SETENGAH hari Minggu kemarin, saya manfaatkan untuk istirahat. Bukan istirahat diam sama sekali di rumah atau duduk leyeh-leyeh minum teh sambil mendengar Perkutut manggung, tapi tetap ada kegiatan. Anak saya yang paling kecil sudah booking sejak jauh hari, nantang main badminton di Family Club Araya. Jadilah Minggu pagi itu kami sekeluarga ditambah gengnya Si Ragil ‘’boyongan’’ ke Araya. Acara tepok bulu ayam berlangsung gayeng, bak final Thomas Cup dan Uber Cup.
Habis badminton, kami mengisi perut di Bakso Kuto Cak Ji di Jalan Sulfat. Itu semua sudah cukup sebagai pengantar tidur siang yang sangat nyenyak. Sebelum benar-benar istirahat, ada beberapa teman main tenis yang datang minta Lele. Lo, kok lele ? Ya, teman-teman main tenis mau menggelar acara nonton bareng final Euro 2008 di lapangan tenis. Sebelum menyaksikan partai final yang sangat seru antara Jerman versis Spanyol, para penggiat tenis di kampung itu akan menggelar nonton bareng pertandingan Wimbledon melalui layar lebar.
Acara nonton bareng ini diisi makan-makan dengan menu Lele. Kebetulan tanah bekas Taman Toga yang mangkrak saya manfaatkan untuk membuat kolam Lele. Setelah dua bulan lebih, lele itu sudah siap untuk dipanen, tapi saya biarkan saja. Entah berapa ekor yang dijaring untuk pesta Lele menyambut final Euro 2008 itu.
Istirahat saya siang itu agak sedikit terganggu, karena sebelumnya ada sebuah momen yang terlewatkan. Seorang teman saya dari Surabaya - Rohman Budijanto - datang untuk menemui saya di kantor pada tengah hari, tapi karena pada saat itu kantor masih tutup, dia harus kembali. Tapi sebelum pulang dia menitipkan oleh-oleh special untuk saya yang dititipkan pada Satpam yang jaga di kantor sebelah.
Oleh-oleh apa sih yang dibawa Pemred Jawa Pos itu ? Sebuah gift yang sangat berharga, sebuah CD MP3 berisi cerita Ludruk Kartolo CS. Sudah lama saya ingin mengoleksi Ludruk Kartolo ini sejak masih dalam format kaset – satu kaset satu cerita – produksi Nirwana Record di Jalan Genteng Kali Surabaya itu. Tapi barang itu sudah langka, karena sudah semakin jarang yang menjual kaset. Maka ketika Cak Roy – panggilan akrab Rochman – menyanggupi untuk mengirim CD itu, saya merasa senang sekali. Tapi saya sama sekali tidak menduga kalau orang nomor satu di jajaran redaksi Jawa Pos itu mengantarkan sendiri CD idaman saya. ‘’Sambil ngantar anak-anak liburan ke Malang,’’ katanya.
Maka, hari-hari saya yang akan datang akan diwarnai gelak tawa mendengar banyolan Kartolo and his Gang yang terdiri dari Ning Tini, Sapari, Basman (almarhum), Munawar, Sokran dan beberapa gust star peludruk kondang masa lalu. Guyonan Kartolo CS berisi cerita sehari-hari yang dikemas melalui bahasa Suroboyoan yang bloko sutho, terbuka bahkan terkadang kasar. Di balik itu, unsur lawak mendominasi, karena para pemeran dalam cerita itu adalah para dagelan Ludruk yang memiliki jam terbang yang tinggi.
Di jaman yang keras seperti ini, lawakan Kartolo Cs dibutuhkan untuk melemaskan syaraf yang tegang akibat kerja sehari-hari. Kerja dan perilaku orang modern sangat mudah menimbulkan ketegangan jiwa. Senyum, apalagi tawa ngakak, menjadi barang yang sangat mahal. Sulit menemukan senyum diantara kesibukan manusia modern yang egois dan materialistis.
Dampak kehidupan modern yang cenderung asosial itu membuat banyak pelakunya tertimpa stress, karena merasakan tekanan hidup yang sangat berat. Yang ada hanyalah kerja, kerja, kerja dan kerja untuk mendapatkan uang, uang dan uang. Manusia modern telah menempatkan uang sebagai Tuhan yang harus disembah dan dihormati. Tak heran bila banyak manusia modern yang konon pintar dan cerdas itu justru menjadi budak uang. Budak itu kemudian berlaku adigang, adigung, adiguno, sopo siro sopo ingsung yang mengabaikan hubungan kemanusiaan.
Tak ada kesempatan untuk berinteraksi dengan sesama manusia dalam suasana yang santai atau sedikit guyonan. Jangan heran bila penyakit fisik dan psikis yang parah banyak menyerang manusia modern. Mereka tidak memiliki kesempatan untuk menghibur diri meskipun untuk sekedar tersenyum atau tertawa. Padahal sekali senyum mampu mengendurkan syaraf yang membuat pembulu darah menjadi lentur dan terbuka. Belum lagi tertawa ngakak setelah mendengar banyolan Kartolo, Munawar, Sapari atau Neng Tini.
Kalau itu bisa dilakukan, hidup akan terasa nikmat dan tentu saja lebih sehat dan awet muda. Tak percaya ? Lihat saja Kartolo. Sejak saya remaja dan sekolah di Surabaya sampai saat ini, rasanya wajah Kartolo tetap seperti itu, selalu mengumbar senyum dengan hiasan kumis tebal, gambaran kepasrahan hidup yang dibalut optimisme. Klompen kecemplung timbo, cekap semanten atur kulo. Saya mau dengarkan Kartolo dulu.