Oleh: husnun | April 20, 2013

TNI AU Belajarlah pada AU

  (edisi cetak dimuat di harian Jawa Pos)    

                                                               Oleh : Husnun N Djuraid

KOMISI Pemberantasan Korupsi (KPK) selalu menghasilkan berita. Setiap aktivitas di lembaga antikorupsi itu selalu menjadi incaran wartawan. Ketika Ketua Partai Demokrat Anas Urbaningrum (AU) diperiksa lembaga tersebut, perhatian wartawan tertuju pada gedung KPK, baik saat AU datang maupun saat usai diperiksa selama tujuh jam. Seperti biasa, saat seorang terperiksa keluar dari kantor KPK, selalu dikejar oleh puluhan wartawan yang sudah siap menunggu cukup lama. Apa yang dilakukan AU pada hari Rabu lalu diluar dugaan banyak pihak, termasuk para wartawan. Usai menjalani pemeriksaan, AU tetap tenang melayani permintaan wawancara oleh wartawan. Bukan hanya melayani wawancara, AU malah menggelar press conference sambil duduk di tangga masuk gedung KPK.

Sebelum para wartawan bertanya mengenai materi pemeriksaan terhadap dirinya, AU sudah langsung memberi penjelasan lengkap. Usai memberi penjelasan, AU pun membuka kesempatan kepada wartawan untuk bertanya, layaknya sebuah acara jumpa pers. Tidak banyak wartawan yang bertanya soal materi pemeriksaan terhadap AU, karena memang sudah dijelaskan dengan gambling. Saat ada yang bertanya materi di luar pemeriksaan, AU menjawab dengan tangkas. AU berhasil mengatasi dirinya yang tengah ‘’dikeroyok’’ oleh wartawan dengan penampilan yang tenang. Tidak jelas, apakah ketenangan itu karena AU merasa tidak bersalah dalam kasus proyek Hambalang yang jadi perhatian publik, atau AU mampu menyembunyikan apa yang tengah berkecamuk pada dirinya. Tapi satu hal yang sangat penting adalah AU mampu menghadapi dan melayani wartawan yang ingin mengorek informasi pemeriksaan dirinya.

 Sebelum AU menjalan pemeriksaan di KPK, publik juga dikagetkan oleh kecelakaan pesawat terbang Fokker 27 milik TNI AU di komplek Lanud Halim Perdanakusuma.  Kecelakaan ini menambah daftar panjang kecelakaan pesawat terbang di Indonesia yang merenggut banyak korban, baik yang meninggal dunia maupun yang luka-luka. Sesungguhnya yang mengejutkan dari kecelakaan itu adalah keterbukaan pihak TNI AU dalam memberikan informasi yang jelasa kepada publik melalui meda. Tak lama setelah kecelakaan itu, pihak Lanud Halim Perdana Kusuma menggelar press conference untuk menjelaskan tentang kecelakaan tersebut, meskipun yang dijelaskan itu baru data awal dari kecelakaan tersebut. Memang dalam kecelakaan tersebut pihak Lanud Halim Perdanakusuma melarang reporter dan fotografer untuk mendekat ke lokasi kecelakaan.

 Beberapa fotografer dan kameraman TV sempat diusir oleh para petugas yang bersiaga di sekitar reruntuhan pesawat. Hal ini sempat menimbulkan protes, tapi pihak TNI dalam hal ini Lanud Halim Perdanakusuma langsung memberikan klarifikasi dan minta maaf. Press conference tidak hanya dilakukan sekali pada hari itu, tapi beberapa kali, baik oleh pihak Lanud Halim Perdanakusuma maupun oleh pihak Mabes TNI AU dengan materi yang gambling.  Apa yang dilakukan oleh TNI AU ini merupakan sesuatu yang baru, karena biasanya pihak yang mengalami kecelakaan selalu menutup informasi kepada media dengan berbagai alasan.

