Oleh: husnun | Agustus 30, 2012

Kicauan yang Membawa ke Jalur Hukum

Oleh : Husnun N Djuraid

WAKIL Menteri Hukum dan HAM Denny Indrayana kesandung masalah. Gara-gara tulisannya di akun twitter yang menyebut advokat pembela koruptor sebagai koruptor juga, karena ikut menikmati uang hasil korupsi. Kicauan wakil menteri yang juga bekas aktivias antikorupsi itu menimbulkan reaksi yang keras dari kalangan advokat, bahkan advokat senior OC Kaligis sudah melaporkan Denny ke polisi  yang dianggap melanggar  KUHP dan Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik. Polisi pun merespons laporan tersebut dan segera memrosesnya, meskipun Denny sudah menyampaikan permintaan maafnya terutama kepada advokat  yang dianggapnya bersih dan tidak membela para koruptor. Dengan susah payah wakil menteri itu sudah menjelaskan persoalan yang sebenarnya dari pernyataannya di twitter tersebut, tapi itu tidak mampu menahan amarah para advokat untuk membawa kasus tersebut ke ranah hukum.

Pernyataan Denny yang menyulut emosi para advokat adalah soal pembelaan para advokad itu kepada para koruptor. Dalam akun twitternya Denny mengatakan ‘’advokat korup adalah koruptor itu sendiri, yang membela membabi buta, yang tanpa malu terima bayaran uang hasil korupsi, sama saja seperti koruptor.’’ Kalau melihat pernyataan tersebut, sesungguhnya itu kalimat yang belum selesai. Tentu bukan semua advokat berperilaku seperti yang ditulis itu, masih ada yang punya hati nurani menolak untuk membela para koruptor meskipun dengan bayaran yang tinggi. Yang menjadi pertanyaan sesungguhnya adalah, mengapa Denny tidak memberi penjelasan yang lengkap tentang tulisannya itu.

Mengapa dia hanya membuat kalimat sepotong-sepotong yang bisa menimbulkan tafsir yang negatif,  padahal sebenarnya ada maksud yang belum terungkap di balik kata-kata tersebut. Jejaring social seperti twitter dan facebook merupakan media yang efektif untuk mengaktualisasi diri melalui pernyataan pribadi tentang sesuatu masalah. Dari dua media itu, kini twitter sedang naik daun dan lebih digemari, karena banyak digunakan oleh orang-orang terkenal. Sayangnya efektivitas media tersebut tidak dimanfaatkan dengan maksimal untuk mengaktualisasi diri melalui tulisan yang lengkap dan utuh. Kebanyakan hanya digunakan untuk menyampaikan komentar dengan kalimat pendek yang kemudian mendapat komentar banyak orang, tergantung dari berapa banyak followernya.

Sebagai media yang bebas, maka apa yang diungkapkan juga sangat bebas tanpa kontrol, sehingga tak jarang satu komentar bisa menimbulkan masalah karena dianggap menyinggung orang lain. Sudah banyak perseteruan terjadi di jejaring social yang melibatkan para tokoh. Dalam kasus Denny, sungguh disayangkan mengapa dia tidak membuat sebuah tulisan yang panjang tentang pendapatnya itu agar khalayak bisa menerima pendapatnya itu secara utuh, bukan sepotong-sepotong yang bisa menimbulkan salah tafsir. Sebagai seorang intelektual tentu dia memiliki kemampuan untuk mengungkapkan ide dan pemikirannya melalui tulisan yang panjang, minimal seperti sebuah artikel di surat kabar.Melalui tulisan yang panjang itu bisa dipaparkan tentang sebuah ide atau pemikiran dengan jelas, mulai dari latar belakang,  inti persoalan sampai pada kesimpulan dan solusi yang ditawarkan. Dengan demikian, tidak hanya kritik yang disampaikan, tapi ada penawaran solusi atau masukan mengenai masalah yang jadi bahan pembicaraan.

Meskipun demikian, bukan berarti sebuah tulisan panjang tidak berisiko dilaporkan ke polisi, tapi paling tidak pemikiran penulisnya sudah bisa disampaikan secara jelas, bukan hanya beberapa kata. Masalahnya adalah, para pengguna jejaring social malas mengungkapkan pikirannya melalui tulisan yang panjang, karena mungkin dianggap tidak lazim. Jejaring itu hanya digunakan untuk sekedar say hello, guyonan, menggosip dan penyebaran informasi. Jarang yang memanfaatkan untuk menampilkan sebuah tulisan panjang di twitlonger atau notes.   Padahal dengan fasilitas yang dimiliki, bisa dimanfaatkan untuk menulis lebih panjang. Jejaring social, termasuk SMS dan BBM – yang memiliki fasilitas yang bisa dimanfaatkan untuk menulis lebih banyak – lebih banyak dimanfaatkan untuk berkomunikasi dengan bahasa yang tidak komunikatif.  Karena, yang ditampilkan bukan bahasa tulis yang baik tapi bahasa lisan yang dituliskan dengan segala keterbatasan dan kekurangannya. Anehnya, bahasa seperti yang menjadi tren digemari oleh masyarakat.

Sebenarnya kemajuan teknologi dalam bidang IT bisa dimanfaatkan untuk semakin banyak menulis. Kalau dulu kita menulis di mesin ketik, kemudian beralih ke computer. Sekarang aktivitas menulis bisa dilakukan di mana saja, karena sudah ada  computer jinjing yang lebih praktis, bahkan kini sudah banyak yang memiliki tablet PC yang jauh lebih nyaman dibanding computer generasi sebelumnya. Tapi kemudahan teknologi itu tidak manfaatkan untuk menulis, tapi untuk kepentingan lain. Tidak banyak pemilik tablet PC memanfaatkannya untuk menulis makalah, tugas kuliah, bahan presentasi, artikel atau tulisan yang lebih panjang. Kebanyakan mereka memanfaatkan untuk main game dan berinternet.

Kemalasan menulis adalah problem besar bangsa ini. Berapa banyak guru besar, berapa banyak doctor dan para cerdik cendekia, yang mampu menghasilkan karya tulis yang baik. Mereka biasanya menghasilkan karya ilmiah sebagai syarat untuk mendapatkan gelar, setelah itu aktiitas menulis dilupakan. Bahasa tulis menjadi minoritas diantara gegap gempita bahasa lisan. Orang bisa berbicara berjam-jama dengan materi yang sangat menarik, tapi tidak banyak diantara mereka yang mampu menuliskannya dengan gaya yang sama menariknya. Menulis memiliki keunggulan dibanding bicara. Pembicaraan yang menarik memang masih tersisa dalam ingatan tapi itu terbatas baik kuantitas maupun waktunya. Hasil tulisan bisa dinikmati oleh banyak orang dalam waktu yang lebih lama karena bisa dibaca berulang-ulang. Ide dan pemikiran bisa diterima secara utuh. Kalau saja Denny Indrayana menuliskan komentarnya soal  advokat pembela koruptor lebih panjang, maka masalahnya akan menjadi jelas dan tidak sampai membawanya ke kantor polisi.

*)Pengajar jurusan komunikasi Fisip Universitas Brawijaya, penulis buku Ikatlah Ilmu dengan Tulis


Responses

  1. Terima kasih atas konten dan info yg menarik dan menginspirasi….thk u

  2. Terima kasih atas konten dan info yg menarik dan menginspirasi….thk u


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: