dalam penayangannya. Mulai dari reality show, infotainmet, talk show, dan lain-lain. Ada pihak-pihak tertentu yang menganggap bahwa media di Indonesia pada saat ini dapat membunuh masyarakat. Sebuah buku yang berjudul “Media-Media Pembunuh Masyarakat telah menguak sedikit banyak tentang keburukan-keburukan media. Mulai dari narasi, pemberitaan, hingga informasi yang disajikan cenderung menghasut pikiran masyarakat dengan apa yang dipikirkan media.
    Namun terlepas dari itu semua, saya berharap dari pihak pendengar atau konsumen berita, dapat menyeleksi berita-berita yang disajikan oleh media. Karena itu adalah efek dari konglomersi yang hanya mementingan kepentingan sendiri.
    Untuk itu, saya menghimbau pada konsumen berita harus selektif dalam memilih berita. Dari pihak penyiar juga harus melakukan perbaikan.
    Oke, terima kasih…🙂

  32. Saat ini merupakan zaman dimana digunakannya media massa sebagai alat komunikasi massa. Entah dengan bentuk cetak maupun elektronik. Maka dari itu, manusia tidak akan pernah lepas dari pengaruh media massa.

    Akan tetapi, yang menjadi permasalahannya adalah konten yang disajikan media massa tersebut,khususnya penyajian berita. Tidak jauh berbeda dengan pendapat teman2,esensi berita khususnya pada media elektronik (TV) sekarang ini ambigu,tidak berimbang,dll, yang intinya sudah agak melenceng dari unsur layak berita. Sehingga,jika kita perhatikan fungsi media beralih mengedepankan kepentingan pemodal,bukan khalayak. Hal – hal tersebut diatas didasari beberapa kepentingan ekonomi politik media itu sendiri.

    Saya pernah mendengar,seseorang mengatakan,agar kita tidak boleh mempercayai pers begitu saja. Bahkan,ia mengatakan kebenaran pers yang bisa dipercaya,jika di hitung dengan prosentase hanyalah sebesar 15%. Selebihnya hanya berita yang dilebih – lebihkan untuk mendongkrak komersialisasi.

    Saya tidak membenarkan atau menyalahkan statement tersebut. Namun, jika mengulas statement tersebut lebih dalam,tidak dipungkiri nantinya akan menjurus lagi pada dampak konglomerasi media..

  33. sekedar menggapai..

    lalu bagaimana teman”.. pada intinya postingan pak husnun dan komentar kalian sama..yakni kembali ke EKPOLMED media.
    media butuh uang untuk hidup..
    tapi media punya tugas pada masyarakat..
    APA SOLUSINYA???
    itulah yg seharusnya dibahas..
    pendapat pribadi saya, sudah banyak orang kritis di indonesia tecinta nie..
    tapi kritis tanpa solusi..
    yg dibutuhkan adalah jawaban masalah bukan penjabaran masalah..
    ini takkan selesai bila hanya dikritisi.. maka yuk cari solusi..

    kalo soal serikat pekerja, mungkin itu bisa jadi alternative, tapi sejauh ini jalannya banyak di jeglang kn..mungkin butuh strategi berbeda..

  34. mohon maaf Pak,identitas saya diatas kurang lengkap..
    NIM saya 08220070
    kelas VI C..
    Terimakasih..

  35. menurut saya media saat ini memang mendahulukan keuntungan bagi sang pemilik.
    pemilik tidak memperdulikan lagi apa makna dan fungsi media masa itu sendiri.
    mereka menyampingkan fungsi yang harusnya bermanfaat kepada masyarakat.

    kini masyarakat dsuguhkan dengan program2 televisi yang tidak mendidik, hal itu dapat membentuk karakteristik budaya baru terhadap mayarakat.

    dalam penyampaian program-program berita yg ada di stasiun televisi Indonesia ini pun tidak bisa dipercayai begitu saja. Apalagi dalam penyampaian berita soal mengkritisi pemerintahan.

    Disini pemilik media cenderung saling perang dalam menyampaikan suatu berita yg “bohong”, demi untuk mengkambing hitamkan pandangan masyarakat terhadap pemerintah atau bahkan terhadap salah satu pemilik media yg lain.

    kita tahu bahwa media di Indonesia kini banyk di miliki oleh orang politik, dan menurut saya itu lah yang merusak moral dan etika masyarakat Indonesia dan merusak moral jurnalistik di Indonesia sendiri.

    Mungkin kini kita sulit mendapatkan berita2 yg independent, tapi apapun itu kita tetap harus melihat berita2 yg terjadi di Indonesia walaupun kita tidak harus mempercayainya 10% pun. Karena berita adalah jendela dunia, dan kita harus tahu bagaimana mengambil pesan berita2 tersebut.

    wassalam

    • Sam, boleh minta (link) full text skripsi atau thesise sampean? Tentang Analisis Wacana Pemberitaan Arema ISL di Malang Post. Buat referensi Sam.
      Terimakasih.

  36. maaf pak identitas saya juga kurang lengkap
    nama

  37. nama : dendy Noviandita
    kelas : ikom D
    NiM :08220310

    arigato

  38. Seperti yang kita ketahui, da 4 fungsi dari media : to inform, to entertaint, to educate dan to social control, dengan 4 fungsi tersebut media media memberikan banyak pengaruh terhadap masyarakat, dimana media bisa membangun sebuah kebudayaan, mendorong munculnya sebuah kebudayaan bahkan menjerumuskan public dalam sebuah kebudayan, baik dengan kesadaran penuh maupun tanpa di sadari oleh public itu sendiri, di balik semua fungsinya, menurut saya kini media tidak lagi atau kurang memperhatikan memperhatikan kode etik dan melakukan rekayasa pada fungsi-fungsi media itu sendiri, menghalalkan segala macam cara untuk meraih keuntungan.
    Fungsi media to inform banyak yang di salah gunakan oleh beberapa media, dengan cara di mana media memberikan informasi yang tidak berimbang mengenai suatu berita, ada pihak- pihak yang lebih di untungkan, dan ada pihak – pihak yang lebih di rugikan dalam suatu pemberitan.
    Fungsi pendidikan juga sudah banyak di abaikan oleh media, media lebih dominan memberitakan informasi yang di minati masyarakat dari pada yang di butuhkan masyarakat, kurangnya pendidikan terhadap public melalui media ini tentu memperlambat upaya mencerdaskan bangsa.
    Begitu pula fungsi media sbagai hiburan, banyak sekali hiburan -hiburan yang hanya sekedar menghibur, tanpa masyarakat tahu bahwa apa yang mereka tonton adalah kebohongan publik, seperti acaraa- acara reality show yang sebenarnya tidak real. bahkan media berani menjual kemiskinan sebagai tontonan untuk mendapatkan keuntungan.
    Maka kita sebagai masyarakat harus benar – benar bisa menyaring informasi yang kita konsumsi dari media agar tidak terkena dampak menjadi bodoh karna media.

  39. kalau boleh saya katakan, kebebasan pers yang saat ini terjadi itu terlampau berlebihan. Banyak berita-berita yang sengaja di lebih-lebihkan demi untuk meningkatkan rating, maupun meningkatkan jumlah oplah penjualan. Jika dalam media menyajikan berita-berita yang tidak jelas semacam itu tentu dampaknya langsung pada masyarakat, dimana mereka akan menjadi sangat terpengaruh dan pasif terhadap berita-berita yang disuguhkan,,yah menerima dengan begitu saja. Terutama dijaman teknologi seperti ini para pemilik modal akan semakin berkuasa dengan menjadikan media sebagai alat untuk mencapai tujuan. Tujuan utama mereka tak jauh dari pembentukan citra pastinya,,

    Kalau saya lihat sekarang berita-berita yang beredar hanya mengutamakan entertain saja, hiburan-hiburan termasuk kelebaian dalam berita yang sengaja dibuat bombastis. Ada juga media-media yang terlampau vulgar dalam menyuguhkan pemberitaan mereka padahal hal tersebut yah bertentangan dengan idealisme pers, namun sepertinya ideal atau tidak ideal itu masalah relatif. Ada satu koran harian yg sering menyuguhkan kronologi cerita dan gambar-gambar yg menurut saya akan membawa imajinasi pembaca yah kalau kasusnya bukan kasus asusila, kalau kasus asusila terus pembaca berpikiran untuk meniru kan repot?🙂
    yang jelas saat ini kebebasan pers ujung-ujungnya keberpihakan dan kehilangan fungsi dan idealisme mereka. Bukan saatnya untuk menyalahkan media 1 dengan media lain namun yang terpenting saat ini adalah agar pers menemukan jati diri yg sesungguhnya yakni menyampaikan fungsi dan perannya bagi masyarakat. Masyarakat berhak untuk mengetahui informasi dan bukan untuk dibohongi dan dibodohi.

  40. media saat ini tidak lagi berfungsi sebagaimana mestinya,banyak media menyerang musuh-musuh dari SANG pemilik media untuk ‘BALAS DENDAM’.bahkan fungsi kontrol sosial pun hanya sebagai pelengkap idenditas bukan menjadi fungsinya,akibatnya media bersaing secara tidak sehat dan merugikan rakyat…asstagfirullah al adziimmm,,,

  41. menurut saya media dan masyarakat memang seharusnya memilki hubungan yang sangat erat,karena dengan adanya media maka masyarakat bisa mengaspirasikan apapun lewat media itu tersebut. tapi media sekarang sudah sangat menyalahgunakan yang namanya kebebasan pers jadi keadaan pers saat ini benar2 bisa dengan mudahnya memutar balikan fakta yang sebenarnya.

    apalagi media sekarang sudah mengesampingkan ideologi dan lebih mementingkan keinginan semata dari pemimpin media atau penguasa dari media tersebut. rating lah yang menjadi keutamaan suatu media apalagi stasiun televisi, dari iklan pun pendapatan yang dihasilkan lebih banyak ke stasiun tv daripada para pekerjanya itu sendiri entah wartawan ataupun artis2nya.

    banyaknya eksploitasi media yang tidak kita sadari sebenarnya apalagi dengan tayangan2 televisi yang saat ini banyak sekali program2 acara yang tidak bermutu tetapi tidak bisa juga menyalahkan media itu sendiri karena itu semua juga tergantung dari para audience. merekalah yang merupakan inti dari sebuah media dimana peran audience memang sangat penting,entah kenapa para audience sekarang ini bisa dikatakan memiliki selera yang rendah karena menyukai program2 acara televisi yang tidak mendidik sama sekali.

    intinya kita sebagai audience harus lebih pintar dan cermat dalam memilih program acara yang ditayangkan dan jangan mau diperbudak oleh tayangan2 yang tidak bermutu.

    thanks

  42. ANGGA RARASTYA (08220115)
    mengatakan :
    Media saat ini telah mencapai masa ultra power dimana media bisa mengendalikan penuh paradigma masyarakat, seperti yang terjadi seperti saat ini, media menampilkan tentang keharusan memiliki BB (black berry). Seperti menggunakan kata-kata “hari gini gak punya BB???”, akhirnya semua remaja (bahkan orang tua) termakan oleh kata2 media tersebut, labilnya kondisi masyarakat kita memudahkan media “mendaur ulang” pikiran masyarakat.

    Hampir semua media menampilkan sajian yang sama, seperti sinetron-sinetron hampir disemua stasiun televisi mengangkat tema “rebutan cowok/cewek”, keseragaman (pembodohan) tersebut biasanya didasari oleh rating maupun kepemilikan modal. Dominasi kepemilikan modal dapat mengakibatkan orientasi komersil dan dominasi politik sehingga memepersempit kebebasan pers dan ruang gerak jurnalistik. Kode etik jurnalistik sebagai landasan tata cara penyampaian media saat ini memang mengalami posisi dilematis, dimana ketidakberpihakan media terhadap sebuah hal dimaknai sebagai keberpihakan kepada pihak yang lain. Jadi serba salah dalam memutuskan “kubu” mendukung yang benar kah? Atau mendukung yang kuat? Itu semua kembali pada pembangunan citra masing-masing media kita.

  43. Sejak tahun 60’an, marxian telah mencetuskan kritik terhadap kepemilikan media. Menurut mereka, pemilik media mampu mengontrol dan mengkonstruksi isi media, khususnya komersialisasi dan ideologi yang dianut. Lalu Vincent Mosco (1996) menegaskan pernyataan tersebut berdasarkan keadaan terbaru politik dan ekonomi media global diawal post modernisme. Mosco mengungkapkan, media massa saat ini merupakan ladang bisnis. Audience dianggap sebagai pasar untuk memperoleh keuntungan berlipat. Murdock dan Golding (1974) menambahkan, tak hanya bidang ekonomi, politik juga menjadi hal penting dan utama dalam melihat media.

    Bahkan sebelum media terkonsentrasi, para pakar telah memrediksi masa depan media. Jika kali ini masih banyak debat tentang kebebasan pers, pers yang ideal, atau fungsi pers, kritik seperti itu juga telah dilancarkan para ilmuwan. Lantas bagaimana solusi untuk “membenarkan” media?
    Memperbaiki media tentu sangat sulit, mengingat porsi kekuatan pemilik media yang cukup kuat. Beberapa pakar menyebutkan, media literacy cukup ampuh digunakan untuk membuka mata masyarakat tentang media dan hegemoninya. Mengapa masyarakat? karena masyarakat adalah konsumen media. Mereka adalah pasar. Media mendapatkan keuntungan dari masyarakat. Jika masyarakat telah melek media, masyarakat bisa lebih aktif dalam memilih dan menyeleksi isi media.

    Selain itu, mendirikan media independen tandingan juga dapat menyeimbangkan public opinion. Media tersebut dapat didirikan oleh orang2 yang peduli terhadap media dan masyarakat, seperti AJI atau komunitas kelas C konsentrasi jurnalistik UMM, misalnya. Facebook, tweeter, atau sekedar blog juga dapat dijadikan media “tandingan” atau pendidikan media literacy, meski kekuatannya kecil.

    Terima Kasih.

  44. Menurut saya pesatnya kemajuan teknologi mengakibatkan berbagai macam informasi deras mengalir masuk. Garis-garis antara berita, hiburan, iklan, propaganda, dan lain-lainnya, menjadi kabur. Begitu pula wartawan dan berita semakin sulit didefinisikan. Perubahan-perubahan di atas menuntut peran baru dari media. Kalau dulu ia menjadi penyalur informasi, maka kini ia menjadi fasilitator, penyaring dan pemberi makna dari sebuah informasi. Media kini bertugas untuk ‘membawa’ audiences-nya masuk dalam dunia makna yang lebih luas, tidak terbatas pada tempat dan waktu kejadian sebuah peristiwa.

    Perubahan-perubahan tersebut juga mengakibatkan tugas media (cetak maupun elektronik) menjadi lebih berat karena berita berubah begitu cepat. Cara pengumpulan berita pun berubah. Jurnalisme berada dalam keadaan membingungkan. Perubahan teknologi telah berlangsung begitu cepat sehingga pangsa pasar media menurun dan makin sempit. Sementara itu, tekanan untuk menjalankan operasi secara efisien justru makin kuat. Dalam keputusan untuk menarik masyarakat peminat, terkadang pers bergerak ke arah sensasi, hiburan, dan opini. Akibatnya bagi jurnalisme adalah dilanggarnya etika pers, merosotnya audiences dan kepercayaan masyarakat.

  45. hai kawan” intelektual…. hehehehe…
    kalau saya pikir memang benar” dilematis, media saat ini, yang seharusnya kebenaran hak untuk publik untuk tau malah ditutupi, media hanya sebagai alat politik untuk pencitraan saja di mana kode etik jurnalistik terkadang masih di dipersalahgunakan……. semua ini akibat dari dampak negatif kebebasan pers…. memang tidak ada yg sempurna…..

  46. banyak hal yang seharusnya tidak terjadi dimedia tapi terjadi,,dan yang seharusnya tidak terjadi bisa sangat mudah terjadi,, media indonesia itu berjualan bukan sebagai kontrol sosial ataupun mendidik.
    sampai kapan masyrakat terus diadu domba oleh pusat dan sumber informasi dirumah sensiri

  47. banyak hal yang seharusnya tidak terjadi dimedia tapi terjadi,,dan yang seharusnya tidak terjadi bisa sangat mudah terjadi,, media indonesia itu berjualan bukan sebagai kontrol sosial ataupun mendidik.
    sampai kapan masyrakat terus diadu domba oleh pusat dan sumber informasi dirumah sendiri

  48. Menurut saya media pada saat ini bisa dianggap berkuasa,yang dimaksud berkuasa disini bisa mengatur atau mempengaruhi cara pemikiran masyarakat,bahkan bisa mempengaruhi keputusan-keputusan atau kebijakan pemerintah dalam hal apapun,bahkan media juga bisa mempersatukan masyarakat dalam hal solidaritas,contohnya pada kasus prita,dimana kasus ini secara terus menerus diberitakan sehingga dapat mengundang simpatik orang lain,sehingga turut membatunya dalam bentuk materi maupun non materi,di sisi lain media juga memiliki sisi negatif salah satu contoh acara silet di RCTI yang memberitakan bahwa gunung merapi akan meluluhlantahkan Yogyakarta,pemberitaan yang berlebihan ini yang mengundang kemarahan masyarakat Yogyakarta,dan kasus ini diurus KPI dan tayangannya pun harus dihentikan secara paksa (tapi tayang lagi),menurut saya media harus berbenah untuk lebih baik lagi.
    Cukup semanten….matur nuwun….

  49. Saat ini media memang dijadikan ajang bisnis dengan membeli salah satu media yang hampir mati…
    Yang paling kelihatan adalah pada media TV. Mereka melakukan konglomerasi pada media dan pastinya ada perubahan yg lbh baik.. Contohnya yg baru ini adlh sctv dan indosiar, televisi indosiar mengalami perkembangan yg lbh baik dr segi program acara..
    Yang saya herankan adalah MNCtv yh dulunya adalah TPI.. Menurut saya hanya ada sdikit skali perubahannya..pdhl kita tahu mnc adalah perusahaan yg bagus dan memiliki stasiun tv yg sukses sperti rcti salah satunya..
    Yg saya bingungkan knapa trdpt perbedaan yg jauh dg televisi trsb?.. Apakah berbeda dlm menangani media2 ttsb walaupun barada dlm satu perusahaan?…

  50. Nafas media nampak pada iklannya, dan kontennya sesuai pada permintaan pasar. Hanya sedikit media yang mampu bertahan dengan idealismenya, dan sisanya tak mau ambil pusing. Sebagian besar memilih untuk memanjakan pemirsanya dengan acara-acara menarik. Seolah memaksa kita untuk terus didepan TV (media yang saya maksud).
    Belakangan acara media bukan lagi untuk mencerdaskan masyarakat, melainkan sebaliknya. Acara yang disuguhkan jelas dikeluarkan demi mandapat rating yang tinggi sehingga keuntungan meningkat. Dan selanjutnya, mereka akan melakukan efisiensi tenaga kerja untuk dapat keuntungan lebih lagi.
    Media dikuasai beberapa pihak saja (seperti materi Pak Husnun diatas), entah saat ini oligopoli, monopoli atau duopoli. mereka merajai pasar media dari elektronik hingga cetak. walau materi yang disajikan sama, tapi disajikan berbeda sesuai pasarnya. Inilah yang kemudian dinamakan konglomerasi media.
    Perkembangan konglomerasi media ini menawarkan ancaman. Ancamannya adalah makin dominannya pemilik media dalam redaksi media massa, yang berpotensi mengakibatkan akurasi dan kredibilitas produk informasi media itu dipertanyakan publik. Sedang kondisi penduduk di Indonesia masih belum merata dalam hal taraf pendidikan. Sehingga dampak negatif secara tak langsung akan menimpa kalangan menengah kebawah yang belum cukup mengenyam pendidikan.

    (Pak saya kemarin sudah coba kirim tapi tidak bisa, saya yang tadi duduk depan. Mohon maaf sebelumnya..)

  51. menurut saya beberapa media sekarng telah kehilangan Ke netralannyna dan kurang bisa menjalankan fungsinya sebagasi salah satu simbol dari demokrasi akibat dari kepentingan politik media itu sendiri.
    sangat buruk, karena hal ini akan megarah kepada Homogenisasi dan Agenda Setting…

  52. Rima Ika Handayani (08220372_Ikom 6D)

    Media dan masyarakat sampai kapanpun akan saling berhubungan, tanpa masyarakat media itu tidak akan berdiri,begitupula masyarakat tanpa media mereka tidak akan menyerap informasi. media sebagai alat komunikasi yang mana perannya sangat berpengaruh dalam membentuk karakter masyarakat. kedudukan informasi dalam pergaulan hidup manusiapun memiliki peranan yang amat penting dan strategis.
    namun,pemperitaan media sekarang terkadang melenceng dan tidak cover both side. media sekarang hanya dijadikan sebagai bahan politik bagi para pemilik modal (penguasa). media sekarang sifatnya bukan apa adanya akan tetapi, ada apanya. kebebasan pers tidak lagi terjaga karena mereka harus menutupi kejelekan dari tempat ia bekerja. jika seperti ini bagaimana nasib media massa kita kedepannya..???
    Media harus independen, jangan biarkan kediktatoran penguasa menguasai media.

  53. meskipun media itu memiliki kebebasan tanpa disadari mereka tetap terikat kepada politik serta ekonomi, seharusnya para pemeran di bidang ekonomi mampu ikut serta menjaga keseimbangan dalam menjalankan pemerintahan (politik) bukan malah menjadikan media yang bebas tersebut sebagai alat untuk memberikan peluang persaingan yang hitam dan mengacaukan segala tatanan yang ada, seharusnya orang yang berada di media, ekonomi dan politik mampu mempertarungkan kejujuran dalam realitas, bukan malah mampu main dengan “tangan-tangn tak terlihat” dalam kancah kehidupan yang mereka lakoni
    waaahhh dapat nilai A ya pak?? hehehe

  54. Menurut pendapat saya, media yang seharusnya bersifat obyektif namun saat ini kurang berjalan sebagai mana mestinya. Tampak sekali media justru menjadi alat politik bagi beberapa pihak. Dari hal tersebut kata-kata ” siapa yang menguasai media akan menguasai dunia ” digunakan oleh para pemilik media untuk memenuhi kepentingannya. Faktor inilah yang membuat media cenderung kehilangan sisi obyektifitasnya.

  55. Dian Kurniasari R.
    08220295 / IKOM VI-D

    …media massa itu ada karena ada massa (masyarakat)…dan budaya yang hidup dalam masyarakat itu ada dan berkembang karena adanya media massa…jadi kaitan antara kedua hal tersebut seperti membicarakan kaitan antara telur dan ayam…
    …idealisme sekarang ini dianggap “bullshit”…maaf kata2 saya kasar tapi itulah kenyataannya…media massa tercabik antara “bagaimana agar tetap menjadi media yang sesuai dengan kaidah, kode etik, dan fungsi” dengan “bagaimana harus bertahan dengan kebutuhan finansial yang tidak sedikit”…
    …serikat pekerja merupakan solusi yang masih ada saat ini…di sana para pekerja media yang menjunjung tinggi idealisme diberi perlindungan…namun untuk pemberantasan “konglomerasi yang tidak dapat dibendung dan kelewat batas” sangat sulit…karena hal tersebut sangat berkaitan erat dengan politik…jadi garis besar pertarungan yang ada sekarang adalah “IDEALISME VS POLITIK”…
    …jujur…saya sendiri masih sulit menemukan ide untuk memberi saran solusi…karena budaya yang ada di Indonesia…yaitu KKN…udah mendarah daging…memang kalau boleh mengutip salah satu dialog film “CIN(T)A”…Negeri in kebanyakan sarjana nyinyir yang bisanya cuman salahin pemerintah tanpa kasih solusi…tapi untuk sementara yang terpikirkan dari saya adalah merubah sistem pemerintahan dari demokrasi murni menjadi demokrasi terpimpin…
    …Demokrasi murni menjunjung tinggi kebebasan untuk kasih pendapat dll…tapi namanya juga Negara…banyak kepala banyak pemikiran…jadi sulit ditemukan titik temunya…

  56. menurut saya, media adalah sesuatu yang apapun ada didalamnya, dan apa yang dikeluarkannya itu harus bisa mendidik dan bisa dipertanggung jawabkan keabsahannya. media merupakan pembentuk opini publik yang mengarahkan akan kemana pikiran publik ini bermuara.
    media dan publik erat keterkaitannya, dimana media yang sekarang mungkin sudah banyak yang tahu apabila tidak lagi mempergunakan murni ideologi mereka, melainkan dikte para “empunya” suatu media yang lebih mengutamakan profit perusahaan semata dari pada keotentikannya. pertanyaannya media harus memihak siapa?? rakyat atau pemerintah atau siapapun??
    tapai saya setuju seperti yang dikatan Pak Husnun, media harusnya memihak!!! yaitu memihak kebenaran,siapapun yang benar disitulah media harus bisa mengesplorasi nilai kebenaraanya.

  57. Manusia adalah tuan atas dirinya sendiri, itu kata kuncinya.
    saya tidak yakin media itu ada karena berguna bagi banyak orang, yang saya tangkap malah media ada karena terpaksa dibutuhkan untuk mempermudah sebagian orang saja.
    saya terlalu apatis dengan media saat ini karena mereka terlalu jahat, mereka suka mempengaruhi orang serta mematikan imajinasi banyak orang. semuanya selalu sudah diatur agar beberapa orang bisa diuntungkan.
    media memaksa orang untuk mengkonsumsinya serta karenanya orang menjadi terbagi berdasar stratifikasi sosial.
    ukuran maju sering diartikan menjadi persoalan materi, dengan menggunakan media seseorang bisa merenggut keuntungan sebanyak mungkin, yah, kapitalisme sudah mendarah daging.
    apa salahnya menjadi orang pedalaman yang ramah dengan alam dan jauh dari modernisme, saya ingin tahu dimana letak kesalahan kesederhanaan mereka yang malah saya pikir mereka orang yang paling bebas berfikir tidak diatur-atur orang lain.
    namun kontroversi dalam pikiran saya inilah yang menjadikan saya lebih tertarik pada media, saya ingin tahu lebih banyak tentang media bukan hanya dari sekedar teori pengantar, saya ingin tahu tentang seberapa kekuatan mereka mempengaruhi masyarakat secara positif juga seberapa kekuatan mereka menjerumuskan masyarakat.

  58. komunikator media dan masyarakat adalah serangkaian komponen komunikasi. dan kini media dan masyarakat semakin tak terpisahkan. terutama pada saat ini dimana informasi sangat dibutuhkan oleh semua orang.namun komunikator disini yang lebih menguasai media (media massa/media press). jelas mereka (komunikator) lebih menguasai ruang publik dan mampu menggiring opini publik. jadi lebih berhati-hatilah para masyarakat dalam memilih informasi agar tidak terjebak dalam kepentingan komunikator (pemilik modal di media) dan tak terjebak dalam “Trial by the press”nya media…ckckckckckckck…

  59. yang saya sampai sekarang tidak tahu ujung dan pangkalnya adalah apa yang disajikan media benar-benar banyak yang jauh dari kata “layak” konsumsi audien. segitiga audien, media, dan pemerintah itu kan saling berhubungan satu sama lain, penentu konten media dan pengontrol media itu seharusnya siapa pak?
    soalnya, rasa-rasanya tidak ada yang mau disalahkan atas apa yang kita tonton, apa yang kita dengar ataupun yang kita baca sekarang. atau okelah, kita tidak perlu lagi mempertanyakan “siapa yang salah dan siapa yang benar”. lantas, apa yang bisa dan harus kita lakukan sebagai calon ahli komunikasi untuk membentuk masyarakat yang cerdas dan kritis, dan membangun media yang sehat dan mendidik..
    karena bagaimanapun juga, media menggambarkan bagaimana masyarakatnya..betul pak??

    08220306 / ikom VI-D

  60. Saya berkomentar dengan pertanyaan saja lah…

    (1)
    ini mata kuliah apa sih pak ??
    Media dan Masyarakat ato apa ?
    Ko ya dilihat dari komentar temen” di atas, mereka seolah” terjerumus pada sudut pandang media = TV, koran dan media yang lebih kepada bidang pers atawa jurnalistik, ini tentu saja memang dipengaruhi oleh konsentrasi yang kita pilih di Ilmu Komunikasi.

    nah, sepengetahuan saya, film, sastra, brosur, poster, dll itu juga termasuk media yg berkembang di masyarakat, dan tentunya hal itu juga akan memiliki dampak yg sama terhadap masyarakat.

    Misalnya saja, bagaimana dampak film Jae Sijo dan Janur Kuning pada zaman penjajahan dan era Orde Baru dalam mengkonstruksi pemikiran masyarakat pada masa itu. Tentunya hal itu tidak relevan pada saat ini, nah, kita bisa menganalisis film maupun media lain pada zaman Democrazy sekarang dan dampaknya terhadap masyarakat.

    Saya tidak bisa skritis temen” di atas dalam mengolah kata dan pemikiran, tapi saya cuma ingin tahu, apa sih dampak MEDIA yang sebenarnya kepada MASYARAKAT secara detil, tidak hanya terperangkap pada sudut pandang TV yg mendominasi pola pikir mereka di atas saat menyampaikan opini di forum ini. bagaimana nasib radio, film, dan teman-temannya yg di forum ini seolah termarjinalkan.
    Itu kalau memang makul ini adalah MEDIA DAN MASYARAKAT.

    (2)
    Pak, memangnya kalau tidak memberikan komentar di sini menghambat nilai ya??

    dijawab atau ga, yg PENTING DIBACA….

    Cukup 2 saja komentar saya tentang hal mendasar yg saya bingungkan dari makul ini..

    yg “penting” sudah beri “komentar” (uhuk)

    -08220010-

  61. Menurut saya setelah melihat materi bapak diatas ,sudah tidak bisa dipungkiri lagi bahwa beberapa media Indonesia memiliki keperpihakan yang disebabkan oleh berbagai alasan mulai dari sisi politik hingga sisi materi yang walau bagaimanapun materi tidak dapat di anak tirikan. materi menjadi sebuah kebutuhan bagi semua media di manapun. kepemilikan media oleh beberapa orang penting di negeri ini membuat media menjadi semakin terlihat keperpihakannya.

    sekian komen saya pak.

  62. asalammualaikum pak
    yang masih jadi pertanyaan saya kenapa media massa sekarang lebih suka bermain dan membentuk opini publik ketimbang menyuguhkan berita yang benar-benar berisi fakta tanpa ada bumbu-bumbu lain dan tekanan dari pemilik modal atau media massa tersebut. seharusnya media massa tersebut memberikan pelayanan informasi yang dibutuhkan oleh masyarakat tanpa ikut memikirkan informasi tersebut. tetapi banyak kasus yang terjadi, masyarakat digiring oleh media untuk beropini sehingga di kalangan masyarakat terbentuk opini yang belum tentu opini tersebut sesuai dengan fakta,malahan bisa dibilang menjerumuskan masyarakat untuk rame-rame ngegosip.lah trus apa bedanya berita yang disuguhkan oleh media massa dengan informasi yang ditayangkan infotainment??????

  63. Miftakhul Solikhin 08220415
    Jurnalistik/VID
    asalammualaikum pak
    yang masih jadi pertanyaan saya kenapa media massa sekarang lebih suka bermain dan membentuk opini publik ketimbang menyuguhkan berita yang benar-benar berisi fakta tanpa ada bumbu-bumbu lain dan tekanan dari pemilik modal atau media massa tersebut. seharusnya media massa tersebut memberikan pelayanan informasi yang dibutuhkan oleh masyarakat tanpa ikut memikirkan informasi tersebut. tetapi banyak kasus yang terjadi, masyarakat digiring oleh media untuk beropini sehingga di kalangan masyarakat terbentuk opini yang belum tentu opini tersebut sesuai dengan fakta,malahan bisa dibilang menjerumuskan masyarakat untuk rame-rame ngegosip.lah trus apa bedanya berita yang disuguhkan oleh media massa dengan informasi yang ditayangkan infotainment??????