 Ada anggapan di kalangan masyarakat yang mengatakan kalau informasinya diberikan kepada media justru akan memperpanjang masalah, sehingga lebih baik dirahasiakan. Itu adalah anggapan yang kuno, karena akan sangat sulit menyembunyikan sebuah informasi yang berasal dari sebuah peristiwa yang menjadi perhatian publik. Kalau akses wartawan untuk mendapat informasi dari sumber formal ditutup, maka mereka akan mencari informasi dari sumber lain. Tidak ada jaminan bahwa informasi ‘’sumber lain’’ sesuai dengan apa yang terjadi sesungguhnya dan hasrat wartawan untuk mencari informasi lain semakin menggebu. Semakin ditutup semakin bersemangat untuk membukanya. Berita yang muncul pun berlarut-larut sampai berhari-hari.

 AU dan TNI AU memberi pelajaran yang sangat baik dalam berhubungan dengan media (media relations) yang menempatkan media sebagai mitra bukan subordinasi. Sebagai mitra, media tidak bisa dialangi untuk memberitakan sebuah peristiwa, begitu juga sebaliknya, diminta untuk memberitakan sebuah peristiwa sesuai permintaan. Pesawat jatuh dan seorang ketua partai besar diperiksa lembaga antikorupsi adalah sebuah peristiwa besar yang tidak mungkin dihentikan pemberitaannya. Media memberitakan pemeriksaan AU dengan porsi yang besar, karena memang kapasitas ketua partai yang memiliki magnitude untuk diberitakan secara besar.

 Tapi keriuhan berita pemeriksaan AU itu hanya berlangsung sehari, setelah itu tenggelam oleh pemberitaan kasus lain yang lebih besar. Secara umum media sudah tidak banyak memberitakan kasus AU, terutama media mainstream, karena news valuenya sudah berkurang. Meskipun demikian masih ada yang tetap memberitakan kasus itu, terutama media partisan, dengan berusaha mencari-cari bahan baru dengan mengaitkan informasi sebelumnya. Blow up dan over expose sebuah berita sampai berhari-hari, akhirnya memunculkan penilaian publik tentang adanya pemaksaan media dengan tendensi tertentu.

Entah kebetulan atau tidak, tapi setelah kasus itu kemudian muncul kasus lain yakni korupsi pengadaan Alquran yang melibatkan anggota DPR. Tapi dari sisi media relations, AU sudah menempatkan dirinya pada posisi yang benar. Atas keterbukaan itu AU mendapat keuntungan melalui penggalangan opini masyarakat. Penampilan AU di depan media yang tenang dan santai seakan ingin membuktikan bahwa dia tidak bersalah dalam kasus Hambalang. Kasus Hambalang – dan beberapa kasus korupsi yang lain – sering dikaitkan dengan AU sebagai ketua partai yang berkuasa. Tak kurang dari Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat yang juga presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), meminta kepada kader partai tersebut yang terindikasi korupsi untuk segera meninggalkan partai tersebut.

Maka muncullah gerakan di internal Demokrat yang dikomdani orang-orang yang mengaku sebagai pendiri partai untuk meminta AU mundur. Gerakan itu begitu gencar, sampai-sampai melibatkan pengurus daerah yang digalang untuk menurunkan AU dari kursi ketua. Beberapa tokoh partai bersuara lantang – menafsirkan pernyataan SBY – minta agar AU dengan legowo mundur dari jabatan ketua partai selama menjalani proses hukum dalam kasus korupsi yang menggegerkan tersebut. Badai besar yang ingin melengserkan AU itu terus diembuskan sampai menjelang dia diperiksa di KPK. Situasinya berbalik menyusul pemeriksaan tersebut, apalagi AU memberikan penjelasan yang gamblang kepada media ihwal pemeriksaan dirinya oleh KPK. Media memberitakan pemeriksaan tersebut secara luas, setelah itu berita tentang AU mulai menurun baik kualitas maupun kuantitasnya, sampai suatu saat nanti ada perkembangan baru.

Iklan

Responses

  1. aset yang paling berharga dalam diri kita adalah karakter kita

  2. semua akan lebih baik kalau kita berusaha

  3. semua akan lebih baik kalau kita berusaha


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: