Posted by: husnun | Juli 17, 2008

bahasa walikan malang

Halokes Balekno Ojir

Kana : Ngerti kejaksaan te merikso pungutan murid anyar, akeh halokes balekno ojir nang gnaro owut

Ebes : Soale diancam lek pungutan iku podo ambek korupsi

Kana : Tapi sik onok halokes negeri sing tetep mungut ojir murid anyar

Ebes : Pisan-pisan kudu onok petinggi halokes sing dilekec digelendeng nang kejaksaan utowo nang rontak silup. Iku penting kanggo shock terapi liyane cikno kadit ngelamak, wis dilarang kok sik ndablek ae. Halokes negeri iku lak wis entuk anggaran oket negoro ta, kok sik kurang ae

Posted by: husnun | Juli 15, 2008

Pengorbanan Mendapatkan Sekolah

Back to School

BEGITU keluar dari ruang kepala sekolah, seorang ibu menundukkan wajahnya. Hatinya bergolak, bingung, tak tahu harus berbuat apa. Dia dihadapkan pada pilihan yang sulit, makan atau menyekolahkan anaknya. Anaknya yang baru lulus SD, ingin melanjutkan sekolah ke SMP. Lantaran nilai ujian negaranya lumayan bagus, anaknya diterima di dua SMP Negeri. Tapi niat anaknya untuk bersekolah di SMP Negeri harus dikubur dengan paksa, karena dia tidak mampu memenuhi kewajiban membayar sejumlah uang yang kalau dihitung tak kurang dari Rp 1 juta.

Selain itu, lokasi sekolah negeri itu amat jauh dengan rumahnya yang tersembunyi diantara perkampungan kumuh Kota Malang. Kalau toh dipaksakan, dalam hitungannya, dia tidak akan mampu memberi sangu kepada Si Tole setiap hari. Maka pilihannya jatuh pada SMP Ma’arif yang lokasinya tak jauh dari rumahnya, sekitar 3 Km dan bisa ditempuh dengan jalan kaki. Di sekolah itu dia langsung diberi aba-aba, harus menyediakan sekitar Rp 500 ribu.

Dibanding dengan sekolah negeri, bayaran itu relatif murah. Meskipun murah tak pelak wanita itu kebingungan, karena hari itu juga dia harus membayar ke4 sekolah. Di tangannya ada beberapa lembar puluhan ribu. Uang itu sudah ‘’dialokasikan’’ untuk makan dia dan dua anaknya, beli Elpiji dan beras. Tentu saja dia bingung, uang di tangannya hanya cukup untuk makan hari itu, sementara dalam waktu yang sama dia harus memenuhi kewajiban agar anaknya bisa sekolah. Sebuah pergulatan antara perut dan idealisme.

Meskipun miskin, dia punya tekad untuk menyekolahkan anaknya. Suaminya bekerja di luar kota sebagai penjual kerupuk yang setiap bulan mengirimnya uang tak lebih dari Rp 300 ribu. Selain mengandalkan kiriman suaminya, dia juga kerja serabutan untuk menyukupi kebutuhan rumah tangganya. Belum terpikirkan apa yang akan dilakukan esok, saat anaknya mulai sekolah di SMP. Ketika banyak orang tau menyerbut minimarket, supermarket sampai hypermarket untuk mencari kebutuhan sekolah anaknya dalam program diskon bertajuk back to school, dia masih termangu. Tidak tahu apa yang akan dilakukan nanti. Perempuan itu adalah potret nyata masyarakat kita.

Bisa jadi dia lebih beruntung dibanding orang tua yang lain, karena dia masih punya keinginan untuk menjadikan anaknya bisa sekolah lebih tinggi. Lebih banyak orang tua yang pasrah dengan nasib, tak punya uang yang tak usah neko-neko menyekolahkan anaknya, meskipun anaknya cukup pandai. Tak usah berangan-angan mendapat bea siswa atau sejenisnya.

Ternyata, masih banyak orang di sekitar kita yang kesusahan, bahkan untuk memenuhi kebutuhan hidup dengan standar yang paling rendah. Betapa bingungnya ibu itu kesulitan mendapatkan uang Rp 500 ribu untuk membayar uang pangkal sekolah anaknya. Masih banyak orang tua yang lain yang sejenis, bahkan hidupnya lebih sulit. Rp 500 ribu itu barang mewah, mahal dan sulit dijangkau. Beruntung dia dapat dispensasi untuk mencicil, entah sampai berapa kali, mungkin sampai anaknya lulus dari sekolah itu.

Bandingkan dengan orang lain yang dengan mudah mengobral uang jutaan bahkan miliaran rupiah. Berapa uang dihamburkan para politisi untuk mengejar kursi kepala daerah : gubernur, wali kota atau bupati. Angkanya bisa ratusan miliar. Uang liar itu mengalir ke mana-mana, sebagian bisa menghidupkan perekonomian rakyat melalui usaha kecil. Sebagian lagi mengalir ke kantong politisi di atasnya untuk menebus rekomendasi, sebagian lagi mengalir ke kantong tim sukses. Inilah tim paling sukses, karena yang didukung belum tentu sukses, tapi timmua sudah sukses duluan. Ada juga yang masuk ke kantong rakyat kecil dalam bentuk sangu dua puluh lima ribuan untuk bekal ikut kampanye.

Para peserta kampanye itu selalu sesumbar kalau dana pendukungnya sangat besar, uangnya tidak berseri, saking banyaknya. Itu adalah trik menarik simpati dan menyiutkan nyali lawan. Tapi kenapa uang itu tidak ada yang mengalir dalam bentuk derma membantu orang-orang miskin yang kesulitan menyekolahkan anaknya. Padahal, kalau para calon itu mau sedikit loman membantu orang-orang miskin, mereka akan mendapat simpati dari si miskin maupun orang lain. Mereka selalu berjanji : ‘’Kalau saya jadi kepala daerah, sekolah gratis, kesehatan gratis, pelaku ekonomi lemah dibantu modal, pokoknya gemah ripah loh jinawi.’’ Tapi itu nanti, kalau sudah terpilih. Kalau sesudah terpilih ingat atau tidak, wallahu a’alam bishawab.

Posted by: husnun | Juli 13, 2008

Bahasa Malangan

Ojok Takabur

Kana    : Alhamdulillah, Arema nganem ndik pertandingan perdana bes

Ebes     : Oyi jes, ayas yo seneng. Opo maneh nganem ndik kandang lawan

Kana    : Tapi kompetisi sik suwe bes, sik kadit osi dadi ukuran

Ebes     : Tapi paling kadit iki start sing kipa. Lek awale kipa, mugo-mugo osi dipertahanno nang pertandingan liyane. Tantangane Arema sik abot, opo maneh lawan-lawane mesti kadit gelem didadekno korban koyok Persita. Makane, seneng osi nganem iku kipa, tapi ojok sampe takabur, osi ayahab.

Posted by: husnun | Juli 13, 2008

Arema Benamkan Persita

Mbamba Perkasa

JALAK HARUPAT – Emile Bertrand Mbamba menjadi pahlawan Arema saat menggasak Persita Tangerang dalam pertandingan perdana Super Liga di Stadion Jalak Harupat Bandung. Pemain asal Kamerun itu mencetak dua gol kemenangan Arema atas Persita yang kini harus mengungsi ke Jalak Harupat karena Stadion Benteng tidak layak untuk menggelar pertandingan sekelas Super Liga.

Arema meraih poin sempurna melalui dua gol Mbamba yang dicetak menit 15 dan 52. Kedua gol itu dicetak oleh Mbamba memanfaatkan tendangan penjuru Alex Pulalo dan Arif Suyono. Gol itu tak lepas dari kejelian Mbamba mencari posisi aman melepaskan diri dari kawalan pemain belakang Persita. Gol pertama melalui tendangan kaki, sedangkan gol kedua lahir melalui tandukan kepalanya memanfaatkan umpan Arif Suyono.

Meskipun bermain di kandang lawan, Arema bermain kesetanan layaknya bermain di kandang sendiri. Apalagi seratusan Aremania terus memberikan dukungan kepada tim kesayangannya. Sepanjang pertandingan mereka bernyanyi dan menari layaknya bermain di kandang Arema Stadion Kanjuruhan. Dengan dipandu dirijen Yuli Sumpil, para Aremania dari Malang dan Aremania Batavia itu tak henti-henti menyanyikan lagu-lagu heroik khas Arema.

Kemenangan perdana Arema itu tak lepas dari strategi pelatih Bambang ‘’Banur’’ Nurdiyansyah yang menerapkan permainan cepat dank eras. Arema yang memiliki tradisi tak pernah kalah dari Persita, bermain kesetanan sejak kick off. Duet lini depan double E – Emile Bertrand Mbamba dan Emaleu Serge – benar-benar menadi mimpi buruk bagi kiper Persita Wawan Darmawan.

Dua penyerang ini bergantian menciptakan peluang di depan gawang Wawan. Duet maut asal Kamerun ini langsung padu di lapangan, apalagi keduanya sudah kenal baik sejak di Kamerun. Dengan dua striker yang tajam itu, Arema banyak melakukan serangan dengan memanfaatkan lebar lapangan. Dua wing back, Alexander Pulalo dan Eric Setiawan melakukan tekanan melalui aksi overlappingnya. Umpan tarik dari sayap ini banyak menciptakan ancaman bagi gawang Persita.

Lini depan Arema semakin tajam dengan dukungan dari lini tengah. Di lini vital ini, Arema menempatkan empat pemain, Soulaimane Troure, Palah Benson, Fandy Mokhtar dan Arif Suyono. Dengan kekuatan ini, Arema praktis mengendalikan permainan sejak menit-menit awal. Pola serangan dari sayap yang dikembangkan Arema membuat lini belakang tim yang diasuh pelatih Agus Suparman itu kelabakan. Arif Suyono berperan besar dengan umpan-umpan dari sayap kepada Mbamba dan Serge. Kehadiran Benson yang baru bergabung semakin mengokohkan lini tengah Arema. Benson dan Troure menjadi pendobrak pertahanan Persita.

Sebenarnya Arema punya peluang untuk menambah gol, ketika menit 54 Mbamba mencetak gol memanfaatkan umpan Zulkifli. Sayang sontekan Mbamba yang bersarang di gawang Persita itu dianulir wasit Yandri karena menganggap Mbamba offside. Pemain bernomor punggung 22 itu sepertinya tak punya rasa lelah untuk terus menggedor pertahanan Persita. Dia harus rela turun sampai ke lapangan tengah untuk mencari bola ketika para gelandang Arema mulai turun ke bawah untuk memperkuat pertahanan. Pada menit-menit Persita mengintensifkan serangan untuk mengejar ketertinggalannya. Sebenarnya Persita memiliki beberapa peluang untuk menyamakan gol, tapi tiadanya striker yang andal menyebabkan serangan Persita mudah dipatahkan. Belum lagi penampilan M Yasir di bawah mistar Arema yang cukup gemilang mementahkan serangan Persita. (poy/nun)


Posted by: husnun | Juli 10, 2008

preview pertandingan Persita v Arema

Arema tanpa Benson, Persita Tanpa Pemain Asing  

BANDUNG – Skuad Arema terancam tidak dapat menurunkan kekuatan penuh saat dijamu Persita Tangerang di Stadion Jalak Harupat Soreang Bandung, besok malam.  Hal ini menyusul belum rampungnya Kartu Izin Tinggal Sementara (KITAS) di Indonesia milik Esaiah Pelo Benson. Padahal, kepemilikan KITAS itu adalah salah syarat pengesahan pemain asing dapat membela timnya.

 Kabar tersebut justru datang dari pelatih Arema, Bambang ‘Banur’ Nurdiansah. Dia menyebut, absennya Benson tentu sebuah hal yang kurang menguntungkan bagi skuad berjuluk Singo Edan di partai perdana.

Apalagi Benson digadang-gadang akan menjadi sosok playmaker yang bertugas mengatur permainan tim. Benson dinilai tidak hanya aktif menyerang namun juga bertahan.  

‘’KITAS Benson belum selesai. Mudah-mudahan, sebelum main lawan Persita, KITAS –nya selesai, dan segera mendapatkan pengesahan tampil membela Arema di Superliga oleh BLI (Badan Liga Indonesia , Red). Cukup disayangkan kalau Benson sampai absen,’’ ujar Banur kepada Malang Post, disela-sela menunggu bus yang akan membawa ke Bandung, kemarin.

Akibatnya, mantan pelatih timnas U-23 2007 tersebut harus mencari pemain alternatif yang nantinya diposisikan sebagai playmaker. Banur menyebut, pihaknya sudah mengantongi tiga nama untuk mengisi posisi itu. Yakni Ronny Firmansyah, M Bachtiar dan Ahmad Sambiring. Mereka juga tergabung dalam rombongan tim di lawatan ke Bandung.

Dia berharap, trio gelandang lokal Arema ini dapat menjalankan perannya sebagai playmaker. Yakni, mereka tidak hanya rajin membantu rekan setim dalam membangun serangan, melainkan juga aktif turun ikut menggalang pertahanan tim. Dengan demikian, lini tengah Arema juga tidak sampai kedodoran ketika menghadapi gempuran lini tengah Persita.

‘’Kalau Benson sampai nggak main, kita siapkan tiga gelandang lokal alternatif sebagai playmaker. Bisa, turunkan Ronny Firmansyah, Ahmad Sambiring dan Bachtiar. Mudah-mudahan seluruh pemain Arema mendapatkan pengesahan tampil. Jadi Arema bisa tampil full team lawan Persita nanti,’’ pungkas Banur sembari berharap.

 Hal yang tak kalah seru juga terjadi pada calon lawan Arema, Persita. Bahkan tim berjuluk Pendekar Cisadane ini terancam tidak bisa menurunkan semua pemain asingnya. Michael Adolfo Souza, Casimir Bruno,Christian Bakatal, Anthony Placide, dan Nicholas Djone. Alasannya sama, belum mendapatkan KITAS.

‘’Jika KITAS belum juga keluar hingga menjelang pertandingan lawan Arema, Persita akan mengoptimalkan pemain lokal,’’ kata Pelatih Persita, Agus Suparman.

Untuk mengantisipasi hal tersebut, Agus Suparman sudah mempersiapkan strategi dan alternatif posisi pemain yang dimainkan untuk menghadapi Arema.

Suparman menuturkan, pihaknya menerapkan skenario serangan cepat melalui umpan dari ke kaki sehingga anak asuhnya digenjot materi latihan umpan-umpan cepat untuk menusuk pertahanan dan membobol gawang lawan.

Pelatih yang juga mantan penyerang Persita tersebut menargetkan poin penuh pada laga perdana bentrok Arema Malang tersebut karena hitungannya pertandingan kandang. (malang post)

 

 

 

Posted by: husnun | Juli 8, 2008

bahasa walikan ngalam

 Repos Ugal-ugalan

Kana    : Maneh-maneh kecelakaan libom bes, enem gnaro itam

Ebes     : Ngono iku yo mergo repos sing sembrono jes

Kana    : Oyi bes, tapi kok kadit kapok-kapok yo, padahal korbane wis akeh

Ebes     : Sing jelas, kesadaran naati aturan lalu lintas sik rendah ditambah sikap kemanungsan sing kurang. Akibate, kadit mikir keselametan gnaro liyo. Akeh repos sing ugal-ugalan, menang-menangan. Mentang-mentang gowo libom gede, ngebut sak karepe dewe. Keselamatan gnaro liyo wis kadit dipikir. Korbane wis akeh, tapi sik kadit kapok-kapok.

 

Posted by: husnun | Juli 5, 2008

bahasa ngalaman

Halokes Disemprit

Kana    : Diknas nyemprit halokes negeri sing njaluk sumbangan kadit wajar

Ebes     : Ayas utujes jes, soal njaluk sumbangan kudu diatur, cikno kadit ugal-ugalan

Kana    : Sakno gnaro sing kadit duwe ojir, kadit osi entuk halokes sing kipa

Ebes     : Tapi masyarakat yo kudu itreng jes, lek halokes sing bermutu iku perlu biaya sing akeh. Pendidikan iku butuh biaya sing kadit titik.  Pemerintah kadit duwe ojir, makane ditanggung masyarakat. Sak jane kadit masalah, tapi ojok laham-laham, sing wajar ae. Pendidikane kana iku penting, gnaro kewut yo kudu gelem berkorban. 

Posted by: husnun | Juli 5, 2008

bahasa walikan khas malang

Ngenteni Wali Kota

Kana    : Masiyo kanae diterimo SBI, akeh gnaro kewut ngungib

Ebes     : Kenek opo kok ngungib jes, kudune lak malah seneng

Kana    : Soale durung itreng orip ngrayab sumbangane, mergo durung onok aturane

Ebes     : Aturane sing gawe wali kota, la sak iki wali kotane kadit onok, durung dipilih. Masiyo wis onok aturane wali kota, duduk jaminan lek sumbangane luwih murah. Sing jelas, kudu disiapno ojir sing akeh kanggo kanae sing ublem nang halokes SBI. Pokoke, lek kadit duwe ojir, ojok mikir osi halokes negeri sing kipa

Posted by: husnun | Juni 29, 2008

boso malangan

Pesawat Ceblok

Kana    : Dino iki jenazahe korban ceblok pesawat Casa dikubur ndik Ngalam bes

Ebes     : Ayas kolem sedih jes, soale almarhum iku gnaro terbaik

Kana    : Sing paling ayas sedih, kok sering se pesawat ceblok bes

Ebes     : Jenenge musibah jes, apais sing osi nebak, kadit onok. Awak dewe mek osi usaha, yak opo carane persiapan sing paling kipa sesuai prosedur ambek ojo lali dungo. Lek iku wis dilakoni, sik celoko, iku jenenge nasib. Sak iki sing penting, yak opo carane dikurangi kecelakaan pesawat, cikno kadit terlalu sering.

Posted by: husnun | Juni 29, 2008

Tambahan Koleksi Kartolo

 

SETENGAH hari Minggu kemarin, saya manfaatkan untuk istirahat. Bukan istirahat diam sama sekali di rumah atau duduk leyeh-leyeh minum teh sambil mendengar Perkutut manggung, tapi tetap ada kegiatan. Anak saya yang paling kecil sudah booking sejak jauh hari, nantang main badminton di Family Club Araya. Jadilah Minggu pagi itu kami sekeluarga ditambah  gengnya  Si Ragil ‘’boyongan’’ ke Araya. Acara tepok bulu ayam berlangsung gayeng, bak final Thomas Cup dan Uber Cup.

 Habis badminton, kami mengisi perut di Bakso Kuto Cak Ji di Jalan Sulfat. Itu semua sudah cukup sebagai pengantar tidur siang yang sangat nyenyak. Sebelum benar-benar istirahat, ada beberapa teman main tenis yang datang minta Lele. Lo, kok lele ? Ya, teman-teman main tenis mau menggelar acara nonton bareng final Euro 2008 di lapangan tenis. Sebelum menyaksikan partai final yang sangat seru antara Jerman versis Spanyol, para penggiat tenis di kampung itu akan menggelar nonton bareng pertandingan Wimbledon melalui layar lebar.

 Acara nonton bareng ini diisi makan-makan dengan menu Lele. Kebetulan tanah bekas Taman Toga yang mangkrak saya manfaatkan untuk membuat kolam Lele. Setelah dua bulan lebih, lele itu sudah siap untuk dipanen, tapi saya biarkan saja. Entah berapa ekor yang dijaring untuk pesta Lele menyambut final Euro 2008 itu.

 Istirahat saya siang itu agak sedikit terganggu, karena sebelumnya ada sebuah momen yang terlewatkan. Seorang teman saya dari Surabaya -  Rohman Budijanto -   datang untuk menemui saya di kantor pada tengah hari, tapi karena pada saat itu kantor masih tutup, dia harus kembali. Tapi sebelum pulang dia menitipkan oleh-oleh special untuk saya yang dititipkan pada Satpam yang jaga di kantor sebelah.

 Oleh-oleh apa sih yang dibawa Pemred Jawa Pos itu ? Sebuah gift yang sangat berharga, sebuah CD MP3 berisi cerita Ludruk Kartolo CS. Sudah lama saya ingin mengoleksi Ludruk Kartolo ini sejak masih dalam format kaset – satu kaset satu cerita – produksi Nirwana Record di Jalan Genteng Kali Surabaya itu. Tapi barang itu sudah langka, karena sudah semakin jarang yang menjual kaset. Maka ketika Cak Roy – panggilan akrab Rochman – menyanggupi untuk mengirim CD itu, saya merasa senang sekali. Tapi saya sama sekali tidak menduga kalau orang nomor satu di jajaran redaksi Jawa Pos itu mengantarkan sendiri CD idaman saya. ‘’Sambil ngantar anak-anak liburan ke Malang,’’ katanya.

 Maka, hari-hari saya yang akan datang akan diwarnai gelak tawa mendengar banyolan Kartolo and his Gang yang terdiri dari Ning Tini, Sapari, Basman (almarhum), Munawar, Sokran dan beberapa gust star peludruk kondang masa lalu. Guyonan Kartolo CS berisi cerita sehari-hari yang dikemas melalui bahasa Suroboyoan yang bloko sutho, terbuka bahkan terkadang kasar. Di balik itu, unsur lawak mendominasi, karena para pemeran dalam cerita itu adalah para dagelan Ludruk yang memiliki jam terbang yang tinggi.

 Di jaman yang keras seperti ini, lawakan Kartolo Cs dibutuhkan untuk melemaskan syaraf yang tegang akibat kerja sehari-hari. Kerja dan perilaku orang modern sangat mudah menimbulkan ketegangan jiwa. Senyum, apalagi tawa ngakak, menjadi barang yang sangat mahal. Sulit menemukan senyum diantara kesibukan manusia modern yang egois dan materialistis.

 Dampak kehidupan modern yang cenderung asosial itu membuat banyak pelakunya tertimpa stress, karena merasakan tekanan hidup yang sangat berat. Yang ada hanyalah kerja, kerja, kerja dan kerja untuk mendapatkan uang, uang dan uang. Manusia modern telah menempatkan uang sebagai Tuhan yang harus disembah dan dihormati. Tak heran bila banyak manusia modern yang konon pintar dan cerdas itu justru menjadi budak uang. Budak itu kemudian berlaku adigang, adigung, adiguno, sopo siro sopo ingsung yang mengabaikan hubungan kemanusiaan.

 Tak ada kesempatan untuk berinteraksi dengan sesama manusia dalam suasana yang santai atau sedikit guyonan. Jangan heran bila penyakit fisik dan psikis yang parah banyak menyerang manusia modern. Mereka tidak memiliki kesempatan untuk menghibur diri meskipun untuk sekedar tersenyum atau tertawa. Padahal sekali senyum mampu mengendurkan syaraf yang membuat pembulu darah menjadi lentur dan terbuka. Belum lagi tertawa ngakak setelah mendengar banyolan Kartolo, Munawar, Sapari atau Neng Tini.

 Kalau itu bisa dilakukan, hidup akan terasa nikmat dan tentu saja lebih sehat dan awet muda. Tak percaya ? Lihat saja Kartolo. Sejak saya remaja dan sekolah di Surabaya sampai saat ini, rasanya wajah Kartolo tetap seperti itu, selalu mengumbar senyum dengan hiasan kumis tebal, gambaran kepasrahan hidup yang dibalut optimisme. Klompen kecemplung timbo, cekap semanten atur kulo. Saya mau dengarkan Kartolo dulu.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Older Posts »

Kategori