  64. “Media merupakan salah satu komponen komunikasi sebagai pembawa pesan dari komunikator menuju komunikan” ??
    INI PERTANYAAN SAYA, kalo tujuan awal media berubah dari pembawa pesan menjadi pembawa uang?? lalu siapa yang bertanggung jawab?.
    tidak munafik, media digerakkan dengan uang,
    tidak berbicara banyak, kalo uang yang berbicara duluan😀. mau dibilang mau bagaimana lagi, ini INDONESIA. yang luar biasa dan KAYA RAYA.
    saya bahkan tidak bisa mencerna bagaimana media massa bisa mempengaruhi publik dengan berita-berita murah yang bahkan saya yang tidak paham politik saja bisa mencerna MEDIA= ALAT KONTROL= PENDATANG UANG.

    hha. saya pikir saya ingin juga sesekali menjadi Bakrie

  65. Siapa yang tidak tau media???
    Setiap hari kita selalu disajikan informasi yang dproduksi oleh media. Masyarakat tidak perlu lagi repot-repot mencari berita hanya dengan bantuan media massalah masyarakat dapat mengetahuinya.

    Sekarang ini banyak stasium-stasiun televisi bermunculan tetapi diantaranya sangat kecil tuk bisa menyajikan berita-berita yang berfaedah bagi masyarakat melainkan hanya berfaedah bagi dirinya sendiri hanya mementingkan keuntungan pribadi dan selalu ingin mempertahnkan kredibitasnya saja.

    Mungkin dalam hal ini media mempunyai alasan yang tepat kenapa bersikap seperti itu, media juga membutuhkan modal untuk mengaji pegawai dan kebutuhan lainnya.

    Namun dibalik itu semua seharusnya pelaku media harus kreatif dalam menyajikan berita di media, bukan hanya kredibilitas uang tuk kepentingan sendiri. Mungkin hal ini dibatasi dengan kurangnya ilmu pengetahuan dan ide makanya media sekarang lebih terkesan focus pada mengkreatifitas menyajikan uang.

    Terlepas dari baik dan buruknya media kita juga pasti menemukan kelebihannya. Begitu juga media tidak hanya ingin memenuhi kebutuhan masyarakat saja tetapi juga ingin memenuhi kebutuhan hidupnya dengan keadaan seperti inilah kita sebagai generasi muda bisa menjadikannya sebagai tantangan untuk dapat terjun langsung kedalamnya untuk dapat mengetahui keadaan yang sebenarnya.

  66. merujuk pada tulisan atau materi bapak diatas.., dan komentar dari teman2.., memang tidak dapat dipungkiri lagi bahwa media adalah poros utama yang mampu merubah apapun. karena bahasa komunisi yang digunakan media, memiliki banyak makna terselubung di dalamnya.
    saat ini memang m9oknopoli media tidak bisa lepas dari para pemilik modal, sehingga ketia pemilik modal memiliki suatu kepentingan tertentu atau pribadi, tentulah media sebagai sarana yang tak lagi mampu bersikap secara objektif.
    kerapa kali media memberikan dan menyajikan segala fasilitas bagi masayarakat, dan yang terpenting yaitu media memang sangat dibutuhkan untuk menyajikan berita.
    masyarakat tak akan berkembang tanpa adanya media. JELAS. karena media adalah wadah segala informasi. media bisa menjadi malaikat, tapi bisa juga menjadi hal yang sebaliknya ketika media itu sendiri memiliki kepentingan tertentu.
    masyarakat kita bukan lagi masyarakat bodoh, sehingga mayoritas mereka tak lagi menyeraap mentah2 berita yg disajikan oleh media.

  67. media saat ini menjadi alat mencari keuntungan oleh pihak – pihak tertentu. media sudah tidak lagi mencerminkan fungsi yang sebenarnya…
    lihat saja pada masa kampanye, media dijadikan alat sebagai mencari simpatisan untuk mendukung partai. dan parahnya, terjadi persaingan yang tidak sehat dalam memberikan informasi poada masyarakat.
    hal ini terlihat pada, cara pemberitaan program berita antara dua stasiun tv dengan pemilik yang berbeda. ada yang mendukung pemerintah dan ada yang sengaja ingin menurunkan citra dari pemerintah.

    adanya, pihak pihak penguasa dalam keberlangsungan hidup media massa ini, mem,buat media menjadi sangat komersil dan tidak sewajarnya. mereka lebih banyak menampilkan sisi hiburan ketimbang sisi edukatif untuk masyarakat. padahal mereka tahu media mempunyai kekuatan yang sangat besar untuk mempengaruhi masyarakat dalam bertindak dan berpikir.

  68. Assalamualaikum Pak,
    Pak materi untuk UTS apa saja? Saya lihat di blog Bapak masih belum ada.

    • iya pak. katanya untuk UTSnya ada di blog. tapi ternyata kok masih belum ada? jadinya ujiannya tulis sesuai jadwal atau bagaimana pak?

  69. banyak sekali yang komentar, wah hebat-hebat!

  70. artikel yang berbobot dan para komentarnya juga ber kelas🙂


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: